Connect with us

Agribisnis

Kementan Sosialisasikan Paket Teknologi Pembibitan Sapi

Published

on

Zonaekonomi.com, Bogor – Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLITVET) BALITBANGTAN Kementerian Pertanian menghasilkan paket teknologi pembibitan sapi dalam rangka mendukung terwujudnya sasaran strategis pembangunan pertanian yakni swasembada daging.

Kepala Badan Litbang Pertanian (BALITBANGTAN) Kementerian Pertanian, Muhammad Syakir saat membuka kegiatan sosialisasi dan peluncuran paket teknologi pembibitan sapi di BBLITVET Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (13/2/2018), mengatakan sektor peternakan membutuhkan dukungan semua pihak ditingkatkan kapasitasnya.

“Di bidang sektor peternakan ini masih perlu kerja keras agar bisa menggunakan teknologi di dalam pengembangannya,” kata Syakir.

Ia menjelaskan Kementerian Pertanian memiliki program strategis untuk meningkatkan populasi sapi di Indonesia melalui upaya khusus “SIWAB” (sapi indukan wajib bunting). Program tersebut dinilai efektif jika sapi yang digunakan untuk pembibitan adalah ternak yang sehat.

Diperlukan pemeriksaan status kesehatan sapi tersebut, baik yang bersifat infeksius maupun non infeksius. Selain itu pemberian vaksinasi untuk induk juga perlu dilakukan agar pedet (calon indukan-red) yang dihasilkan sehat dan tumbuh dengan baik.

Paket teknologi pembibitan yang dihasilkan tersebut adalah metode, kit deteksi, serta vaksin untuk ternak ruminansia besar yakni sapi. Paket tersebut mulai dari penyiapan sapi sehat dengan paket pemeriksaan penyakit (medical checkup/MCU), vaksinasi pada sapi dara atau calon induk yang akan dikawinkan, deteksi birahi, dan kebuntingan, serta vaksinasi pada masa kebuntingan untuk mencegah kematian dini pada pedet.

“Balitbang akan turun ke lapangan dalam waktu singkat untuk menyosialisasikan paket teknologi ini dan pemberian vaksin gratis, kita perluas jangkauan, aktif diseminasikan teknologi yang kita hasilkan,” kata Syakir.

Kepala BBLITVET Indi Dharmayanti menjelaskan paket teknologi deteksi untuk penyakit infeksius pada sapi yang sudah dikembangkan adalah `brucellosis`, leptospirosis, tuberculosis, paratuberkulosis, bovine genital campylobacteriosis (BGC), bovine viral diarrhea (BVD), enzootic bovine leucosis (EBL), infection bovine rinothraceitis (IBR), anaplasmosis, dan trichomoniasis.

“BBLITVET memiliki beberapa paket pemeriksaan penyakit MCU yakni paket lengkap dan paket hemat,” kata Indi.

Paket lengkap (paket ekslusif) meliputi uji untuk brucellosis, leptospirosis, tuberculosis, paratuberkulosis, BGC, BVD, IBR, dan trichomoniasis. Sedangkan untuk paket hemat meliputi, paket uji leptospirosis, paratuberkulosis, dan BGC. Paket brucelosis, EBL, dan paratuberkulosis. Serta, paket leptospirosis da BGC.

“BBLITVEt memiliki paket teknologi pembibitan lengkap mulai dari tahap penyiapan sapi sehat calon indukan, hingga proses perkawinan, dan kelahiran,” kata Indi.

Indi menambahkan pihaknya telah mengembangkan uji serologi untuk deteksi progesteron dengan metode ELISA/FELISA, yakni pro-kit-mon yang berfungsi untuk deteksi gangguan kesehatan reproduksi non infeksius.

Teknologi untuk pemeriksaan kebuntingan juga telah dikembangkan untuk pemeriksaan pada bulan kedua pascaIB atau kawin alam, baik secara serologi di laboratorium dan secara sederhana untuk diaplikasikan oleh peternak atau petugas di lapangan.

“Selain itu kita punya kit SGA-MA yakni kit pemeriksa kebuntingan yang dapat diaplikasikan secara langsung oleh peternak, metode ini mempunyai akurasi sebesar 74,55 persen,” katanya.

Kepala Badan Litbang Pertanian Muhammad Syakir menambahkan pemerintah harus hadir di tengah-tengah masyarakat terutama peternak dalam mengakses paket teknologi pembibitan sapi yang telah dikembangkan oleh BBLITVET.

“Tentunya pemerintah harus membantu dan memudahkan peternak, Balitbang juga akan memberikan vaksinasi secara gratis, agar teknologi dan inovasi yang dihasilkan ini dapat langsung dirasakan oleh peternak,” kata Syakir, seperti dikutip Antara. (lrw)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Agribisnis

Mendag : Harga Telur Naik Karena Pakan Ayam Mahal

Published

on

Kenaikan harga telur di beberapa wilayah Indonesia pada beberapa waktu terakhir terjadi karena melonjaknya harga pakan ayam petelur.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Kenaikan harga telur di beberapa wilayah Indonesia pada beberapa waktu terakhir terjadi karena melonjaknya harga pakan ayam petelur, yang juga disebabkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito.

“Harga pakan ternaknya naik, kemudian harga DOC (Day Old Chicken/Anak Ayam) dia juga naik,” kata Enggar di Kemenko Perekonomian di Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Harga telur ayam di sejumlah pasar tradisional, termasuk DKI Jakarta meningkat hingga Rp30.000 per kilogram, seperti yang terjadi di Pasar Palmerah, Jakarta Barat.

Salah satu pedagang telur di Palmerah, Rizal, mengatakan lonjakan harga mulai terjadi setelah Lebaran 2018.

Saat Lebaran, kata Rizal, harga telur masih Rp24.000 per kilogram. Kemudian secara berangsur-angsur, naik menjadi Rp26 ribu per kilogram kemudian Rp30 ribu per kilogram

Mendag mengatakan pihaknya sudah berkomunikasi dengan pelaku industri dan perkumpulan pedagang telur untuk memetakan masalah kenaikan harga produksi tersebut.

“Nanti akan terus kita intensif, berapa sih marginnya yang tertekan,” ujar dia.

Merujuk pada Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga telur ayam secara rata-rata di DKI Jakarta sudah mencapai Rp28.650 per kilogram.

Harga telur ayam tertinggi terjadi di wliayah timur Indonesia, seperti di Maluku Utara yang mencapai Rp37.850 per kilogram, dan Papua yang sebesar Rp35.500 per kilogram. (iap)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Agribisnis

Harga Telur di Aceh Timur Naik 50 Persen

Published

on

Harga telur ayam ras di pasaran di Kabupaten Aceh Timur, melonjak hingga 50 persen, yakni dari Rp1.000 menjadi Rp1.500 per butir.

Zonaekonomi.com, Aceh – Harga telur ayam ras di pasaran di Kabupaten Aceh Timur, melonjak hingga 50 persen, yakni dari Rp1.000 menjadi Rp1.500 per butir, karena permintaan meningkat, sementara pasokan terbatas.

Mustafa, pedagang di Kota Idi, Ibukota Aceh Timur, Selasa (10/7/2018) menyatakan, harga jual telur tersebut sebelum Idul Fitri Rp1.000 per butir, tapi sekarang naik menjadi Rp1.500 per butir.

Ia mengatakan, meskipun harga telur ayam selama Ramadhan 1438 Hijriyah sempat mengalami kenaikan harga mencapai 30 persen atau Rp1.300 per butir, tetapi menjelang Idul Fitri harga telur ayam turun Rp1.000 per butir atau setara Rp30.000 per papan (isi 30 butir).

“Tapi setelah Idul Fitri hingga saat ini kenaikan telur ayam terus melonjak hingga mencapai Rp1.500 per butir atau setara Rp45.000 per papan,” terang Mustafa.

Ia mengatakan, kenaikan harga telur ayam di pasaran terjadi menyusul tingginya harga tawar dari distributor.

Meskipun harga meningkat tajam di pasaran, Mustafa mengakui menghabiskan 20 hingga 30 papan telur ayam tiap hari, baik dijual untuk sejumlah rumah makan atau pedagang eceran di kios-kios.

“Rata-rata telur ayam yang dipasok ke sejumlah titik di Aceh Timur adalah telur ayam dari luar Aceh, karena jika berpatokan stok telur ayam lokal sama sekali tidak cukup,” urai Mustafa.

Sementara itu, beberapa ibu rumah tangga mengeluh dengan harga ayam yang terus mengalami kenaikan.

Namun, meskipun mahal, para konsumen tetap membeli, karena sudah menjadi kebutuhan, kata Nisak, warga Idi.

Pemerintah diharap dapat mengontrol harga berbagai jenis pangan di pasaran, sehingga masyarakat tidak terbebani dengan harga tawar yang dinilai tidak logis.

“Tidak mungkin dalam jangka waktu 25 hari kenaikan harga telur mencapai 50 persen dari harga sebelumnya. Kita minta pemerintah turun tangan,” kata Muzakir, warga Peureulak, Aceh Timur.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Aceh Timur, Iskandar melalui Kabid Perdagangan, Nazarina yang dihubungi wartawan mengakui bahwa telur ayam mengalami kenaikan harga di pasaran.

“Kita belum cek harga jual telur ayam di pasaran hari ini, tapi hukum pasar biasanya ketika terjadi kenaikan harga distributor maka otomatis akan berpengaruh kepada harga jual di pasaran,” ujar Nazarina. (fit)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Agribisnis

Harga Telur Ayam di Purwokerto Kembali Naik

Published

on

Harga telur ayam ras di pasar tradisional Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kembali naik setelah sempat turun hingga kisaran Rp24.000-Rp25.000 per kilogram.

Zonaekonomi.com, Purwokerto – Harga telur ayam ras di pasar tradisional Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kembali naik setelah sempat turun hingga kisaran Rp24.000-Rp25.000 per kilogram.

Berdasarkan pantauan di Pasar Manis dan Pasar Wage, Purwokerto, Senin (9/7/2018), harga ayam ras saat ini mencapai Rp27.000/kg seperti sebelum bulan Ramadhan.

Salah seorang pedagang telur ayam ras, Rasmiah mengatakan, “Harga dari distributor sudah naik menjadi Rp24.800/kg sehingga kami melakukan penyesuaian harga,” katanya.

Pedagang lainnya, Wasis mengatakan permintaan masyarakat terhadap telur ayam ras saat sekarang juga cukup tinggi sehingga turut memicu kenaikan harga.

“Saat ini banyak warga yang menggelar hajatan, sehingga butuh telur untuk membuat kue atau sajian yang lain,” katanya.

Dalam kondisi normal, kata dia, harga telur ayam ras berkisar Rp21.000-22.000/kg.

Selain telur ayam ras, harga daging ayam ras juga kembali mengalami kenaikan setelah sempat turun hingga kisaran Rp35.000-Rp36.000/kg.

“Saat ini, harga daging ayam ras mencapai Rp37.000/kg,” kata salah seorang pedagang, Martini.

Ia mengakui jika harga daging ayam ras sedikit mengalami kenaikan setelah sempat turun menjadi Rp36.000/kg karena saat lebaran mencapai Rp60.000/kg.

Akan tetapi jika dibandingkan dengan saat kondisi normal, kata dia, harga daging ayam ras tersebut masih tergolong tinggi.

Menurut dia, harga daging ayam ras dalam kondisi normal berkisar Rp32.000-Rp33.000/kg.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Banyumas Sugiyatno mengatakan harga daging ayam ras saat ini masih dalam batas kewajaran.

“Kemarin kan produknya berupa daging ayam ras terkuras saat Idul Fitri, sehingga barangnya agak sedikit berkurang. Dengan demikian, harganya masih tergolong tinggi meskipun sudah jauh dari kondisi saat lebaran,” katanya Ia mengatakan bahwa kondisi cuaca saat sekarang tidak menentu namun hal itu belum berdampak terhadap peternakan ayam.

Pihaknya hingga saat ini belum menerima laporan mengenai kemungkinan adanya kematian ayam akibat kondisi cuaca yang tidak menentu.

Menurut dia, peternak sudah memahami prosedur yang harus dilakukan ketika kondisi cuaca tidak menentu sehingga kemungkinan adanya ayam yang sakit hingga akhirnya mati dapat diminimalisasi.

“Peternak sudah tahu prosedurnya sehingga mereka akan mengatur suhu udara di kandang agar tetap hangat ketika cuaca dingin,” katanya. (sum)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending