Connect with us

Industri

Masih Bervariasi, Harga Gas Masih Jauh Dari Target

Published

on

Zonaekonomi.com, Jakarta – Gas murah yang dapat diharapkan mendukung perkembangan sektor industri masih jauh dari kenyataan. Kendati kebutuhan sudah mendesak, saat ini pemerintah masih dalam tahap mengkaji berbagai skenario untuk mewujudkan hal tersebut.

Harga gas di dalam negeri saat ini bervariasi, namun rata-rata masih jauh di atas target yang diharapkan sebesar USD5-6 per mmbtu. Sementara, di sejumlah negara tetangga, harga gas hanya mencapai USD4 per mmbtu.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, kajian yang tengah dilakukan pemerintah sangat penting untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan mahalnya harga gas di dalam negeri.

“Kita perlu tahu apa yang kita punya dan rencanakan, apa yang bisa kita lakukan di jangka pendek dan menengah. Itu yang relevan untuk saat ini,” ujar Darmin di Jakarta.

Darmin menyebut, harga gas antara lain ditentukan oleh biaya pembelian gas di hulu yaitu capital expenditure (capex) dan operational expenditure (opex).

Dalam jangka pendek, pemerintah masih menganalisa struktur harga di hulu. “Setelah urusan hulu, baru kita bicara soal margin trader, toll fee dan sebagainya, yang ada di sektor hilir,” kata dia.

Sementara, Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto menegaskan bahwa pihaknya membutuhkan solusi cepat untuk membangkitkan kembali performa industri dalam beberapa tahun ke depan.

Dia mengatakan, apabila harga gas di atas USD6 per mmbtu, maka industri petrokimia tidak bisa dibangun. “Realitas-realitas ini yang harus kita hadapi di tengah-tengah kewajiban membangun kembali industri. Tidak ada jalan lain selain mengurangi harga gas,” tegas Airlangga.

Sedang, Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, salah satu skenario untuk menurunkan harga gas adalah dengan memperbaiki perencanaan distribusi gas. “Kita juga perlu lihat, ternyata planning mengenai distribusi gas kita belum menyeluruh. Itu harus dibenahi,” tuturnya.

Di bagian lain, dalam keterangan tertulis Sekretariat Kabinet, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai, harga gas bumi di Indonesia sangat tinggi dan harus segera ditekan. Sebagai perbandingan, harga gas di Indonesia tertinggi mencapai USD9,5 per mmbtu, bahkan USD11-12 per mmbtu.

Sementara, harga gas di Vietnam hanya USD7 per mmbtu, Malaysia USD4 per mmbtu, dan Singapura USD4 per mmbtu. Padahal, lanjut Presiden, Indonesia mempunyai potensi cadangan gas yang cukup banyak. Sebaliknya, negara-negara tetangga, baik Vietnam, Malaysia, dan Singapura dapat dikategorikan sebagai pengimpor gas bumi.

Oleh sebab itu, Presiden meminta agar harga gas segera dibenahi karena implikasinya sangat besar pada kemampuan daya saing industri, terutama industri keramik, industri tekstil, industri petrokimia, industri pupuk, industri baja, industri makanan dan minuman, industri alas kaki dan sarung tangan, juga industri kertas dan bubur kayu.

“Jangan sampai produk industri kita kalah bersaing hanya gara-gara masalah harga gas kita yang terlalu mahal,” kata Presiden Jokowi saat memimpin rapat terbatas mengenai Kebijakan Penetapan Harga Gas untuk Industri, di Kantor Presiden, Jakarta.

Presiden pun meminta dilakukan langkah-langkah yang konkret agar harga gas bisa lebih kompetitif. Dalam hitungannya, Presiden menargetkan harga gas dalam negeri bisa ditekan hingga USD5-6 per mmbtu. “Kalau enggak, angkanya itu enggak usah dihitung saja. Syukur bisa di bawah itu,” tegas Presiden.

Presiden pun memerintahkan dilakukannya penyederhanaan dan pemangkasan rantai pasok sehingga lebih efisien. Namun, Presiden juga meminta agar harga gas tetap memperhatikan iklim investasi di sektor gas bumi.

“Harga gas harus tetap menarik investor untuk investasi di sektor hulu serta mendukung pembangunan infrastruktur transmisi dan distribusi. Pertimbangkan pula aspek keberlanjutan di semua sisi, baik sisi investasi maupun sisi memperkuat daya saing industri kita,” tutur Presiden.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, rencana penurunan harga gas untuk industri dapat memberi dampak keuntungan ekonomis bagi Indonesia sebesar Rp31 triliun per tahun.

Penyesuaian harga gas untuk industri juga akan memberikan efek ganda bagi peningkatan daya saing industri dalam negeri dan dapat mengurangi ketergantungan bahan baku impor bagi sejumlah industri karena dapat memproduksinya sendiri di dalam negeri.

Rencananya, setelah sejumlah kementerian mendapatkan harga gas yang sesuai pada November 2016, pemerintah berencana memberlakukan harga baru gas untuk industri secara efektif pada awal 2017. (mae/fkb/res)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Industri

Menperin Optimistis Industri 4.0 Dorong Revitalisasi Manufaktur

Published

on

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto optimistis bahwa pelaksanaan Making Indonesia 4.0 mampu mendorong perbaikan dan revitalisasi sektor manufaktur nasional.

“Industri 4.0 membuka kesempatan untuk merevitalisasi sektor manufaktur lewat percepatan inovasi, penciptaan nilai tambah, serta peningkatan produksi, kualitas dan efisiensi,” ujar Airlangga melalui keterangannya diterima di Jakarta, Selasa (16/10/2018).

Untuk penerapan awalnya, peta jalan tersebut berfokus pada lima sektor manufaktur, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronika.

“Kelima sektor industri itu telah berkontribusi sebesar 60 persen untuk PDB, kemudian menyumbang 65 persen terhadap total ekspor, dan 60 persen tenaga kerja industri ada di lima sektor tersebut,” imbuhnya.

Menurut Menperin, efisiensi operasional di sektor industri akan membuka potensi pada pertumbuhan produktivitas.

“Untuk memanfaatkan peluang ini, perlu didukung dengan penggunaan teknologi terkini dalam proses produksi,” tuturnya.

Adapun lima teknologi utama yang menopang implementasi industri 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing. Penguasaan teknologi tersebut menjadi penentu daya saing industri.

Di era digital, aktivitas sektor manufaktur tidak lagi sekadar melibatkan mesin dalam proses produksinya. Saat ini, beberapa pabrikan sudah melompat lebih jauh, yakni memadukan dengan internet of things (IoT) atau kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang menjadi ciri dari industri 4.0.

“Oleh karena itu, untuk mendukungnya, diperlukan jaringan internet dengan kecepatan tinggi, teknologi cloud, data center, security management dan infrastruktur broadband,” sebut Airlangga.

Saat ini yang sudah dilakukan oleh pemerintah setelah meluncurkan Making Indonesia 4.0, antara lain memacu investasi untuk meningkatkan kapabilitas manufaktur dan pembangunan infrastruktur digital, mengikutsertaan industri kecil dan menengah (IKM) serta mendorong pembangunan pusat teknologi dan inovasi.

Pemerintah juga mengambil langkah strategis untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten sesuai kebutuhan industri dan membangun teknologi digital melalui program pendidikan vokasi.

“Kami sudah luncurkan mulai dari tingkat SMK hingga politeknik lewat program link and match dengan industri,” jelasnya.

Melalui Making Indonesia 4.0, Airlangga memapakan, Indonesia juga berupaya mereformasi kurikulum pendidikan, melibatkan industri melalui program silver expert, dan memberikan fasilitas insentif fiskal. (spg)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Industri

Menperin : Industri 4.0 Jadikan Indonesia 10 Terbesar Dunia

Published

on

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa dengan industri 4.0, Indonesia ditargetkan menjadi bagian dari 10 negara dengan perekonomian terbesar di dunia pada 2030.

“Guna mencapai target tersebut, Indonesia telah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 sebagai strategi menerapkan revolusi industri generasi keempat,” kata Airlangga melalui keterangannya diterima di Jakarta, Selasa (16/10/2018).

Selain itu, lanjutnya, revolusi industri 4.0 juga memberikan arah jelas bagi pengembangan industri nasional yang berdaya saing global di masa depan.

Airlangga menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara pada diskusi panel Industrial Transformation Asia-Pacific (ITAP) 2018 di Singapura.

Dia memaparkan, hal tersebut ditopang melalui peningkatan kembali nett ekspor 10 persen kepada PDB, peningkatan output sekaligus mengatur pengeluaran biaya hingga dua kali dari rasio produktivitas biaya saat ini, dan pengembangkan kapabilitas inovasi industri melalui alokasi anggaran 2 persen untuk kegiatan penelitian dan pengembangan.

Menurut Menperin, selama ini industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi signifikan bagi PDB Indonesia. “Industri manufaktur berperan penting menjadi tulang punggung perekonomian nasional, karena memberi efek yang luas bagi peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, penambahan pajak dan cukai, serta penerimaan devisa dari ekspor,” katanya.

Pada triwulan II tahun 2018, industri pengolahan nonmigas masih menunjukkan kinerja yang positif, dengan tumbuh hingga 4,41 persen atau lebih tinggi dibandingkan capaian di periode yang sama tahun lalu sebesar 3,93 persen.

Bahkan, sektor manufaktur menjadi kontributor terbesar bagi PDB nasional yang tercatat di angka 19,83 persen.

Riset terbaru yang dirilis oleh Microsoft dan IDC Asia/Pacific mengungkapkan, transformasi digital dapat melipatgandakan pendapatan di sektor manufaktur.

Ada tambahan sebesar 387 miliar dolar AS dalam kurun waktu lima tahun (2016-2021) pada produk domestik bruto (PDB) di kawasan Asia Pasifik, sehingga akan menjadi 8.399 triliun dolar AS pada 2021. Sementara merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), PDB Indonesia pada 2017 tercatat mencapai Rp13.588,8 triliun. Perolehan itu di atas Belanda, Turki, dan Swiss, sehingga mengukuhkan Indonesia sebagai negara dengan perekonomian terbesar di kawasan Asia Tenggara. (spg)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Industri

Ekspor Industri Pengolahan September 2018 Capai 10,88 Miliar Dolar

Published

on

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik, Yunita Rusanti.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Ekspor industri pengolahan mencapai 10,88 miliar dolar AS pada September 2018, turun 7,66 persen jika dibandingkan ekspor peride Agustus 2018. Namun dibandingkan September 2018 ekspor industri pengolahan meningkat 2,48 persen.

“Industri pengolahan berkontribusi paling besar dalam keseluruhan ekspor yakni 73,37 persen pada September 2018,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik Yunita Rusanti di Jakarta, Senin (15/10/2018).

Yunita menyampaikan, nilai total ekspor industri pengolahan September 2018 paling besar jika dibandingkan nilai ekspor migas sebesar 1,21 miliar dolar AS, pertanian 0,32 miliar dolar AS, serta pertambangan dan lainnya sebesar 2,42 miliar dolar AS.

Menurut data BPS, ekspor industri pengolahan September 2018 didominasi oleh industri makanan dengan nilai 2,63 miliar dolar AS, yang menurun tipis dibandingkan Agustus 2018 sebesar 2,65 miliar dolar AS.

Adapun dari sektor industri makanan, produk minyak kelapa sawit menempati ekspor terbesar, yakni 1,6 miliar dolar AS atau menurun sedikit 0,93 persen jika dibandingkan Agustus 2018 sebesar 1,61 miliar dolar AS.

Adapun negara tujuan ekspor terbesar untuk produk nonmigas September 2018 adalah Tiongkok, disusul Amerika Serikat dan Jepang.

Ketiganya memiliki pangsa ekspor nonmigas sebesar 36,18 persen. Sementara negara ASEAN memiliki pangsa 21,51 persen dan Uni Eropa 10,58 persen. (spg)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending