Connect with us

Kuliner

Cafe Old Town White Coffe Hadir di Phinisi Point Mall Makassar

Published

on

Zonaekonomi.com, Makassar – Satu lagi tempat nongkrong yang paling cozy dengan makanan khas Melayu hadir di Makassar, tepatnya di Phinisi Point Mall, kompleks Hotel The Reinra Makassar.

“Rencananya, pada Jumat (21/4/2017) bertepatan dengan Hari Kartini, cafe ini secara resmi dibuka untuk umum,” kata Business Development Manager PT Old Town Indonesia Lase Agusnur kepada media ini di Makassar, Kamis (20/4/2017).

Peresmian yang dilakukan pas Hari Kartini ini sangat istimewa karena pemilik franchise cafe ini juga para wanita yaitu ibu Merlyn, Yolanda, Stefanie, Elly, dan Imelda yang bergabung dalam PT Maju Bersama Sahabat.

Menurut Lase, Old Town White Coffee merupakan cafe yang memiliki ciri khas Malay food sehingga lebih berorientasi kepada makanan Melayu dan Oriental food.

Tempat ini merupakan salah satu cafe pilihan bagi para penggemar kuliner rasa Melayu yang cocok dengan selera Makassar. Hidangan yang disajikan, antara lain : nasi lemak, kaya butter toast, white coffe, teh tarik, dan sebagainya.

Lase menambahkan bahwa pihaknya mengharapkan dalam dua tahun, cafe ini bisa balik modal, karena lokasinya juga sangat strategis karena berada di mall kelas atas, dan di kompleks hotel terbaik di Makassar dengan view laut. (bud)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Kuliner

Asal Usul Munculnya Istilah “Teh”

Published

on

Teh baru dieja secara lisan sebagai "jia" pada Dinasti Han (206 SM - 220 SM). "Jia" memiliki arti "minuman dengan rasa pahit".

Zonaekonomi.com, Jakarta – Teh yang menjadi salah satu minuman pelepas dahaga sehari-hari ternyata memiliki asal usul yang panjang.

Pada dinasti Zhou (1115 Sebelum Masehi), teh sudah dikenal sebagai ramuan obat. Namun ketika itu minuman tersebut belum memiliki nama resmi.

Praktisi teh Prawoto Indarto menjelaskan teh baru dieja secara lisan sebagai “jia” pada Dinasti Han (206 SM – 220 SM). “Jia” memiliki arti “minuman dengan rasa pahit”.

“Pada masa itu, teh jadi minuman nasional di China,” kata Prawoto dalam diskusi “Cerita Teh Nusantara, Dulu dan Sekarang” di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta, Minggu (25/11/2018).

Ketika tiba masa Dinasti Tang, teh disebut sebagai “cha”. Saat itu, teh berkembang di biara Zen Budha, tempat pendeta Jepang belajar seputar teh. Mereka kemudian membawa tradisi teh ke Jepang.

Itulah mengapa sebutan “cha” untuk teh masih terus digunakan di Negeri Sakura. Contohnya, tradisi minum teh bangsa Jepang dikenal sebagai “Cha No Yu”.

Bangsa Eropa memiliki peran mempopulerkan istilah “teh” yang kini dikenal di Indonesia. Prawoto mengemukakan, “cha” dalam dialek Fujian dilafalkan sebagai Tey.

Istilah ini berubah menjadi “Tee” ketika bangsa Portugis datang ke sana, kemudian bangsa Inggris menyebutnya sebagai “tea”, bangsa Belanda melafalkannya menjadi “Thee” dan akhirnya disebut di Indonesia sebagai “Teh”.

Dari China, teh menyebar ke banyak tempat termasuk ke Indonesia yang kini memiliki 50 ragam teh. (nan)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending