Connect with us

Finansial

BPD Bali Dodorong OJK Optimalkan KUR Produktif

Published

on

Zonaekonomi.com, Denpasar – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali mengoptimalkan penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) ke sektor produktif untuk lebih menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Kami berharap KUR sektor produktif mencapai 65 persen tahun ini,” kata Kepala OJK Regional Bali dan Nusa Tenggara Hizbullah setelah menghadiri rapat koordinasi KUR di BPD Bali, Denpasar, Rabu (17/1/2018).

Menurut dia, sebagian besar penyaluran kredit perbankan di Tanah Air termasuk BPD diserap sektor konsumtif dibandingkan sektor produktif.

Untuk itu dengan suku bunga kredit hanya tujuh persen, perbankan diharapkan maksimal menggarap KUR untuk sektor produktif.

Ia mengatakan realisasi KUR sektor produktif di BPD Bali pada 2017 mencapai 42 persen atau jauh di atas rata-rata nasional yang hanya mencapai 29 persen.

Meski demikian, potensi untuk meningkatkan porsi penyaluran kredit sektor produktif di bank milik masyarakat Bali itu masih terbuka lebar.

“Penyaluran KUR sektor produktif BPD Bali sudah di atas nasional dan tergolong bagus, namun kami harapkan bisa lebih dari itu atau minimal 65 persen,” ucapnya.

Sementara itu Pelaksana Tugas Direksi Bank BPD Bali I Ketut Nurcahya mengatakan pihaknya menargetkan realisasi KUR tahun ini mencapai Rp308 miliar dengan porsi sektor mikro Rp18 miliar dan kecil mencapai Rp290 miliar.

Ia optimistis alokasi KUR tersebut dapat terealisasi 100 persen dengan mengoptimalkan sumber daya manusia di bank itu termasuk menggandeng seluruh organisasi perangkat daerah di kabupaten dan kota di Bali.

Kantor cabang, seperti dikutip Antara juga diharapkan maksimal berinisiatif untuk menyalurkan KUR tepat sasaran dan melakukan pendekatan langsung “jemput bola”. (dwg)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Finansial

BI : Cadangan Devisa Sangat Cukup, Tahan Modal Keluar

Published

on

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo .

Zonaekonomi.com, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan cadangan devisa Indonesia saat ini masih sangat mencukupi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, sehingga mampu meyakinkan investor global untuk tidak melarikan modalnya dari pasar keuangan domestik (capital reverseal).

Usai menaikkan suku bunga acuan “7-Day Reverse Repo Rate” menjadi 5,5 persen di Jakarta, Rabu (15/8/2018), Perry juga mengatakan bank sentral belum melirik opsi untuk memanfaatkan fasilitas bilateral maupun multilateral, seperti perjanjian pertukaran mata uang, guna mengendalikan tekanan yang menerpa nilai tukar rupiah.

Opsi fasilitas bilateral maupun multilateral seperti perjanjian pertukaran mata uang merupakan garis kedua pertahanan ekonomi sebuah negara (second line of defense) untuk menghadapi gejolak perekonomian.

“Cadangan devisa cukup dalam arti bukan hanya membiayai impor dan utang. Tapi mitigasi kemungkinan capital reversal,” kata Perry.

Cadangan devisa, menurut data BI, memang terus menunjukkan penurunan sejak awal Januari 2018. Di akhir Januari 2018, cadangan devisa sebesar 131,9 miliar dolar AS dan menurun menjadi 118,3 miliar dolar AS di akhir Juli 2018.

Sebagian cadangan devisa tersebut digunakan untuk intervensi pasar saat nilai tukar rupiah tertekan. Sejak awal tahun hingga Agustus 2018 ini rupiah sudah terdepresiasi 7,04 persen.

Di pertengahan Agustus 2018 ini, otoritas moneter menaikkan suku bunga acuannya menjadi 5,5 persen, sebuah langkah yang di luar ekspetasi mayoritas analis.

Baca juga: Perbaiki transaksi berjalan, BI naikkan bunga acuan
Baca juga: Kurangi tekanan rupiah, BI minta korporasi tidak borong valas

Kenaikan suku bunga yang melengkapi pengetatan kebijakan moneter sebanyak 125 basis poin sepanjang tahun ini di tengah kekhawatiran efek krisis keuangan di Turki, ekspetasi kenaikan bunga Bank Sentral AS Federal Reserve di September 2018, dan membesarnya defisit transaksi berjalan.

Suku bunga acuan yang meningkat diharapkan dapat mengendalikan permintaan impor sehingga defisit transaksi berjalan dapat mengecil dan menghemat devisa yang digunakan untuk membayar impor. (iap)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Finansial

Perkuat Rupiah, Kadin Fasilitasi Pertemuan Pemerintah-Pengusaha

Published

on

Ketua Kadin Indonesia, Rosan Roeslani.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Sebagai upaya untuk memperkuat serta menstabilkan nilai tukar rupiah, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia akan memfasilitasi pertemuan lanjutan antara pemerintah dan pelaku usaha.

Ketua Kadin Indonesia Rosan Roeslani dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu malam (15/8/2018), mengatakan pertemuan tersebut akan dimulai minggu depan dan dilakukan secara satu per satu.

Rosan menjelaskan bahwa pelaku usaha yang diutamakan dalam pertemuan lanjutan tersebut adalah pengusaha dari sektor pertambangan, minyak dan gas, serta komoditas.

Ia mengatakan bahwa pelaku usaha dari sektor pertambangan akan menjadi pertimbangan utama.

“Sektor batubara untuk menaikkan produksi sampai 40-50 juta ton itu bisa dilakukan segera karena infrastrukturnya sudah ada. Perusahaan batubara juga sudah menyanggupi,” ujar Rosan.

Pertemuan antara pelaku usaha dan pemerintah dilakukan secara one-on-one karena setiap pengusaha mempunyai karakteristik yang berbeda- beda, sehingga penyelesaian masalahnya juga memiliki perbedaan.

“Ini sejalan dengan arahan Presiden bahwa ada pertemuan reguler, sehingga semua isu bisa ditanggapi dengan cepat dan implementasinya bisa dijalankan,” kata Rosan. (vin)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Finansial

Perbaiki Transaksi Berjalan, BI Naikkan Bunga Acuan

Published

on

Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan “7-Day Reverse Repo Rate” 0,25 persen menjadi 5,5 persen untuk mengurangi defisit neraca transaksi berjalan dan menarik modal asing dengan harapan meningkatkan daya tarik aset rupiah.

“Kami ingin turunkan defisit neraca transaksi berjalan ke tingkat lebih rendah lagi. Jelas di bawah tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir tahun,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (15/8/2018).

Defisit neraca transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II/2018 naik menjadi 8,0 miliar dolar AS atau menyentuh tiga persen dari PDB. Defisit itu melebar dibandingkan defisit kuartal I 2018 sebesar 5,7 miliar dolar AS atau 2,2 persen PDB.

Transaksi berjalan merekam arus dana atau pembayaran dari dalam ke luar negeri, maupun sebaliknya. Sebagai gambaran, jika neraca transaksi berjalan defisit, maka devisa dari dalam negeri lebih banyak yang mengalir ke luar. Hal itu menimbulkan persepsi kepada investor bahwa aset-aset rupiah kurang begitu aman, karena devisa yang keluar lebih banyak dibanding yang masuk.

Namun, Perry mengatakan, defisit transaksi berjalan yang meningkat di kuartal II karena aktivitas ekonomi yang menggeliat, yang akhirnya meningkatkan impor. Perry sejauh ini masih menganggap defisit neraca transaksi berjalan dalam level yang aman. Bank Sentral juga mengapresiasi pemerintah yang akan membatasi laju impor barang modal dan bahan baku untuk mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan dan mejaga rupiah.

“Sebenarnya defisit transaksi berjalan itu masih aman. Tapi dalam kondisi pasar keuangan yang seperti sekarang, BI dan pemerintah sepakat untuk menurunkan defisit ke tingkat lebih rendah lagi,” ujar dia.

Bank Sentral juga melihat bunga acuan harus naik di Agustus 2018 ini untuk mendorong imbal hasil instrumen keuangan domestik. Hal itu untuk membuat investor asing tetap tertarik menanamkan modal valasnya di pasar keuangan domestik.

Saat ini premi risiko instrumen keuangan domestik meningkat karena tekanan ekonomi global. Kenaikan suku bunga acuan diharapkan dapat mengkompensasi dari membesarnya biaya risiko bagi investor.

Bank Sentral sepanjang tahun ini sudah menaikkan bunga acuan sebesar 125 basis poin. Perry masih mempertimbangkan ruang kenaikan suku bunga acuan di sisa tahun, dengan melihat perkembangan tekanan ekonomi global dan domestik. (iap)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending