Connect with us

Finansial

Hari ini Rupiah Melemah 20 Poin

Published

on

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu (02/5/2018) pagi bergerak melemah sebesar 20 poin.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu (02/5/2018) pagi bergerak melemah sebesar 20 poin menjadi Rp13.933 dibanding posisi sebelumnya Rp13.913 per dolar AS.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Rabu mengatakan bahwa inflasi Amerika Serikat yang mendekati target The Fed memberikan sinyal untuk kenaikan suku bunga AS.

“Inflasi Amerika Serikat yang mendekati target The Fed memicu terapresiasinya dolar AS,” katanya.

Ia mengemukakan inflasi Amerika Serkat di level 1,9 persen pada Maret tahun ini. Angka itu mendekati target the Fed yang sebesar 2 persen.

“Di tengah situasi itu, pelaku pasar uang cenderung mengambil posisi masuk ke aset berdenominasi dolar AS,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pelaku pasar uang juga fokus pada laporan data Non-Farm Payroll (NFP) Amerika Serikat pada akhir pekan ini, yang dapat memberikan tanda-tanda kekuatan lebih lanjut dalam ekonomi AS.

Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail mengatakan kemungkinan naiknya tingkat suku bunga The Fed serta harga minyak dunia di atas level 72 dolar AS per barel turut membebani nilai tukar rupiah.

“Rupiah kemungkinan bergerak di rentang Rp13.900-Rp14.000 per dolar AS pada hari ini,” paparnya, seperti dikutip Antara. (zmr)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Finansial

Bankir Nilai BI Tidak Perlu Naikkan Suku Bunga

Published

on

Direktur Keuangan dan Treasuri BTN, Iman Nugroho Soeko.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Bank Indonesia dinilai tidak perlu menaikkan suku bunga acuan pada rapat kebijakan Rabu (15/8/2018) karena amunisi “pengetatan moneter” sebaiknya disimpan untuk menghadapi dua kali kenaikan suku bunga Federal Reserve di sisa tahun, kata seorang bankir.

Direktur Keuangan dan Treasuri BTN Iman Nugroho Soeko di Jakarta, Selasa (14/8/2018) mengatakan tekanan global dari krisis keuangan di Turki yang telah melemahkan nilai rupiah, belum begitu relevan menjadi alasan Bank Sentral untuk menaikkan suku bunga “7-Day Reverse Repo Rate”.

Posisi suku bunga acuan BI saat ini sebesar 5,25 persen yang telah naik 100 basis poin sejak awal tahun, kata Iman, masih cukup memadai. Lebih baik, BI melihat dahulu efek rambatan dari kenaikan suku bunga acuan yang telah dilakukan.

“Tekanan rupiah saat ini hanya karena kepanikan asing yang keluar dari `emerging market` karena situasi kejatuhan mata uang Lira Turki,” ujar dia.

Depresiasi Lira yang begitu dalam dan pertikaian Tukri dengan AS membuat investor asing panik dan melarikan investasi valasnya dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Padahal perlu diingat, kata Iman, Turki bukan negara mitra dagang utama Indonesia sehingga krisis keuangan di Turki tidak akan serta merta langsung berdampak ke Indonesia, meskipun memang tetap perlu diwaspadai terkait dampak dari pelemahan nilai tukarnya.

“Lebih relevan jika kenaikan bunga untuk antisipasi The Fed,” ujar Iman.

The Fed kuat diperkirakan konsensus pasar akan menaikkan suku bunga acuannya dua kali lagi pada tahun ini dari level sekarang di 1,75-2 persen.

Ekonom PT. Bank Permata Tbk Joshua Pardede menilai Bank Sentral masih perlu mempertahankan kebijakan untuk meningkatkan ketertarikan asing terhadap aset-aset rupiah. BI dinilai dia masih memiliki ruang kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin di sisa tahun ini.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo kepada Antara pada Senin (14/8) mengatakan BI masih menimbang opsi menaikkan suku bunga acuan di Agustus 2018 ini untuk menstabilkan nilai tukar, di samping upaya intervensi ganda di pasar valas dan Surat Berharga Negara. (iap)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Finansial

BNI Pionir Penyaluran KUR untuk Petani Garam

Published

on

BNI menjadi pionir dalam menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) kepada petani garam untuk memperluas cakupan penerima KUR dengan meluncurkan KUR Usaha Garam Rakyat sejak awal Agustus 2018.

Zonaekonomi.com, Jakarta – BNI menjadi pionir dalam menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) kepada petani garam sejalan dengan kebijakan pemerintah yang makin memperluas cakupan penerima KUR dengan meluncurkan KUR Usaha Garam Rakyat sejak awal Agustus 2018.

“Melalui program perluasan KUR kepada sektor garam dan dengan strategi sinergi BUMN-PT Garam, maka BNI yakin akan terus dapat meningkatkan pembiayaan ke sektor produksi, khususnya dengan penyaluran KUR sektor produksi di cluster-cluster produksi garam,” kata Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan BNI Catur Budi Harto dalam keterangan tertulis BNI di Jakarta, Selasa (14/8/2018).

Disebutkan, sampai dengan Juli 2018, penyaluran KUR BNI telah mencapai Rp10,07 triliun atau 75 persen dari alokasi plafon KUR 2018 yang diberikan kepada BNI sebesar Rp13,5 triliun.

Khusus pembiayaan kepada sektor garam, katanya, BNI telah menyalurkan kredit segmen kecil produktif sebesar Rp7,4 miliar pada cluster-cluster garam binaan di Sumenep, Jawa Timur; Indramayu, Jawa Barat; dan Bipolo, NTT.

Penyaluran KUR untuk pertama kali kepada Petani Garam ini dilaksanakan secara simbolis bersamaan dengan acara Panen Raya Garam Rakyat mitra PT Garam di Desa Bipolo, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (14/8).

Acara tersebut dihadiri oleh Menteri BUMN Rini M Soemarno, Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan BNI Catur Budi Harto, Direktur Utama PT Garam (Persero) Budi Sasongko, serta masyarakat Bipolo, Sulamu.

Kupang memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi sentra garam, hal ini didukung oleh kondisi geografis, lahan, salinitas air laut, dan klimatologi.

Untuk itu, Kementerian BUMN mendorong PT Garam untuk melakukan pengelolaan potensi garam ini dengan mendirikan unit produksi garam dengan sistem bagi hasil dengan warga setempat di Bipolo yang saat ini telah memiliki luas lahan 304 hektare (ha) dari potensi 7.700 ha.

Dalam rangka meningkatkan potensi garam tersebut, kata Catur, BNI bersinergi dengan PT Garam dengan melakukan Penandatanganan Kerja Sama (PKS) untuk dapat melakukan percepatan. PKS ini tidak hanya mengatur penyediaan permodalan, namun juga “capacity buiding” pengelolaan garam oleh rakyat.

Catur menjelaskan dengan kerja sama tersebut, BNI memungkinkan untuk menyalurkan KUR. BNI juga bekerja sama sama dengan PT Garam menggelar “capacity building” untuk memberikan pemahaman masyarakat bahwa menjadi petani garam itu lebih menguntungkan.

Selain itu, juga memberikan pembinaan tentang cara meningkatkan produksi garam. Kegiatan tersebut diiikuti oleh 100 petani dan calon petani garam.

Melalui sinergi BNI dan PT Garam ini petani akan mendapatkan berbagai manfaat, yaitu Pertama, mendapatkan pembinaan, akses pembiayaan, dan akses pasar hasil panen garam. Kedua, kualitas dan produktivitas sesuai dengan standar garam konsumsi dan industri nasional. Ketiga, harga jual garam lebih pasti dan lebih tinggi dari harga pasar.

“Dengan demikian pada akhirnya pendapatan dan kesejahteraan petani garam akan meningkat. Sinergi ini menjadi awal yang positif dan motivasi kami untuk terus berupaya dalam peningkatan kesejahteraan petani dan pengembangan dalam sektor produksi garam rakyat,”kata Catur. (ahm)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Finansial

Bank Pemerintah Belum Khawatirkan Kurs Rp14.600

Published

on

Himbara mengaku tidak mengkhawatirkan kemampuan bayar debitur khususnya importir menyusul pelemahan kurs rupiah pada Senin (13/8/2018), yang menyentuh batas psikologis baru yakni Rp14.600 per dolar AS.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara) mengaku tidak mengkhawatirkan kemampuan bayar debitur khususnya importir menyusul pelemahan kurs rupiah pada Senin (13/8/2018), yang menyentuh batas psikologis baru yakni Rp14.600 per dolar AS.

Sekretaris Himbara Budi Satria di Jakarta, Senin (13/8/2018), mengatakan sejak awal 2018 para bankir sudah meramalkan berlanjutnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Sejak saat itu pula, bankir memitgasi risiko dengan membatasi penyaluran pinjaman berdenominasi valas.

Di samping itu, Budi mengklaim, kepatuhan debitur melakukan lindung nilai (hedging) utang valasnya sudah meningkat, sehingga risiko pembengkakan pengeluaran debitur karena selisih kurs bisa dikurangi.

“Bank Himbara konservatif dalam pinjaman valas. Masing-masing bank juga mengelola risiko profilnya dengan baik,” ujar Budi.

Himbara sudah melakukan simulasi dan uji ketahanan (stress test) untuk melihat rentang kurs yang aman bagi kinerja perbankan.

Namun, Budi enggan mengungkapkan rentang kurs itu, hanya saja kurs saat ini yang sebesar Rp14.600 per dolar AS, masih dalam rentang yang aman.

“Masih dapat kami kendalikan,” ujar Budi, yang juga Direktur Konsumer PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN).

Himbara terdiri dari empat bank besar di Indonesia yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk , PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan BTN.

Pada Senin ini, nilai tukar rupiah melemah hingga 157 poin menjadi Rp14.643 dibanding posisi sebelumnya Rp14.486 per dolar AS pada pembukaan perdagangan.

Bank Indonesia menyebut tekanan terhadap rupiah Senin ini karena rentetan aksi investor yang mewaspadai efek berlanjutnya tekanan perekonomian Turki ke pasar keuangan global.

Pasar keuangan global sedang bergejolak karena kekhawatiran merambatnya imbas negatif dari gejolak sistem keuangan di Turki.

Mata uang lira telah anjlok sedemkian parah dan Senin ini berada di posisi 7,24 lira per dolar Amerika Serikat (AS).

Angka itu menunjukkan Lira Turki telah melemah melebihi 40 persen sepanjang 2018.

Gejolak sistem keuangan di Turki berawal dari intervensi yang terlalu kuat dari Presiden Turki Erdogan untuk menurunkan suku bunga acuan, dan memburuknya hubungannya Turki dengan Amerika Serikat.

Di kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) yang diumumkan BI Senin ini, satu dolar AS setara dengan Rp14.583 per dolar AS atau menunjukkan depresiasi rupiah sebesar 146 poin dibanding Jumat (10/8 ) yang sebesar Rp14.437 per dolar AS. (iap)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending