Connect with us

Finansial

Peningkatan Pertumbuhan Kredit Indikasi Akselerasi Perekonomian

Published

on

Zonaekonomi.com, Jakarta – Research Analyst FXTM Lukman Otunuga menyatakan, investor saat ini sedang menyoroti data pertumbuhan kredit karena bila meningkat maka hal tersebut mengindikasikan bahwa adanya akselerasi perekonomian nasional.

“Peningkatan pertumbuhan kredit dapat menjadi indikasi bahwa perekonomian Indonesia mungkin mengalami akselerasi dengan laju yang lebih cepat di tahun 2018,” kata Lukman Otunuga di Jakarta, Rabu (14/2/2018).

Menurut dia, peristiwa berisiko utama saat ini adalah rilis data pertumbuhan kredit Indonesia yang akan menguak informasi terkini mengenai perubahan total kredit dan sewa selama bulan Januari.

Ia berpendapat bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia berpotensi menguat apabila data pertumbuhan kredit bulan Januari melampaui ekspektasi pasar. 

Sebelumnya, Bank Indonesia melalui surveinya memperkirakan penyaluran kredit perbankan akan bertumbuh lebih baik pada kuartal I-2018 dibanding periode yang sama 2017 karena penurunan suku bunga kredit dan mulai meredanya risiko penyaluran pembiayaan.

Berdasarkan Survei Perbankan Kuartal IV 2017 yang dilansir BI di Jakarta, Selasa (16/1), indikator Saldo Bersih Tertimbang (SBT) untuk permintaan kredit baru sebesar 92,8 persen, atau jauh lebih tinggi dibanding SBT kuartal I 2017 yang sebesar 52,9 persen.

Survei perbankan secara triwulanan dilakukan terhadap responden 40 bank umum dengan pangsa kredit sekitar 80 persen dari pasar kredit nasional.

“Menguatnya pertumbuhan ekonomi, rencana penurunan suku bunga krkedit dan turunnya risiko kredit menjadi faktor utama pendorong optimisme pertumbuhan kredit,” ujarnya.

Berdasarkan survei itu, perbankan memprioritaskan penyaluran kredit baru untuk kredit modal kerja, terutama nasabah yang bergerak di perdagangan besar dan eceran, industri pengolahan, dan sektor pernataran keuangan.

Sedangkan, seperti dikutip Antara, untuk jenis kredit konsumsi, prioritas utama perbankan adalah penyaluran kredit untuk properti seperti KPR/KPA, Kredit Kendaraan Bermotor dan Kredit Tanpa Agunan.  (mrr)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Finansial

Rupiah Menguat ke Rp14.378 Terhadap Dolar AS

Published

on

Penguatan rupiah didorong neraca perdagangan Juni yang diperkirakan akan surplus.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat (13/7/2018) sore, ditutup menguat senilai12 poin menjadi Rp14.378 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.390 per dolar Amerika Serikat (AS).

Analis pasar uang Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto di Jakarta, mengatakan bahwa penguatan rupiah didorong neraca perdagangan Juni yang diperkirakan akan surplus.

BACA JUGA : Rupiah Jumat Pagi Menguat Menjadi RP14.357

“Sepertinya, ada antisipasi dari positifnya data trade balance. Harapannya bulan Juni akan surplus, sekitar 950 juta dolar AS,” ujar Rully.

Selain itu, menurut dia, belum ada sentimen domestik yang bisa membuat rupiah terapresiasi lebih jauh.

“Disetujuinya RAPBN 2019 sepertinya tidak ngangkat,” kata Rully.

Meski timbul kekhawatiran terhadap dampak dari terjadinya perang dagang AS-Tiongkok, laju Dolar AS cenderung mampu menguat seiring dengan penilaian mata uang tersebut mendapat keuntungan dari adanya perang dagang.

Selain itu, mata uang yen memberikan kesempatan pada dolar AS untuk kembali menguat. Tidak hanya itu, meningkatnya inflasi AS direspon positif sehingga berimbas pada meningkatnya laju dolar kemarin.

Dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Kamis (12/7) tercatat nilai tukar Rupiah bergerak menguat ke posisi Rp14.358 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.435 per dolar AS.

Senada dengan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia (IHSG BEI) pada Jumat sore ditutup menguat 36,2 poin atau 0,61 persen menjadi 5.944,07. Sedangkan, kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak naik 7,38 poin (0,79 persen) menjadi 937,72. (cit)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Finansial

BI Minta Perbankan Tahan Kenaikkan Bunga Kredit

Published

on

Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Bank Indonesia kembali menegaskan perbankan tidak memiliki alasan untuk menaikkan suku bunga kredit dan simpanan dalam waktu dekat, karena likuiditas masih longgar meskipun suku bunga acuan Bank Sentral sudah naik secara total 100 basis poin tahun ini

“Jika suku bunga acuan BI sudah naik 50 basis poin (akhir Juni 2018), tidak perlu diikuti dengan kenaikan suku bunga kredit dan deposito di dalam negeri, maka itu likuiditas sudah kita longgarkan dengan beberapa relaksasi,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Jumat (13/7/2018).

Suku bunga acuan “7-Day Reverse Repo Rate” naik 50 basis poin di Mei 2018 sebesar 50 bps, di akhir Juni 2018 juga naik 50 bps.

Perry mengatakan sudah terdapat tiga relaksasi kebijakan bagi perbankan. Pertama, mulai 16 Juli 2018 nanti, perhitungan rata-rata Giro Wajib Minimum Primer (GWM-P Averaging) sudah naik menjadi dua persen dari total komponen rasio GWM-P sebesar 6,5 persen dan akan membuat perbankan mengelola likuiditas. Sebelum 16 Juli 2017, rasio GWM-P Averaging sebesar 1,5 persen.

“Manajemen likuiditas bisa longgar. Bank juga tidak perlu hanya fokus dan terbatas pada Dana Pihak Ketiga, karena mereka bisa terbitkan obligasi, atau surat utang jangka menengah (MTN),” ujarnya.

Kemudian, relaksasi kedua yakni perhitungan pembiayaan bank yang kini melibatkan pembelian obligasi korporasi sebagai kredit. Dengan begitu, bank memiliki alternatif untuk menyalurkan pembiayaan dengan membeli obligasi korporasi, selain kredit jika risiko kredit masih membebani.

“Ini akan mendorong kegiatan ekonomi dari pembiayaan dari kredit perbankan dan dari pasar modal,” ujar dia.

Relaksasi ketiga adalah pembebasan aturan maksimum nilai kredit (Loan to Value/LTV) untuk kredit rumah pertama semua tipe yang berlaku pada 1 Agustus 2018. Dengan peraturan baru LTV, perbankan memiliki keleluasaan untuk memberikan syarat uang muka pembelian rumah pertama semua tipe.

“Coba, banyak sekali pengendoran yang sudah kita lakukan. Sehingga itu bisa menjadi `jamu manis` meskipun kita berikan `jamu pahit` kenaikan suku bunga acuan,” ujar Perry.

Namun, perbankan tampaknya sudah terlanjur menaikkan suku bunga simpanannya.

Misalnya, PT. Bank Central Asia Tbk (BCA) di awal Juli 2018 persen menaikkan suku bunga deposito menjadi 4,75 persen – 5,25 persen untuk rupiah, sedangkan deposito valas menjadi 0,95 persen. Oleh karena kenaikan bunga simpanan itu, BCA juga merencanakan kenaikan suku bunga kredit 25 hingga 50 basis poin (bps) pada Agustus 2018.

Kemudian, PT. Bank Tabungan Negara Persero Tbk untuk menaikkan suku bunga spesial deposito (special rate) untuk simpanan di bawah Rp2 miliar menjadi maksimal enam persen sesuai suku bunga penjaminan LPS, dan yang di atas Rp2 miliar mengikuti batas maksimum (capping) bunga yang diatur Otoritas Jasa Keuangan, sesuai tenornya.

“Bunga konter simpanan belum disesuaikan, yang disesuaikan bunga spesial deposito dengan maksimum sebesar LPS Rate untuk yang di bawah Rp2 miliar,” ujar Direktur Keuangan dan Treasuri BTN Iman Nugroho Soeko beberapa waktu lalu. (iap)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Finansial

Jumat Pagi Rupiah Menguat Menjadi RP14.357

Published

on

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat (13/7/2018) pagi bergerak menguat 33 poin menjadi Rp14.357.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat (13/7/2018) pagi bergerak menguat 33 poin menjadi Rp14.357 dibanding posisi sebelumnya Rp14.390 per dolar AS.

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada di Jakarta, mengatakan, meski terjadi penguatan rupiah namun tidak sepenuhnya didukung oleh sentimen yang ada di mana pergerakan Dolar AS terapresiasi dengan memanfaatkan sentimen rilis data ekonominya dan melemahnya yen.

“Masih rentannya rupiah dapat menghalangi potensi kenaikan lanjutan sehingga perlu dicermati berbagai sentimen, terutama pergerakan sejumlah mata uang global terhadap dolar AS,” ujar Reza.

Reza menuturkan, meski timbul kekhawatiran terhadap dampak dari terjadinya perang dagang AS-Tiongkok namun, laju dolar AS cenderung mampu menguat seiring dengan penilaian mata uang tersebut mendapat keuntungan dari adanya perang dagang.

Di sisi lain, lanjut Reza, turunnya mata uang yen memberikan kesempatan pada Dolar untuk kembali menguat.

Tidak hanya itu, meningkatnya inflasi AS direspon positif sehingga berimbas pada meningkatnya laju dolar.

“Sementara itu, meski laju dolar AS terlihat menguat namun, laju Rupiah mampu terapresiasi seiring masih ada imbas disetujuinya RAPBN 2019,” ujar Reza.

Senada dengan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat dibuka menguat sebesar 0,61 poin atau 0,01 persen ke posisi 5.908,48.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak naik 0,15 poin (0,02 persen) menjadi 930,5. (cit)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending