Connect with us

Finansial

BI : Sistem Layanan Informasi Keuangan Ditangani OJK

Published

on

Zonaekonomi.com, Kendari – Pelaporan Sistim Informasi Debitur (SDI) yang selama ini ditangani Bank Indonesia (BI) terkait sistim informasi perkreditan, kini pengalihan fungsi dan pengaturannya menjadi Sistim Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang sudah ditanangi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kendari, Sulawesi Tenggara Minot Purwahono, Rabu mengatakan, pengalihan fungsi dan wewenang terhadap SDI ke SLIK yang dibawa kendali OJK resmi dilakukan pada 29 Desember 2017 di Jakarta oleh Deputi Gubernur BI, Erwin Rijanto dan Dewan Komisioner OJK Riswinandi.

Hal tersebut disampaikan Monot kepada sejumlah wartawan pada rangkaian konfrensi pers di kantor OJK Kendari dalam rangka sosialisasi terkait Pengalihan Fungsi Pengaturan Pengembangan dan Pengelolaan Sistim Informasi Perkreditan BI kepada OJK yang dihadiri Plt. Kepala OJK Kendari Sultra, Mohamad Fredly Nasution.

Ia mengatakan, BI mengalihkan fungsi pengaturan, pengembangan dan pengelolaan Sistem Informasi Perkreditan kepada OJK sesuai amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.

Dikatakan Monot, pengalihan fungsi pengaturan, pengembangan dan pengelolaan sistem informasi perkreditan telah melalui masa transisi sejak 31 Desember 2013, dengan berjalannya pelaporan SID yang dikelola BI dan SLIK yang dikelola OJK secara paralel selama periode April-Desember 2017.

“Selama masa transisi tersebut, BI dan OJK telah melakukan koordinasi yang sangat baik, khususnya dalam penyempurnaan ketentuan dan pengelolaan SID serta penyusunan pengaturan dan pengembangan SLIK OJK,” ujarnya.

Dengan pengalihan fungsi tersebut, BI menghentikan operasional dan layanan SID kepada seluruh pelapor SID dan masyarakat sejak 31 Desember 2017. Selanjutnya, pengelolaan sistem informasi perkreditan hanya dilaksanakan oleh OJK melalui SLIK yang akan diimplementasikan secara penuh mulai 1 Januari 2018.

Sementara itu Kepala OJK Kendari, Mohamad Fredly Nasution mengatakan, SLIK merupakan salah satu infrastruktur yang sangat penting di sektor jasa keuangan yang dapat digunakan oleh pelaku industri untuk mitigasi risiko, khususnya risiko kredit sehingga dapat membantu menurunkan tingkat risiko kredit bermasalah.

“Jadi tujuan dari SLIK itu adalah untuk stabilitas sistim keuangan. Artinya kalau selama ini SDI yang penanganannya oleh BI maka dengan SLIK itu diharapkan akan lebih baik lagi,” ujarnya.

Fredly Nasution mengharapkan kepada seluruh media massa di Kendari dan Sultra pada umumnya untuk membantu menyebarluaskan informasi terkait peraliahan layanan akses informasi masyarakat terhadap informasi debitur dari SDI Bank Indonesia menjadi SLIK yang ditangani OJK.

“Untuk mempermudah informasi masyarakat terhadap fungsi dan wewenang dari SLIK di OJK, maka masyarakat bisa membuka coll centre 157,” tutupnya. (azs)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Finansial

BI Sebut Nilai Rupiah Sudah Stabil

Published

on

Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Otoritas moneter Bank Indonesia menyebutkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini sudah stabil dan bergerak sesuai mekanisme pasar.

Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Jumat (19/10/2018), mengatakan nilai rupiah sudah stabil saat ini, ketika kurs rupiah bergerak di kisaran Rp15.200 per dolar AS.

“Kondisi nilai tukar tetap stabil, pasokan dan permintaan di pasar berjalan baik, mekanisme pasar bergerak secara baik,” kata Perry.

Kurs refrensi Jakarta Interbank Spot Dolar AS Rate (Jisdor) yang diumumkan di laman BI, Jumat, menunjukkan rupiah berada di Rp15.221 per dolar AS.

Perry mengatakan kondisi nilai tukar rupiah saat ini menunjukkan kepercayaan pelaku pasar termasuk investor global terhadap kondisi perekonomian domestik.

“Perkembangan global dari hari ke hari ada berita baru, wajar kalau pergerakan nilai tukar rupiah merespons,” ujarnya.

Pergerakkan nilai tukar rupiah setelah menembus level Rp15 ribu per dolar AS relatif stabil dengan tingkat volatilitas yang tidak terlalu dalam.

Sementara, kalangan ekonom menyebutkan nilai tukar rupiah yang sudah berada di kisaran Rp15.000-an per dolar AS merupakan titik keseimbangan (ekuilibrium) baru yang mencerminkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Ekonom Agustinus Prasetyantoko meyakini rupiah akan sulit kembali menguat dari level saat ini mengingat ketidakpastian ekonomi global diperkirakan masih akan berlanjut yang menyebabkan pengetatan likuiditas global.

“Dengan pasokan dan likuiditas yang terbatas, kita tidak akan kembali ke Rp13.000 atau Rp14.000. Rp15.000 inilah titik keseimbangan baru buat rupiah kita,” ujar Agustinus yang juga Rektor Universitas Katolik Atma Jaya itu pada Rabu (17/10).

Untuk mengurangi dampak ketidakpastian ekonomi global di sisa tahun, perbankan memprediksi Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate satu kali lagi tahun ini menjadi enam persen, setelah lima kali kenaikan sepanjang tahun.

“Bunga Acuan BI masih akan naik lagi sebesar 25 basis poin,” kata Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman Arif Arianto, Rabu (17/10/2018). (iap)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Finansial

BI Perkirakan Inflasi Oktober 0,12 Persen karena Harga BBM

Published

on

Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Bank Indonesia (BI) memerkirakan inflasi bulanan Oktober 2018 sebesar 0,12 persen atau meningkat dibanding September 2018 karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi seri Pertamax.

Meskipun naik dibanding September 2018, Bank Sentral melihat laju inflasi hingga Oktober 2018 masih rendah dan terkendali sesuai sasaran, sehingga akhir tahun inflasi tahunan akan akan di bawah 3,5 persen, kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Jumat (19/10/2018).

“Perkiraan ini mengkonfrimasi perkiraan sebelumnya bahwa di akhir tahun secara keseluruhan 2018 akan berada di bawah 3,5 persen,” kata Perry.

Kenaikan harga BBM non-subsidi pertengahan Oktober 2018 ini menyumbang inflasi sebesar 0,02 persen. Selain harga BBM, inflasi juga dipengaruhi oleh kenaikan harga pangan cabai merah.

Di sisi lain, harga bahan pangan lainnya seperti bawang merah dan daging ayam ras masih deflasi.

Jika perkiraan Bank Sentral terbukti bahwa inflasi bulanan Oktober 2018 akan sebesar 0,12 persen, maka inflasi tahunan di bulan kesepuluh ini adalah 3,0 persen.

Otoritas moneter memiliki proyeksi inflasi tahunan hingga akhir tahun akan sebesar 3,4 persen.

“Inflasi masih terkendali, tetap rendah. Akhir tahun ini akan di bawah 3,5 persen,” ujar Perry.

Meskipun inflasi di bulan kesepuluh terbilang rendah, terjadi tekanan pada pergerakkan harga dibanding September 2018. Pada bulan lalu, terjadi inflasi minus atau deflasi sebesar 0,18 persen.

BI akan menggelar Rapat Dewan Gubernur Oktober 2018 pada 22-23 Oktober mendatang. (iap)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Finansial

Merespons Kebijakan Insentif Pajak, Rupiah Menguat

Published

on

Rupiah bergerak menguat sebesar 22 poin menjadi Rp15.191.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi (19/10/2018), bergerak menguat sebesar 22 poin menjadi Rp15.191 dibandingkan posisi sebelumnya Rp15.213 per dolar AS.

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada di Jakarta, Jumat (19/10/2018), mengatakan pelaku pasar merespons positif kebijakan pemerintah yang memberikan fasilitas insentif perpajakan.

“Pemerintah memberikan insentif kepada pelaku usaha, diharapkan berdampak signifikan kepada peningkatan kegiatan perekonomian,” katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, apresiasi rupiah juga memfaktorkan teknikal dimana sebagian pelaku pasar memanfaatkan posisi dolar AS yang telah tinggi untuk ambil untung.

Kendati demikian, lanjut dia, apresiasi rupiah diproyeksikan relatif terbatas menyusul kuatnya ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga AS.
“Kenaikan rupiah relatif masih rapuh seiring dengan dirilisnya hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada September lalu, yang mengindikasikan kenaikan lanjutan dari suku bunga The Fed,” katanya.

Kepala Riset Monex Investondo Futures, Ariston Tjendra menambahkan hasil pertemuan the Fed yang bernada hawkish terhadap kenaikan suku bunga mash membayangi pergerakan rupiah.

“Pergerakan dolar AS masih cukup solid pasca pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang hawkish terhadap suku bunga the Fed,” katanya. (zub)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending