Connect with us

Agribisnis

Balitbangtan Siap Salurkan Benih Tanaman Industri

Published

on

Zonaekonomi.com, Jakarta – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian sejak 2017 telah memproduksi benih unggul kopi, kakao, dan karet secara massal yang siap disalurkan pada April 2018.

Melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (14/2/2018), disebutkan benih tanaman industri tersebut hasil pengembangan Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) itu memiliki performa benih yang bagus.

Kepala Balittri Syafaruddin mengatakan, hal membuktikan bahwa Balittri mampu mengelola perbenihan dengan baik guna mendukung program strategis Kementerian Pertanian.

Pihaknya segera menyiapkan langkah-langkah penyaluran benih kepada calon petani dan calon lokasi (CPCL).

Jutaan hektar lahan perkebunan kelapa akan dioptimalkan pemanfaatannya untuk tanaman indstri yang adaptif terhadap naungan, seperti tanaman kakao, kopi, dan itu akan dijadikan satu model tanaman perkebunan masa depan khususnya tanaman industri.

“Hal ini sangat positif untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan meningkatkan pendapatan petani yang berkelanjutan,” katanya.

Pengembangan selanjutnya tidak hanya bertumpu pada lahan eksisting, tetapi juga menyasar lahan-lahan sub optimal, seperti lahan kering iklim kering dan lahan rawa (pasang surut dan lahan lebak).

Lahan rawa tersebut baru dimanfaatkan sebanyak 10 persen dari jutaan hektar lahan rawa di Indonesia.

Menurut di, lahan rawa bukan hanya dimanfaatkan untuk tanaman pangan semusim, tetapi juga untuk pengembangan tanaman perkebunan tahunan seperti kopi.

Pengembangan lahan di luar eksisting memerlukan varietas yang adaptif terhadap ekosistem ini. Balittri telah menghasilkan dua varietas kopi unggul yang adaptif terhadap lahan rawa, yaitu Liberoid Meranti (LIM 1 dan LIM 2).

Benih unggul kopi seperti BP308 yang dihasilkan oleh peneliti Balittri, telah diperbaiki secara genetis sehingga bisa tahan terhadap penyakit nematoda.

Hal ini sangat diperlukan mengingat salah satu penyakit berbahaya untuk tanaman kopi adalah nematoda. Teknologi pengendaliannya dapat dilakukan secara internal melalui perbaikan genetis, seperti klon unggul BP 308 yang tahan nematoda.

Selain itu, seperti dikutip Antara, mendorong pengendalian penyakit yang ramah lingkungan sehingga mengurangi penggunaan residu kimia, serta penggunaan pupuk hayati bisa mengurangi penggunaan kimia sebesar 40-50 persen dan meningkatkan produktivitas tanaman sebesar 20 persen. (amr)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Agribisnis

Produk Perikanan Dipromosikan dalam Trade Expo Indonesia

Published

on

Produk hasil laut akan dipromosikan dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2018 di ICE-BSD City, Tangerang, Banten, pada 24-28 Oktober 2018.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Produk hasil laut akan dipromosikan dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2018 di ICE-BSD City, Tangerang, Banten, pada 24-28 Oktober 2018.

Kegiatan promosi yang bertema “From Our Sea to the World” diselenggarakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri.

“Tujuan kegiatan ini mendorong peningkatan ekspor produk perikanan yang aman dan berkelanjutan, sekaligus mempromosikan potensi daerah yang memiliki keunggulan hasil laut,” kata Sekretaris Dirjen Amerika dan Eropa Kemlu Ratu Silvy Gayatri dalam press briefing di Jakarta, Kamis (18/10/2018).

Selain itu, kegiatan yang melibatkan 20 peserta dari pelaku bisnis perikanan, Perum Perindo, PT Perikanan Nusantara, pelaku jasa kargo, serta pemerintah provinsi dan kabupaten ini juga memperkenalkan potensi sentra kelautan dan perikanan (SKPT) untuk kerja sama pengembangan industri perikanan dan hub bagi kemudahan ekspor.

Sejumlah daerah yang memiliki keunggulan hasil laut adalah Aceh, Natuna, Morotai, Maluku, Biak, dan Mimika.

Berdasarkan data KKP, tren nilai ekspor produk perikanan terus meningkat.

Pada Januari 2017 sampai April 2018, nilai ekspor produk perikanan meningkat 20 persen yang menunjukkan makin tingginya tingkat kepercayaan konsumen luar negeri terhadap produk perikanan Indonesia.

Khusus kawasan Amerika dan Eropa, ekspor produk perikanan pada 2017 sebesar 4,51 miliar dolar AS dengan pasar terbesar adalah Amerika Serikat senilai 1,81 miliar dolar AS, diikuti Jepang dengan 672,3 juta dolar AS, dan negara-negara ASEAN dengan 563,9 juta dolar AS.

Tahun ini, ekspor produk perikanan ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 5 miliar dolar AS.

Kegiatan promosi terpadu produk perikanan merupakan pertama kali diselenggarakan dalam TEI 2018, dan diharapkan dapat mencapai sasaran kesepakatan bisnis TEI secara keseluruhan sejumlah 1,5 miliar dolar AS.

“Melalui kegiatan promosi perikanan terpadu ini dapat lebih meyakinkan pembeli potensial dari kawasan Amerika dan Eropa, juga Asia Pasifik dan Afrika bahwa produk perikanan Indonesia dapat bersaing secara global dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan keberlanjutan,” kata Ratu. (ydp)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Agribisnis

KKP Dorong Budi Daya Perikanan Berbasis Perubahan Iklim

Published

on

Dirjen Perikanan Budi daya KKP, Slamet Soebjakto.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memahami bahwa perubahan iklim global sangat mempengaruhi kebutuhan pangan global sehingga budi daya perikanan harus memiliki inovasi yang berbasis perubahan iklim.

“Kalau kita lihat data FAO dan prediksi peran akuakultur (budi daya) ke depan, maka sudah saatnya kita melakukan inovasi teknologi akuakultur berkelanjutan yang berbasis mitigasi perubahan iklim,” kata Dirjen Perikanan Budi daya KKP Slamet Soebjakto, di Jakarta, Kamis (18/10/2018).

Menurut dia, hal itu penting agar di satu sisi produktivitas tetap optimal, sedangkan di sisi lain efek dari perubahan iklim tersebut dapat dikendalikan dengan baik.

Ia mengungkapkan, KKP telah memperkirakan berbagai kemungkinan dampak yang berkaitan dengan tantangan akuakultur ke depan.

Untuk mendorong pemenuhan kebutuhan pangan berkelanjutan, pihaknya telah mendorong berbagai inovasi akuakultur yang orientasinya untuk meningkatkan produktivitas dan berbasis mitigasi.

Slamet memaparkan, berbagai teknologi akuakultur yang mulai berkembang tersebut antara lain penerapan “integrated multitrophic aquaculture” (IMTA), serta pengembangan teknologi bioflok yang memungkinkan peningkatan produktivitas tinggi, ramah lingkunganan efisien dalam penggunaan lahan dan sumberdaya air.

Kemudian, pengembangan minapadi, pengembangan “recirculating aquaculture system” (RAS) atau sistem tertutup yang mampu menggenjot produktivitas hingga 100 kali lipat, efisien dalam penggunaan air dan lahan, teknologi ultrafine bubble oksigen yang mampu meningkatkan produktifitas, serta mendorong pengembangan budidaya ikan lokal seperti papuyu, belida, tawes, semah, gabus, ikan batak, dan jenis lokal lainnya.

“Inovasi-inovasi teknologi semacam inilah yang akan terus kita dorong dan diaplikasikan di masyarakat secara masif, sehingga tantangan berkaitan dengan penurunan daya dukung dan perubahan iklim ini dapat diantisipasi sejak dini. Saya rasa ini langkah strategis untuk mewujudkan pangan berkelanjutan,” tegas Dirjen Perikanan Budi daya.

Terkait strategi kebijakan dalam upaya mitigasi perubahan iklim dan lingkungan global terhadap usaha akuakultur, Slamet membeberkan bahwa sejumlah poin penting yang perlu dilakukan, yakni pengelolaan akuakultur melalui pendekatan ekosistem.

Poin lainnya adalah asuransi pembudi daya ikan sebagai bagian dari langkah adaftif dari sisi ekonomi, pengembangan teknologi akuakultur yang adaptif dan berbasis mitigasi, serta penentuan zonasi yang tepat sebagai langkah adaptasi yang penting dalam mengantisipasi perubahan iklim. (mrr)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Agribisnis

Kadin akan Susun Peta Jalan Teknologi Informasi Agribisnis

Published

on

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Ari Nugraha.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia akan menyusun peta jalan (roadmap) untuk mengintegrasikan sistem teknologi, informasi dan komunikasi (ICT) agribisnis untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi produksi.

Ketua Komite Tetap ICT Agribisnis Kadin Andi B Sirang dalam diskusi di Jakarta, Rabu (17/10/2018), mengatakan industri-industri penyedia data baik di sektor e-logistic dan e-commerce diharapkan dapat memiliki satu “big data” yang sudah tersinkronisasi dan terintegrasi.

“Selanjutnya kita akan membuat peta jalan ICT yang melibatkan semua pihak, baik swasta maupun lembaga pemerintah agar bisa diharmonisasikan sehingga kita memiliki satu big data dan memiliki satu acuan bersama,” kata Andi.

Ia menjelaskan bahwa dalam sinkronisasi data, Badan Pusat Statistik yang berperan dalam mengumpulkan data dengan melakukan sensus dan inovasi digital yang dimiliki.

Pihak swasta dan BUMN, seperti Telkom Indonesia yang juga bergerak dalam pengumpulan data ikut berperan agar data yang terkumpul akurat. Dengan adanya satu acuan data, pemerintah pun dapat mengambil kebijakan secara tepat.

Menurut Andi, ICT Agribisnis dinilai perlu untuk mendukung sistem produksi, distribusi dan komunikasi dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi. Produsen dituntut tidak hanya sebatas bekerja otomatis dalam internal pabrik, tetapi juga mampu memenuhi permintaan pasar secara responsif dan efisien.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Ari Nugraha mengatakan bahwa untuk keperluan sensus 2020, BPS akan melakukan pendekatan dengan pengumpulan data multimode.

“BPS akan melakukan pendekatan dengan ‘multimode data collecting’ karena wilayah Indonesia tidak semuanya menggunakan teknologi, jadi tetap masih ada yang harus kita datangi langsung,” kata Ari.

Sementara itu, Direktur Digital Strategy dan Portfolio Telkom Indonesia David Bangun menilai bahwa perseroan akan mengambil peran sebagai orkestrator 4th party logistic, yakni memaksimalkan informasi teknologi melalui aset-aset perusahaan atau “logistic capacity share” mulai dari gudang, alat transportasi dan sebagainya.

“Telkom merasa percaya diri sebagai pemain logistik karena dari segi fisikal seperti jaringan, kita memilikinya dan dari sisi akses serta konektivitas, kita sudah membangun platform untuk menjalankan bisnis itu dari big data dan IOT,” kata David. (mdg)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending