Connect with us

Agribisnis

Menteri BUMN Borong Telur Asin di Karawang

Published

on

Menteri BUMN Rini Sumarno saat memborong telur asin batik karawang (Bakar).

Zoneekonomi.com, Karawang – Menteri BUMN Rini Sumarno memborong telur asin batik karawang (Bakar) untuk dibagikan kepada para petani saat panen bersama Menteri BUMN dalam rangka program kewirausahaan pertanian di Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, Kamis (19/4/2018).

Pada kesempatan itu, Rini membeli 400 butir telor asin dari stand telur asin yang merupakan binaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT Pupuk Kujang.

Setelah itu, Menteri BUMN kemudian membagikan telur asin yang diborongnya kepada para petani.

“Tadi bawa sekitar 1.000 telur asin, diborong bu menteri sekitar 400 butir,” kata Suhara Iskandar pelaku usaha telor asin Batik Karawang.

Harga satu butirnya itu mencapai Rp8.000.

Ia mengakui sudah menjadi binaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT Pupuk Kujang sejak satu tahun terakhir.

Dirinya diberikan pelatihan dan permodalan oleh perusahaan BUMN bidang pupuk itu.

Telur asin bakar adalah telur asin yang dilakukan pembatikan menggunakan double tape yang dibentuk pola batik seperti pola padi, daun dan bunga. Kemudian dilanjutkan dengan proses pengovenan.

“Telur asin yang ditutup double tape akan berwarna cokelat ketika dibakar, dan yang tidak ditutup akan berwarna aslinya,” kata dia. Budi Suyanto. (mak)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Agribisnis

Harga Cabai di Ternate Naik

Published

on

Harga cabai kriting dan cabai nona di Ternate, Maluku Utara (Malut) mengalami kenaikan menyusul berkurangnya stok akibat belum masuknya pasokan dari luar Ternate.

Zonaekonomi.com, Ternate – Harga cabai kriting dan cabai nona di Ternate, Maluku Utara (Malut) mengalami kenaikan menyusul berkurangnya stok akibat belum masuknya pasokan dari luar Ternate.

Pantauan Antara di Pasar Higinies Gamalama Ternate, Rabu (15/8/2018), menunjukkan harga cabai kriting yang sebelumnya Rp30.000 per kg naik menjadi Rp40.000 per kg, begitu pula cabai nona Rp30.000 naik menjadi Rp40.000 per kg.

Khususnya untuk nona harga Rp40.000 per kg itu masih dalam kategori normal, kecuali untuk cabai kriting sudah tergolong mahal, karena harga normalnya Rp30.000 per kg, bahkan tidak jarang hanya Rp20.000 per kg.

“Harga cabai nona dan cabai kriting tidak tertutup kemungkinan akan terus naik kalau stoknya masih terbatas, apalagi menghadapi lebaran Idul Adha permintaan konsumen meningkat,”kata salah seorang pedagang di Pasar Higinies Gamalama Ternate, Farida.

Sementara itu, untuk harga bawang merah dan bawang putih yang sebelumnya masing-masing mencapai Rp30.000 per kg, kini naik menjadi Rp40.000 per kg, karena stoknya di pasaran masih terbatas Menurut Farida, harga bawang merah dan bawang putih itu, tidak tertutup kemungkinan akan naik lagi, karena ketersediaan stoknya di pasaran saat ini terbatas, tetapi ia mengharapkan agar nanti stoknya tetap tersedia karena kebutuhan masyarakat semakin tinggi.

Harga tomat yang sebelumnya sempat menembus di angka Rp20.000 per kg, kini telah turun ke harga normal Rp10.000 per kg, bahkan untuk tomat yang kualitasnya mulai menurun pedagang menjualnya seharga Rp8.000 per kg.
Sedangkan harga sayuran lainnya seperti wortel dan kentang yang sebelumnya hanya Rp12.000 per kg kini naik menjadi Rp15.000 per kg, sementara untuk kol bertahan di angka Rp10.000 per kg, begitu pula sayur sawi tetap Rp5.000 per ikat. (abd)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Agribisnis

Harga Cabai Rawit di Kendari Naik Rp90.000/Kg

Published

on

Harga cabe rawit di sebagian pasar tradisional di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara seperti di pasar Mandonga, pasar Anduonuhu dan pada Baruga naik hingga mencapai mencapai Rp85.000 hingga Rp90.000 per kilogramnya.

Zonaekonomi.com, Kendari – Harga cabe rawit di sebagian pasar tradisional di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara seperti di pasar Mandonga, pasar Anduonuhu dan pada Baruga naik hingga mencapai mencapai Rp85.000 hingga Rp90.000 per kilogramnya.

Pantauan di Kendari, Senin (13/8/2018), naiknya harga cabe rawit produk petani lokal itu sudah berlangsung sekitar satu bulan karena dipengaruhi oleh musim pancaroba beberapa bulan ini.

“Kenaikan harga karena suplai dari cabe rawit lokal kurang, dan permintaan masyarakat cukup tinggi yang mana cabe rawit merupakan bumbu dapur yang utama dalam setiap masakan,” ujar Hasni (41) salah seorang pedagang campuran bumbu di Mandonga.

Ia mengatakan kenaikan harga cabe rawit diperkirakan akan terus menanjak naik karena lebaran Idul Adha kurang dari 10 hari yang otomatis akan tingginya permintaan.

Kepala Seksi Stabilisasi Harga Barang Pokok, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Darmin mengakui adanya kenaikan harga cabe rawit lokal dipasaran, yang berdasarkan data terakhir yang dimiliki harga cabai rawit lokal Rp75.000 per kilogram.

“Sebenarnya stok cabai rawit lokal masih cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar, namun terkadang di pasaran ada saja pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan keuntungan, sehingga dapat memicu harga yang naik begitu cepat,” ujarnya.

Sebab, mengenai harga cabe maupun produk komoditi lainnya, pihak dinas tidak bisa mengintervensi masalah harga karena sudah menjadi mekanisme pasar yang sewaktu-waktu naik maupun harganya turun,” ujarnya.

Darmin menambahkan, biasanya harga tertinggi biasanya dijual oleh para pedagang eceran yang mengambil stok cabe rawit lokal di pasar yang sama, kemudian di jual kembali kepada pedagang pengumpul .

Ia mencontohkan, bahwa terkadang di pasar yang sama, satu orang pedagang yang menjual dalam stok banyak, harganya tentu tidak sama dengan harga sebelumnya sehingga harga bisa lebih tinggi dan bisa di bawa harga.

“Yang pasti adalah Disperindag tidak memiliki kewenangan untuk melarang apalagi menyuruh para pedagang untuk menurunkan harga sepihak, sebab konsekuensinya juga akan berdampak pada pedagang itu sendiri,” tuturnya. (aas)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Agribisnis

Sigi Panen Raya Jagung Varietas Nasa 29

Published

on

Bupati Sigi Muhammad Irwan saat Panen Raya Jagung varietas NASA 29 dan temu lapang di Desa Kalawara, Desa Bombasa, Kab. Sigi, Sulteng, Rabu (8/8/2018).

Zonaekonomi.com, Jakarta – Bupati Kabupaten Sigi Muhammad Irwan mengatakan terima kasih ke kementan karena telah menjadikan wilayahnya sebagai lokasi pembangunan pertanian melalui program Upsus Pajala dan mampu memproduksi jagung varietas Nasa 29 sebesar 11 ton per hektar.

“Sigi mampu produksi jagung sekitar 11 ton per hektar,” kata Bupati Sigi Muhammad Irwan saat Panen Raya Jagung Nasa 29 dan Temu Lapang di Desa Kalawara, Desa Bombasa, Kab. Sigi, Sulteng, Rabu (8/8/2018).

Lebih lanjut Irwan mengatakan bahwa pemerintah Kabupaten Sigi berterima kasih dan mengapresiasi Kementan yang telah mendukung pembangunan pertanian melalui program Upsus Pajala.

“Pembangunan pertanian di Sigi menjadi prioritas karena sektor pertanian merupakan andalan dan mata pencaharian sebagian besar masyarakat”, kata Irwan menambahkan.

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan Dr Mat Syukur dalam sambutannya mengatakan bahwa luas tambah tanam (LTT) padi Kab. Sigi naik signifikan dibanding tahun sebelumnya.

“Saya berharap LTT jagung juga meningkat”, kata Mat Syukur.

Sementara Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Prof. Dedi Nursyamsi sekaligus penanggungjawab Upsus Propinsi Sulteng mengatakan wilayah Sigi sesuai untuk pengembangan jagung.

“Jagung memerlukan curah hujan sekitar 100-150 mm/bulan”, kata Dedi.

Kalau terlalu basah, tambahnya jagung rentan jamur aflatoksin dan penyakit busuk tongkol. Sebaliknya kalau terlalu kering, jagung bisa bisa kekeringan sehingga produksinya rendah.

Di tempat yang sama, Kepala Balai Penelitian Serealia (Balitsereal) Maros Dr Muhammad Azrai mengatakan bahwa varietas Nasa 29 yang diberi nama oleh Presiden Jokowi mempunyai opotensi ahasil 12,5 t/ha. Varietas ini mempunyai tongkol gan sekitar 80 persen dari populasinya dan preosentase ini meningkat dengan meningkatnya ketinggian lahan. “Faktor inilah yang menyababkan produktivitas Nasa 29 tinggi”, ujar Azrai menambahkan.

Badan Litbang Pertanian siap mendukung pengembangan jagung di Kabupaten Sigi, kata Dr Andi Baso, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulteng. Andi mengatakan bahwa BPTP siap nendampingi dan menyediakan benih sumber. (jak)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending