Connect with us

Finansial

Sri Mulyani : Upaya Persuasi untuk Dorong Kepatuhan Pajak

Published

on

Zonaekonomi.com, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan upaya persuasi akan lebih dikedepankan otoritas pajak untuk mendorong kepatuhan wajib pajak seusai berakhirnya pelaksanaan program amnesti pajak.

“Kita akan memulai persuasi dengan `tax payer` agar kepatuhan meningkat sesudah amnesti pajak” kata Sri Mulyani di Jakarta, Rabu (7/2/2018).

Sri Mulyani mengatakan hal ini dimungkinkan karena otoritas pajak akan mempunyai basis data yang berasal dari program amnesti pajak serta pelaksanaan pertukaran informasi perbankan secara otomatis (AEoI).

Basis data itu akan digunakan sebagai bahan pendukung otoritas pajak untuk memeriksa kembali pelaporan SPT para Wajib Pajak agar sesuai dengan harta maupun aset yang dimiliki.

Namun, ia menjamin upaya ini tidak akan menjadi sumber keresahan baru karena upaya persuasi maupun komunikasi akan lebih dikedepankan terutama kepada para pelaku usaha.

“Kita akan menekankan komunikasi dengan pelaku usaha, jangan men-`distract` optimisme yang muncul, karena investasi saat ini mulai membaik,” ujar Sri Mulyani.

Sebelumnya, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara mengatakan upaya lain untuk mendorong kepatuhan Wajib Pajak adalah mempermudah tata cara pemajakan maupun mengkaji besaran tarif.

Upaya kemudahan itu akan segera dilakukan pada pelaku usaha kecil maupun pengusaha besar yang bergerak pada bidang digital ekonomi, yang saat ini sedang berkembang pesat.

“Kita ingin semakin banyak kelompok usaha di Indonesia bisa klaim taat pajak, caranya dengan mempermudah tata cara dan review tarif. Kita sedang mencari mekanismenya dan mendiskusikan ini,” kata Suahasil, seperti dikutip Antara. (sgh)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Finansial

BI Perkirakan Kurs Rupiah akan Cenderung Menguat

Published

on

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan relatif stabil dan cenderung menguat, setelah sempat mengalami tekanan akibat gejolak ekonomi global.

“Kalau kita lihat perkembangan nilai tukar rupiah pekan ini , hari ini dan dalam beberapa waktu ke depan, Alhamdulilah kecenderungannya nilai tukar rupiah itu stabil, bahkan ada kecenderungan menguat,” ujar Perry saat ditemui di Kompleks Perkantoran BI Jakarta, Jumat (21/9/2018).

Perry menuturkan ada tiga faktor pendukung stabil dan menguatnya rupiah. Pertama, meredanya risiko di pasar keuangan global terutama terkait ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China maupun di pasar keuangan.

Bahkan, lanjut Perry, banyak investor global termasuk pengelola investasi (fund manager) besar, melihat bahwa perang dagang tersebut tidak berdampak baik bahkan terhadap ekonomi AS sehingga mereka mulai kembali berinvestasi ke berbagai negara berkembang.

“Sekali lagi, perang dagang ini tidak berdampak baik, tidak hanya bagi ekonomi global tapi juga bagi ekonomi AS sehingga mereka mulai mengalokasikan portofolio yang tempo hari ditarik dari emerging market kembali ke emerging market,” kata Perry.

Selain itu, arus modal asing terlihat mulai masuk ke Indonesia kendati jumlahnya belum besar. Perry berharap pada lelang pekan depan akan banyak modal asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN).

“Sejauh ini, yang masuk lebih kepada di pasar sekunder belum terlalu besar,” kata Perry.

Sedangkan faktor kedua yang mendorong stabilnya rupiah yaitu keyakinan (confidence) investor baik domestik maupun global terhadap langkah-langkah kebijakan Bank Indonesia dan juga pemerintah, cukup kuat.

Pemerintah dan BI juga sempat berkomunikasi dengan sejumlah investor besar di Singapura, London dan New York. Mereka diklaim yakin terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

“Apalagi melihat kebijakan yang ditempuh oleh Indonesia baik di bidang kebijakan moneter yang “pre-emptive”, pendalaman pasar keuangan valas yang terus dilakukan, kebijakan fiskal yang “prudent” maupun juga langkah-langkah konkret pemerintah untuk turunkan defisit transaksi berjalan. Sehingga Indonesia dipandang memiliki prospek yang baik dan dibedakan dengan sejumlah negara “emerging market”,” ujar Perry.

Sementara itu, faktor terakhir yaitu semakin banyaknya eksportir dan pemilik valuta asing (valas) yang menjual valasnya ke pasar sehingga menambah suplai dolar domestik.

Perry pun mengapresiasi langkah para pengusaha dan eksportir tersebut. Ia pun mengimbau dan mengajak para pengusaha dan eksportir lainnya untuk menjual valasnya ke pasar.

“Saya mengajak pengusaha untuk semakin banyak menjual valasnya di pasar sehingga Rupiah semakin stabil. Semuanya ini sama-sama kita jaga stabiltas ekonomi karena memang ekonomi domestik kita itu cukup baik. Ekonomi tumbuh, konsumsinya terus meningkat, investasi meningkat, perbankan juga baik, semuanya baik,” ujar Perry. (cit)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Finansial

BI Prediksi September 2018 Deflasi 0,04 Persen

Published

on

Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Bank Indonesia (BI) memprediksi pada September 2018 akan terjadi deflasi sebesar 0,04 persen, setelah pada Agustus 2018 juga mengalami deflasi.

“Mengenai inflasi, kalau kita lihat dari survei pemantauan harga, diperkirakan September ini masih deflasi -0,04 month to month, year on year- nya 3,03 persen,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo saat ditemui di Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, Jumat (21/9/2018).

Perry menuturkan, pada September kecenderungan harga bahan-bahan makanan masih turun. Bahan makanan seperti daging sapi, daging ayam, dan telor masih turun, sedangkan beras relatif stabil.

“Ini membuktikan bahwa memang kebijakan yang ditempuh khususnya dari penyediaan pasokan dan distribusi dari pemerintah itu berjalan baik sehinga inflasi di Indonesia tetap rendah dan terkendali stabil,” kata Perry.

Oleh karena itu, ia meyakini target inflasi tahun ini 2,5-4,5 persen akan tercapai, bahkan cenderung akan lebih rendah dari titik tengahnya atau lebih rendah dari 3,5 persen.

Perry juga berterimakasih kepada pemerintah yang terus memasikan pasokan dan distribusi terutama bahan makanan tetap terjaga.

Sedangkan faktor kedua yang mendorong terjadinya deflasi yaitu ekspektasi inflasi yang tetap terjaga baik di tingkat konsumsn, produsen, maupun di pasar keuangan.

“Jadi ekspektasi inflasi itu terjaga,” ujar Perry.

Sementara itu, lanjut Perry, faktor terakhir yaitu kebijakan-kebijakan baik moneter, fiskal, maupun kebijakan lainnya untuk mengendalikan permintaan, tetap berjalan secara baik.

“Dalam konteks seperti ini kita tidak lihat dampak dari pelemahan nilai tukar Rupiah berdampak kepada harga. Terbukti perkembangan harga-harga tetap terkendali dan bahkan rendah,” kata Perry.

Pada awal bulan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Agustus 2018 terjadi deflasi 0,05 persen yang dipengaruhi oleh penurunan harga telur ayam, bawang merah, dan tarif angkutan udara. (cit)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Finansial

BEI Catat Obligasi Jakarta Lingkar Baratsatu Rp1,3 Triliun

Published

on

Bursa Efek Indonesia.

Zonaekonmi.com, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) meresmikan pencatatan perdana obligasi I PT Jakarta Lingkar Baratsatu (JLB) tahun 2018 sebesar Rp1,3 triliun.

Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko BEI, Fithri Hadi di Jakarta, Jumat (21/9/2018) mengatakan pencatatan obligasi itu diharapkan dapat diikuti perusahaan dalam rangka mendukung pembangunan infrastruktur di dalam negeri.

“Diharapkan perusahaan lain mengikuti sehingga dapat juga bermanfaat secara ekonomi bagi Indonesia dan mendukung infrastruktur Indonesia ke depannya,” ujarnya.

Direktur Utama JLB, Fatchur Rochman menambahkan obligasi yang ditawarkan kepada publik itu telah mendapat pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tanggal 12 September 2018.

“Kami mendapat sambutan yang cukup baik dengan adanya respon pasar yang cukup tinggi di tahun ini. Momentum ini tentunya kami jadikan acuan untuk dapat meningkatkan dan memperkuat kinerja serta struktur pendanaan perusahaan,” katanya.

Ia menambahkan dana dari hasil penerbitan obligasi itu akan digunakan untuk melunasi pinjaman bank yang merupakan kredit sindikasi dan kredit modal kerja. Obligasi itu terdiri dalam dua tenor, yakni seri A untuk tenor tiga tahun dan seri B untuk tenor lima tahun.

“Obligasi I JLB Tahun 2018 ini telah memperoleh hasil pemeringkatan idA+ (single A plus) dari PT Pemeringkatan Efek Indonesia (Pefindo),” paparnya.

JLB merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pembangunan jalan tol, dengan struktur pemegang saham yaitu PT Bangun Tjipta Sarana sebesar 64,8 persen, PT Margautama Nusantara sebesar 35 persen, dan PT Rekadaya Adicipta sebesar 0,2 persen.

Pada tahun 2007, JLB dan Pemerintah yang diwakili oleh Departemen Pekerjaan Umum telah menandatangani PPJT Ruas JORR W1 (Kebon Jeruk-Penjaringan) dengan masa konsesi selama 35 Tahun dari 2007 hingga 2042 termasuk masa konstruksi. Jalan Tol JORR W1 sepanjang 10 kilometer ini juga telah beroperasi sejak tahun 2010.

Saat ini JLB telah mengelola jaringan tol yang menghubungkan Penjaringan-Kebon Jeruk yang merupakan akses ke JORR W-2 dan Jalan Tol Jakarta-Tangerang, serta menghubungkan akses tol Bandara Soekarno Hatta. (zub)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending