Connect with us

Industri

Menteri Pertanian Kolombia akan Tingkatkan Kerjasama Bilateral

Published

on

Zonaekonomi.com, Kolombia – Duta Besar RI Bogota, Priyo Iswanto berrtemu dengan Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Republik Kolombia, Aurelio Iragorri Valencia, yang melakukan kunjungan kerja membahas kemajuan kerja sama serta peluang lainnya di bidang pertanian antara kedua negara di kantor KBRI Bogota, Selasa (25/7/2017).

Salah satu topik pembicaraan antara lain terkait kerja sama di bidang minyak kelapa sawit. Menteri Aurelio Iragorri menanggapi secara positif undangan Indonesia kepada Kolombia untuk menjadi anggota Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC).

“Kebijakan Uni Eropa untuk membatasi produk minyak kelapa sawit merupakan politik dagang yang berasal dari perusahaan-perusahaan minyak nabati selain minyak kelapa sawit untuk melindungi kepentingan bisnisnya,” demikian disampaikan oleh Menteri Aurelio Iragorri ketika Duta Besar Priyo Iswanto menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kolombia yang bersama dengan Indonesia menentang kebijakan diskriminatif Uni Eropa mengenai produk minyak kelapa sawit.

“Indonesia adalah produsen terbesar kelapa sawit di dunia dan telah berhasil membangun perekonomian kawasan pedesaan dengan kelapa sawit,” diakui oleh Menteri Aurelio Iragorri. Pengakuan tersebut dilatarbelakangi oleh kebijakan Pemerintah Kolombia yang ingin memajukan industri kelapa sawitnya untuk membangun kawasan pedesaan terutama daerah paska-konflik di Kolombia setelah Perjanjian Perdamaian bulan November 2016.

“Indonesia dan Kolombia memiliki peluang kerja sama yang belum mencerminkan potensi yang ada,” demikian tutur Priyo Iswanto ketika membahas peluang kerja sama antara kedua negara di bidang pertanian.

“Salah satu kerja sama yang ingin kita dorong adalah pertukaran spesies buah-buahan tropis, mengingat beberapa buah-buahan Kolombia tidak ada di Indonesia dan sebaliknya,” demikian Priyo. Beberapa buah-buahan tersebut seperti alpukat Hass asal Kolombia yang merupakan alpukat kualitas terbaik dan rambutan Indonesia yang belum ada di Kolombia dapat menjadi salah satu contoh kerja sama.

Terkait kerja sama bilateral kedua negara, Priyo Iswanto ingin mendorong landasan kerja sama bilateral yang telah ada dapat ditingkatkan lagi melalui konsultasi bilateral pada tingkat yang lebih tinggi dan memungkinkan Menteri Pertanian kedua negara untuk saling berkunjung. Menteri Pertanian Indonesia, Andi Amran Sulaiman, telah mengunjungi Kolombia pada saat menghadiri Forum Produsen Kopi Dunia di kota Medellin, 10-12 Juli 2017.

“Kami akan dorong sekiranya Menteri Aurelio Iragorri dapat mengunjungi Indonesia dalam waktu dekat untuk meningkatkan lagi kerja sama bilateral di bidang pertanian,” demikian ucapnya.

Selain itu, Menteri Aurelio Iragorri juga menyatakan bahwa Kolombia saat ini tengah melakukan upaya pengawasan yang lebih ketat terhadap ternak sapi Kolombia agar tidak terjadi lagi penyebaran virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kolombia.

“Peternakan sapi Kolombia yang fokus pada ekspor daging sapi hingga saat ini masih aman dari virus PMK, dikarenakan daerah yang terjangkiti virus PMK merupakan daerah peternakan yang memang tidak memiliki ijin untuk mengekspor ternak maupun daging sapi,” demikian disampaikan oleh Menteri Pertanian Kolombia. Pihaknya mengharapkan dalam jangka waktu 5 minggu, Kolombia dapat kembali meraih status bebas virus PMK.

Dalam konteks kerja sama bilateral RI-Kolombia di bidang pertanian, kedua negara telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Kerja Sama di bidang Pertanian di Bogota, 17 Februari 2015. MoU tersebut telah ditindaklanjuti dengan Pertemuan Para Ahli di Bidang Pertanian (Expert Group Meeting on Agriculture) yang telah dilakukan sebanyak dua kali: Pertemuan pertama di Bogor, 1 Juni 2015, dan Pertemuan kedua di Bogota, 27-29 Juli 2016. Pertemuan ketiga direncanakan akan dilakukan pada tahun ini di Indonesia.

Beberapa tema kerja sama pada Pertemuan Para Ahli tersebut antara lain: pertukaran genetika, pengetahuan, teknologi, peneliti, dan peraturan sanitasi kedua negara. Selain itu kerja sama tersebut juga fokus pada penelitian bersama, bantuan teknis, dan promosi bersama terkait kelapa sawit ISPO dan RSPO sebagai kampanye melawan black campaign minyak kelapa sawit yang dilakukan oleh beberapa negara maju. Potensi kerja sama kedua negara di produk pertanian antara lain: kelapa sawit, coklat, kopi, karet, gula tebu, dan ternak sapi.

Menteri Aurelio Iragorri Valencia merupakan salah satu politisi kuat dari koalisi pendukung Presiden Juan Manuel Santos. Karir di pemerintahan Kolombia dimulai ketika menjadi anggota delegasi Kolombia pada Perwakilan Tetap Kolombia di Perserikatan Bangsa-bangsa, New York pada tahun 1994-1996. Sementara karir politiknya dimulai ketika beliau ditunjuk menjadi Ketua Tim Kampanye Nasional Presiden Juan Manuel Santos pada tahun 2010.

Menteri Aurelio pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Dalam Negeri (2010-2011), Plt. Gubernur Magdalena (2010-2011), Plt. Gubernur Casanare (2011), Wakil Menteri Hubungan Politik (2012-2013), Penasihat Presiden Bidang Politik (2012-2013), Plt. Gubernur Valle del Cauca (2012), Sekretaris Jenderal Kantor Kepresidenan Kolombia (2013), Menteri Dalam Negeri (2013-2014), dan kini menjabat sebagai Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Kolombia sejak 19 Agustus 2014.(nwi)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Industri

Menteri BUMN Dorong Pemkab Batang Kembangkan Industri

Published

on

Menteri Badan Usaha Milik Negara, Rini Soemarno.

Zonaekonomi.com, Batang – Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno mendorong Pemerintah Kabupaten Batang mengembangkan industri di daerah itu karena dengan dibangun proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 2 X 1.000 megawatt akan memberikan pasokan listrik yang cukup bagi
perusahaan-perusahaan.

“Ini kesempatan besar bagi Kabupaten Batang untuk memanfaatkan supaya industri dapat berkembang karena pasokan listriknya cukup sekaligus memberikan peluang kesempatan tenaga kerja bagi warga di daerah,” katanya saat berkunjung ke proyek PLTU Kabupaten Batang, Selasa sore (4/12/2018).

Ia mengatakan proses pembangunan PLTU memang cukup berat karena tertahan banyak hal, seperti pembebasan tanah yang mengalami banyak penolakan warga.

“Sebenarnya proyek ini (PLTU, red.) sudah diproses jauh lama sebelum Bapak Presiden Joko Widodo memimpin. Akan tetapi karena saat itu (pembangunan PLTU, red.) banyak tertahan banyak hal maka Presiden berkunjung ke Jepang dan dilakukan penandatangan dengan Bhimasena Power Indoensia (BPI) dan J. Power untuk meneruskan pembangunannya (PLTU),” katanya.

Kendati demikian, kata dia, setelah melalui proses pembangunan yang cukup berat, progres pembangunannya cukup membanggakan, yaitu mencapai 63 persen.

“Kami menerima laporan dari Direktur (BPI) pada 2019, sebanyak 1.000 megawatt rencananya pada Oktober 2019 sudah bisa ‘testing’ (diujicobakan) operasional untuk Jawa dan Bali,” katanya.

Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Sofyan Basir mengatakan sesuai program Presiden Jokowi yang ingin menyediakan pasokan listrik 35 ribu megawatt, Kabupaten Batang salah satu daerah yang masuk pada program itu.

“Alhamdulillah progres PLTU Batang kini sudah mencapai 63 persen. Semoga pada 2020, (pasokan listrik, red.) 1.000 megawatt sudah masuk karena persiapan sudah jadi baik jetty dan transmisi. Karena itu, kita tidak perlu khawatir di Jawa akan kekuarangan pasokan listrik, pasti akan cukup” katanya.

Ia mengatakan untuk kebutuhan listrik di Jawa diperkirakan mencapai sekitar 13 ribu megawatt.

“Ke depan, pasokan listrik untuk di Jawa dan Bali, setelah pembangunan PLTU Batang selesai maka pasokan listrik dijamin cukup,” katanya. (kut)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Industri

Tetra Pak Indonesia Terapkan Industri 4.0

Published

on

Managing Director PT Tetra Pak Indonesia Paolo Maggi (kiri) bersama dengan Adhi S. Lukman Ketua Umum GAPMMI (kanan).

Zonaekonomi.com, Jakarta – Managing Director PT Tetra Pak Indonesia, Paolo Maggi mengatakan, perusahaannya telah mulai menerapkan industri 4.0 diawali dengan pemanfaatan teknologi digital dalam proses produksi.

“Kami mengawali dengan penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) dalam dunia yang terkoneksi satu dengan lainnya,” kata Paolo Maggi di Jakarta, Minggu (2/12/2018).

Melalui teknologi digital diharapkan dapat terciptanya pengembangan bisnis yang lebih berkelanjutan. Dengan demikian pelaku industri makanan minuman dapat merasakan peningkatan produktivitas, efisiensi bisnis, dan tentunya praktik bisnis yang mengedepankan tanggung jawab lingkungan,” jelasnya.

Paolo Maggi, mengatakan, Industri 4.0 yang tengah populer dan dianggap sebagai lompatan berikutnya dalam sejarah industri’ sangat terikat dengan semangat kami untuk mendorong bisnis pelaku industri makanan minuman Indonesia di masa depan.

Sedangkan Adhi S. Lukman, Ketua Umum GAPMMI menjelaskan berdasarkan observasi GAPMMI, tren pertumbuhan industri makanan minuman hingga akhir tahun dapat mencapai sekitar 8-9 persen karena didorong oleh sejumlah faktor seperti pertumbuhan makro ekonomi Indonesia masih bisa dipertahankan diatas 5 persen

Menurut dia, pertambahan penduduk yang setiap tahun mencapai diatas 4 juta; tren perubahan gaya hidup, terutama di perkotaan; sebagian industri pangan besar mulai berbenah menuju penerapan industri 4.0 untuk meningkatkan daya saing di pasar global; serta dukungan pemerintah melalui percepatan belanja konsumsi Pemerintah.

Ditambah lagi harapan tambahan belanja dalam masa kampanye Pilpres dan Legislatif menuju 2019. Terdapat beberapa tantangan yang sebaiknya terus diawasi oleh para pelaku industri makanan minuman saat beradaptasi dengan Industri 4.0 seperti kapasitas SDM yang masih rendah kompetensinya, kurangnya penyedia teknologi, infrastruktur koneksi yang belum memadai di banyak area, keamanan data, rendahnya dana inovasi, serta belum memadainya regulasi pendukung.

Menurutnya penting bagi para pelaku industri makanan minuman untuk terus melakukan inovasi produk, mengutiliasi strategi bisnis secara digital, serta mempertimbangkan dampak lingkungan yang mungkin tercipta akibat proses bisnis.

Guna mempersiapkan dan mempercepat implementasi roadmap ‘Making Indonesia 4.0’, terdapat sejumlah solusi bisnis utama yang telah disediakan oleh Tetra Pak Indonesia dalam membantu pelaku industri makanan minuman di masa depan. Sejumlah solusi bisnis utama tersebut adalah

Pemrosesan, layanan pemrosesan berbasis traceability mulai dari bahan baku hingga produk akhir di tangan konsumen yang terintegrasi dengan lini produksi melalui Tetra Pak PlantMaster, sebuah sistem kontrol total untuk memastikan adanya konsistensi hasil produksi dan terjaganya kualitas serta keahlian perusahaan dalam memproses produk minuman, keju, yogurt, es krim, kelapa, dan lainnya;

Pengemasan, solusi Dynamic QR Code yang dapat menyesuaikan secara mudah setiap promosi dan pemasaran para pelaku industri makanan minuman tanpa harus mengganti QR Code yang telah tercetak dalam kemasan produk; dan terakhir

Layanan Perbaikan dengan teknologi Microsoft HoloLens guna menghubungkan tim ahli Tetra Pak global dengan teknisi lokal untuk menangani kerusakan mesin secara cepat dan akurat. Teknologi Microsoft HoloLens memungkinkan teknisi ahli Tetra Pak Global untuk melakukan layanan perbaikan seperti kerusakan pada mesin pabrik secara virtual tanpa adanya kunjungan fisik di lokasi tertentu.

Lebih lanjut, Paolo Maggi menerangkan bahwa digitalisasi dan pertukaran data (big data) di pabrik dan keseluruhan lini produksi harus diperhatikan oleh pelaku industri makanan dan minuman agar dapat memenangkan persaingan masa depan. “Hal tersebut merupakan cara cerdas dalam penggunaan teknologi digital untuk melakukan efisiensi dan menekan biaya operasional di pabrik, serta meminimalkan downtime (kerusakan mesin) dan meningkatkan kualitas serta profitabilitas.”

Tetra Pak Indonesia juga menerapkan prinsip bisnis ekonomi melingkar (circular economy) dimana kemasan produk yang digunakan akan dikumpulkan, dipilah, disortir, dan diolah menjadi produk daur ulang yang memiliki nilai guna tambahan.

Secara global, Tetra Pak telah memiliki komitmen jangka panjang untuk mendaur ulang kemasan karton. Sedangkan di Indonesia, pada 2017 lebih dari 100 ribu atap dan partisi rumah telah dibuat dari bahan hasil daur ulang dari Kemasan karton Tetra Pak.

Produk daur ulang ini juga digunakan untuk membuat bahan furnitur dan kertas daur ulang. Dalam 2 tahun terakhir lebih dari 50.000 anak sekolah telah di edukasi mengenai pentingnya pemilahan dan daur ulang sampah kemasan. (gan)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Industri

Komoditas Udang Dinilai Paling Siap Hadapi Industri 4.0

Published

on

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengatakan udang menjadi salah satu komoditas perikanan budidaya yang paling siap dalam menghadapi industri 4.0.

“Saya melihat juga dari sisi investasi keuntungan, udang sudah sangat siap. Teknologinya, sarananya, peralatannya, saya lihat paling ‘complete’ di sana, begitu juga tata niaga dan pemasarannya,” kata Slamet usai menghadiri pembukaan Aquatic Asia & Indoaqua 2018 di Jakarta, Selasa (28/11/2018).

Slamet menjelaskan bahwa sejumlah tambak udang telah menerapkan praktik akuakultur yang baik dan berkelanjutan. Selain itu, tambak udang juga telah memenuhi sistem “biosecurity” atau standar bahwa komoditas tersebut terbebas dari penyakit tercemar.

Menurut dia, penerapan akuakultur atau praktik perikanan budidaya yang berkelanjutan menjadi bagian dari transformasi industri 4.0.

Selain udang, komoditas ekspor perikanan budidaya lainnya seperti kakap putih, kerapu dan rumput laut juga menjadi komoditas perikanan yang paling siap bertransformasi menuju industri 4.0.

“Transformasi bisnis akuakultur ke dalam bagian industri 4.0 diharapkan memberi solusi terbaik, khususnya dalam membangun sebuah sistem produksi yang lebih efisien dan terukur mulai dari aspek teknis, manajemen dan penguatan SDM hingga manajemen bisnisnya,” kata Slamet.

Ia menambahkan ada empat langkah untuk memperkuat daya saing sektor akuakultur dalam era industri 4.0. Pertama, penciptaan efesiensi dan nilai tambah melalui pembangunan mata rantai sistem produksi akuakultur berbasis teknologi informasi guna menjamin interkoneksi mata rantai bisnis dari hulu hingga hilir secara efisien. Dengan demikian, akan memicu terwujudnya distribusi nilai tambah yang berkeadilan khususnya antara pembudidaya dengan pelaku pasar yang sebelumnya justru nilai tambah banyak dirasakan oleh parapelaku di sektor hilir.

Kedua, terciptanya sistem logistik yang efisien. Ketersediaan database dan sistem informasi terkait input produksi seperti pakan dan benih menjadi penting. Melalui penerapan sistem informasi logistik di bidang akuakultur, maka akan lebih mudah bagi pelaku usaha dalam mendapatkan akses informasi secara cepat dan efisien karena adanya perbaikan tata kelola “supply and demand”. Sistem informasi logistik juga penting guna mewujudkan konektivitas input produksi tersebut dengan parapelaku akuakultur sebagai pengguna.

Ketiga, efesiensi proses produksi akuakultur. Penerapan teknologi informasi berbasis digitalisasi dan pemanfaatan internet harus terus diinisiasi dalam menciptakan proses produksi yang efisien, cepat dan terukur. Contohnya, terkait manajemen pakan, sistem monitoring kualitas air dan lingkungan serta “early warning system”.

Keempat, perbaikan sistem database bidang akuakultur. “Saatini KKP tengah melakukan perbaikan tata kelola database khususnya pelaku usaha akuakualtur,” kata Slamet.

KKP juga telah menerbitkan kartu KUSUKA yang penerbitannya menggunakan sistem aplikasi online dan telah diintegrasikan dengan aplikasi satu data kelautan dan perikanan, aplikasi ketelusuran sistem jaminan mutu dan keamanan pangan (CPIB, CBIB, CPPIB) dan aplikasi satu kode digitalisasi pelaku industri oleh BPS yang memungkinkan untuk dapat diakses oleh sektor terkait. (mdg)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending