Connect with us

BISNIS

Investor AS Minati Investasi di NTB

Published

on

Sekda NTB H Rosiady Sayuti.

Zonaekonomi.com, Mataram – Sebanyak 11 orang investor yang berasal dari Amerika Serikat menaruh minat untuk berinvestasi di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Para investor dari Negara Paman Sam tersebut berminat untuk menanamkan sahamnya di berbagai sektor, seperti real estate, kesehatan, perikanan, pertanian, pertambangan, makanan, kelistrikan, dan pariwisata.

Konsulat Jenderal RI di Amerika Serikat, sekaligus ketua rombongan Winanto Adi, di Mataram, Senin (19/2/2018), mengatakan kehadiran para investor AS ke NTB tersebut untuk melihat dan mempelajari langsung tentang potensi-potensi yang dimiliki NTB.

Menurutnya, melalui kunjungan serta pertemuan dengan Pemprov NTB, para investor tersebut dapat mengambil keputusan pada sektor mana yang paling potensial untuk dikembangkan di NTB.

“Terus terang, selama ini kalau kita promosi itu selalu “selfcentric” apa yang kita mau. Tapi, kita jarang sekali menanyakan apa yang diinginkan oleh para investor,” ujarnya pula.

Ia menegaskan bahwa promosi yang cenderung “selfcentric” tersebut kurang efektif bagi para investor.

Winanto Adi menjelaskan maksud kehadiran para investor tersebut, selain untuk melihat langsung potensi yang ada, juga untuk berdialog langsung dengan pemerintah daerah terkait regulasi serta kebijakan-kebijakan yang diterapkan apabila para investor hendak menanamkan saham di NTB, mengingat jumlahnya banyak serta memiliki latar belakang bisnis yang berbeda.

Menurutnya, Provinsi NTB menjadi daerah yang cocok karena memiliki beragam sektor yang membutuhkan para investor.

“Ketika mereka memutuskan untuk berinvestasi, apa saja faktor-faktor yang menjadi pertimbangannya. Ini harus terjawab melalui dialog dengan pemangku kepentingan di NTB,” kata dia.

Satu yang menjadi catatan dalam pertemuan tersebut, menurutnya, yaitu para investor ingin mempelajari regulasi atau kepastian hukum bagi para investor.

“Yang paling penting bagi investor Amerika Serikat, bukan angka-angka, bukan statistik. Tetapi adalah kepastian bahwa investasi mereka aman. Kepasttian itu dapat dilihat dari regulasi, baik nasional maupun daerah,” katanya pula.

Sekda NTB H Rosiady Sayuti menyatakan dukungan serta menyambut baik kahadiran para investor tersebut. Bahkan, Pemprov NTB di bawah kepemimpinan Gubernur Tgk M Zainul Majdi selalu menyambut baik para investor demi terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sejumlah sektor yang dapat dikembangkan oleh para investor, yakni KEK Mandalika, Global Hub Bandar Kayangan, Kawasan Samota serta sektor lain yang potensial.

Karena itu, Sekda mengajak para investor untuk segera merealisasikan hasil kunjungan tersebut, mengingat pemerintah provinsi telah menyiapkan regulasi yang memudahkan para investor untuk menanamkan saham di NTB.

“Salah satunya adalah memberikan kemudahan dalam hal perizinan dalam sesi diskusi dengan para investor,” ujarnya lagi.

Seperti dikutip Antara, Sekda menjelaskan beberapa hal yang menjadi pertanyaan para investor, di antaranya jumlah rumah sakit, pengembangan power plant, potensi perikanan dan kelautan serta bidang pertambangan. (nur)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Energi

Kementerian : Kredit Inalum Bukan dari Bank BUMN

Published

on

Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Jasa, Gatot Trihargo.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Deputi Jasa Keuangan, Survei dan Konsultasi Kementerian BUMN Gatot Trihargo mengatakan tidak ada perbankan BUMN menyalurkan kredit ke PT Indonesia Asaham Alumunium (Inalum) untuk membeli 51 persen saham PT Freeport Indonesia (PT FI).

“Tidak ada,” kata Gatot usai nonton bareng final Piala Dunia di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (15/7/2018) malam.

Gatot memastikan hal tersebut berulang kali.

Dia mengatakan pinjaman yang diajukan Inalum untuk pembelian saham Freeport akan lebih banyak disalurkan oleh bank bukan milik pemerintah.

Namun, Gatot tidak merinci entitas bank yang akan menjadi kreditur Inalum tersebut.

Pada 12 Juli 2018, Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin mengatakan sudah ada 11 bank yang siap membantu pendanaan untuk divestasi saham Freeport.

Selain dari pinjaman bank, Inalum juga akan mengandalkan kas internal perusahaan untuk membeli mayoritas saham perusahaan pengendali salah satu tambang emas terbesar di dunia itu.

Nilai divestasi 51 persen saham Freeport mencapai 3,85 miliar dolar AS dengan rincian sebanyak 3,5 miliar dolar AS dialokasikan untuk pembayaran hak partisipasi Rio Tinto dan 350 juta dolar AS untuk Indocopper.

Inalum memang harus menguasai saham Indocopper juga agar kepemilikan di PT FI bisa menjadi mayoritas atau 51 persen.

Di sisi lain, posisi dolar tunai yang dimiliki Inalum mencapai 1,5 miliar dolar AS.

Inalum dan pengendali saham PT FI, Freeport-Mcmoran Inc (FCX), telah menyepakati Pokok-Pokok Perjanjian (Head of Agreement/HoA) divestasi sebesar 51 persen saham PT FI pada Jumat, (12/7/2018).

Dengan adanya HoA tersebut maka struktur organisasi dan harga divestasi sudah final sehingga tidak ada lagi perubahan ke depan meskipun transaksi masih dalam proses penyelesaian.

Selanjutnya akan finalisasi perjanjian pembentukan perusahaan patungan. (iap)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trans

KA Kuala Stabas Disetujui Berhenti di Blambanganumpu

Published

on

Kereta Api Kuala Stabas Premium di Stasiun Blambanganumpu, Kabupaten Way Kanan, Lampung.

Zonaekonomi.com, Bandarlampung – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divisi Regional IV Tanjungkarang mulai 16 Juli 2018 mulai memberhentikan Kereta Api Kuala Stabas Premium di Stasiun Blambanganumpu, Kabupaten Way Kanan, Lampung, untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat seperti diusulkan sebelumnya.

“Usulan masyarakat Way Kanan tersebut kami tindaklanjuti dengan mengajukan permohonan ke kantor pusat PT KAI di Bandung agar KA Kuala Stabas Premium bisa berhenti di Stasiun Blambanganumpu, alhamdulillah mulai tanggal 16 Juli akan berhenti normal,” ujar Manajer Humas Divre IV Tanjungkarang Sapto Hartoyo, di Bandarlampung, Senin (13/7/2018).

Menurutnya, KA Kuala Stabas Premium ini akan berhenti di Stasiun Blambanganumpu selama empat menit, baik dari Stasiun Tanjungkarang (Bandarlampung/Lampung) maupun dari Baturaja (Sumatera Selatan).

Mengenai waktu pemberhentian, ia menjelaskan, KA Kuala Stabas Premium berangkat dari Baturaja pukul 06.30 WIB sampai Blambanganumpu pukul 08.03 WIB, sedangkan berangkat dari Tanjungkarang pukul 13.00 WIB dan berhenti di Blambanganumpu pukul 16.06 WIB.

Mengenai tarif yang berlaku, untuk tujuan Tanjungkarang-Blambanganumpu akan dikenakan tarif Rp75.000 per penumpang, sudah mendapatkan potongan harga dari tarif normal yang berlaku Rp100.000.

“Jadi penumpang kita diskon 25 persen, bagi yang ingin naik KA Kuala Stabas Premium,” katanya lagi.

PT KAI Divireg IV Tanjungkarang memberikan diskon 25 persen mulai tanggal pemberhentian sampai dengan akhir bulan Juli atau tanggal 31 Juli 2018 mendatang.

Guna meningkatkan minat masyarakat dalam menggunakan angkutan KA Kuala Stabas Premium itu, selain diberlakukan tarif promosi juga ada tarif khusus yang diberlakukan pada relasi tertentu, antara lain relasi Baturaja-Kotabumi sebesar Rp45.000, Kotabumi-Tanjungkarang sebesar Rp30.000, dan Martapura-Baturaja sebesar Rp20.000.

“Tarif khusus ini dengan tiketnya hanya bisa dibeli pada stasiun pemberangkatan 2 jam sebelum kereta api berangkat,” katanya pula. (bud/emi)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Infrastruktur

IPC Tunjuk PT IPC TPK untuk Kelola Terminal 2 dan Terminal 3 Tanjung Priok

Published

on

Pengelolaan dan operasional bongkar muat peti kemas pada Terminal 2 dan Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok akan dikelola oleh PT IPC Terminal Peti Kemas (IPC TPK).

Zonaekonomi.com, Jakarta – Sesuai dengan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/ IPC terkait penataan bisnis anak-anak perusahaannya, makan terhitung mulai hari ini Minggu (15/7/2018) pengelolaan dan operasional bongkar muat peti kemas pada Terminal 2 dan Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok akan dikelola oleh PT IPC Terminal Peti Kemas (IPC TPK) yang merupakan anak perusahaan IPC yang didirikan untuk mengelola terminal peti kemas.

Untuk selanjutnya, memasuki Semeste II , Manajemen juga telah menetapkan adanya perubahan bisnis model IPC yang baru dimana setiap anak perusahaan akan fokus kepada bisnisnya masing-masing guna memaksimalkan fungsi dan perannya, seluruh Terminal Petikemas di cabang-cabang pelabuhan yang telah mencapai volume tertentu akan dikelola oleh PT IPC TPK,sedangkan seluruh Terminal Non Petikemas di cabang-cabang pelabuhan yang juga telah mencapai volume tertentu, pengeloaannya akan dilaksanakan oleh PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP).Sementara terminal kendaraan termasuk roro, pengelolaannya akan dilakukan oleh PT Indonesia Kendaraan Terminal (IKT) TBK, Bisnis model ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi dan standarisasi pengelolaan, sehingga kinerja pelayanan IPC secara korporasi akan lebih meningkat.

“Penataan ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada konsumen, agar masing-masing entitas di lingkungan IPC bisa lebih fokus dalam menjalankan core business (bisnis jati) masing-masing perusahan,” kata Direktur Utama IPC, Elvyn G.Masassya, di Jakarta, Jumat (13/7/2018).

Menurut Elvyn, Volume bisnis dan operasional di Pelabuhan Tanjung Priok terus meningkat dari tahun ke tahun. Untuk itu perlu dilakukan penyesuaian dan penataan operasional, agar kualitas pelayanan kepada konsumen semakin baik.

Selama ini, bongkar muat di Terminal 2 dan Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok dikelola oleh PT PTP. Terminal 3 fokus melayani bongkar muat peti kemas internasional, dan Terminal 2 khusus melayani bongkar domestik. Per tanggal 2018, pengelolaannya berpindah tangan ke PT IPC TPK, yang memang fokus menangani bongkar muat peti kemas.

Atas adanya perubahan Pengelolaan di Terminal 2 dan 3 ini. PT PTP telah Mengedarkan Surat Pemberitahuan kepada para Pengguna jasa melaluli surat edaran pada tanggal 13 Juli 2018

“Penataan ini juga merupakan tuntunan san kebutuhan internal, mengingat saat ini IPC akan masuk ke tahap Sustainable Superior Performance menuju pelanuhan kelas dunia yang unggul dalam oprasional dan pelayanan pada 2020,” jelas Elvyn. (zal)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending