Connect with us

Finansial

IHSG BEI Dibuka Melemah 22,89 poin

Published

on

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (8/5/2018) dibuka melemah sebesar 22,89 poin.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa, dibuka melemah sebesar 22,89 poin terpengaruh pergerakan nilai tukar rupiah yang mengalami depresiasi.

IHSG BEI dibuka melemah 22,89 poin atau 0,39 persen ke posisi 5.862,20. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak turun 5,92 poin (0,63 persen) menjadi 935,11.

“Nilai tukar rupiah yang mengalami depresiasi terhadap dolar AS menjadi salah satu faktor yang menahan laju IHSG untuk bergerak di area positif,” kata Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (8/5/2018).

Reza mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah dikhawatirkan dapat menekan kinerja perusahaan yang bahan bakunya berbasis impor serta memiliki utang valas.

Ia menambahkan sentimen aksi ambil untung pasca IHSG mengalami apresiasi pada awal pekan Senin (7/5/2018) juga turut mempengaruhi pergerakan pasar saham. Sebagian investor cenderung memanfaatkan penguatan saham sebelumnya.

Ia mengharapkan sentimen dari dalam negeri yang relatif positif menyusul membaiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama dapat menjaga kepercayaan investor.

Sementara itu, Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere mengatakan bahwa berkenaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah, diperkirakan bersifat sementara.

“Fluktuasi rupiah yang terjadi akhir-akhir ini, terutama dipengaruhi oleh kebijakan The Fed yang menaikkan suku bunga acuan pada Maret 2018 dan diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga acuan hingga tiga kali pada tahun 2018,” kata Nico Omer.

Bursa regional, di antaranya indeks Nikkei naik 92,31 poin (0,41 persen) ke 22.559,47, indeks Hang Seng menguat 368,60 poin (1,23 persen) ke 30.362,86, dan Straits Times menguat 6,91 poin (0,20 persen) ke posisi 3.539,77. (zmr)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Finansial

Pengusaha Tidak Kaget BI Naikkan Suku Bunga

Published

on

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (tengah) didampingi Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara (kedua kiri), para Deputi Gubernur Sugeng (kiri), Erwin Rijanto (kedua kanan) dan Rosmaya Hadi bersiap menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor pusat BI, Jakarta, Rabu (15/8/2018).

Zonaekonomi.com, Jakarta – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani mengatakan dunia usaha tidak mengalami kepanikan atas langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 0,25 persen menjadi 5,5 persen.

“Kami tidak kaget atau heran karena kami sudah antisipasi ini menjadi 5,5 persen. Selama sudah diantisipasi, bukan suatu hal yang mengakibatkan kami panik,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu malam (15/8/2018).

Ia mengatakan bahwa pengusaha sudah menduga ada penaikan suku bunga acuan BI dengan melihat Bank Sentral AS kemungkinan masih akan menaikkan suku bunganya dua kali pada tahun ini.

Oleh karena itu, para pelaku usaha sudah memasukkan faktor peningkatan suku bunga tersebut ke dalam perencanaan. Rosan juga memastikan bahwa tidak ada kepanikan dari pelaku usaha atas langkah yang ditempuh BI tersebut.

Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate 0,25 persen menjadi 5,5 persen untuk mengurangi defisit neraca transaksi berjalan dan menarik modal asing dengan harapan meningkatkan daya tarik aset rupiah.

Baca juga: Perbaiki transaksi berjalan, BI naikkan bunga acuan

Kenaikan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate oleh Bank Indonesia dinilai bisa menjadi pilihan paling memungkinkan untuk menjaga nilai rupiah agar tidak melemah lebih dalam dari nilai fundamentalnya.

Rosan menjelaskan dunia usaha memahami bahwa apabila pelemahan rupiah terjadi secara terus-menerus, maka akan muncul potensi peningkatan biaya dana (cost of fund) karena 70 persen bahan baku dari impor.

Menghadapi hal tersebut, dunia usaha memiliki pilihan untuk melakukan efisiensi, membebankannya ke konsumen, atau kombinasi dari keduanya.

“Dengan adanya fasilitas swap jangka panjang, dunia usaha mendapatkan kepastian sehingga perencanaan menjadi lebih pasti. Dunia usaha itu tidak suka ada kejutan, kami ingin kestabilan,” ujar Rosan. (cal)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Finansial

Kurangi Tekanan Rupiah, BI Minta Korporasi Tidak Borong Valas

Published

on

Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Bank Indonesia (BI) meminta dunia usaha tidak memaksakan diri untuk “memborong” valuta asing (valas) dalam jumlah besar saat ini, jika tidak diperlukan, supaya tekanan nilai tukar rupiah dapat berkurang.

Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Rabu (15/8/2018), mengatakan dunia usaha bisa memanfaatkan fasilitas penukaran (swap) lindung nilai (hedging) ataupun forward agar tidak menderita kerugian dari selisih kurs saat menarik valas beberapa waktu mendatang.

“Bagi korporasi yang butuhkan valasnya enam bulan lagi, tidak usah nubruk dolar,” katanya.

Dalam beberapa hari terakhir, Bank Sentral bisa membuka dua kali fasilitas kepada pelaku pasar untuk menggunakan swap atau sederhananya disebut barter dengan agunan. Fasilitas swap pada pagi hari ditujukan bank sentral untuk operasi moneter guna menjaga kecukupkan likuiditas. Fasilitas swap kedua di siang hari untuk lindung nilai dari volatilitas kurs.

“Jika ada kebutuhan rupiah dan ingin ingin memegang doalrnya, bisa memanfaatkan swap hedging ini sepanjang punya underlying-nya (kolateral),” ujar dia.

Saat ini, melalui operasi moneter BI, menurut Perry, biaya atau bunga swap sudah lebih murah namun tetap terbentuk dari mekanisme pasar. Maka dari itu, swap lindung nilai, menurut dia, semestinya bisa dimanfaatkan dunia usaha.

Misalnya untuk tenor swap satu bulan telah menurun dari 4,85 persen menajdi 4,62 persen. Kemudian swap tenor satu tahun telah menurun dari 5,18 persen menjadi 4,9 persen setelah.

Berdasarkan catatan Antara, pada awal 2018 lalu, bunga swap masih sempat berada di level tiga persen, tetapi naik, karena tingginya permintaan lindung nilai, yang juga disebabkan pelemahan rupiah. (iap)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Finansial

Menkeu : Pengurangan Impor Peluang Bagi Industri dalam Negeri

Published

on

Zonaekonomi.com, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan rencana pengurangan impor untuk memperbaiki kinerja neraca transaksi berjalan memberikan peluang bagi industri dalam negeri guna memperkuat daya saing.

“Salah satu benang merah yang bisa kita manfaatkan adalah industri dalam negeri harus melihat ini sebagai peluang,” ujar Sri Mulyani saat ditemui di Jakarta, Rabu (15/8/2018).

Sri Mulyani mengatakan rencana pengendalian impor bisa membuat pasokan barang impor menjadi terbatas sehingga mau tidak mau kebutuhan harus dipenuhi dari dalam negeri.

Selain itu, tambah dia, tekanan global yang memicu terjadinya perlemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS bisa membuat pengusaha enggan untuk mengimpor barang, karena harga impor barang menjadi lebih mahal.

Dengan kondisi tersebut, pelaku usaha bisa memperoleh peluang untuk menyediakan pasokan dalam negeri yang dibutuhkan oleh masyarakat agar ketergantungan terhadap impor berkurang.

Untuk itu, pemerintah akan memperkuat daya saing industri melalui berbagai relaksasi atau pemberian insentif agar barang subtitusi impor bisa hadir di dalam negeri.

“Kita akan melihat halangannya, apakah mereka tidak punya akses keuangan, apakah mereka tidak punya technical, ataukah mereka perlu insentif yang lain,” ujar Sri Mulyani.

Sebelumnya, pemerintah berupaya untuk menekan defisit neraca transaksi berjalan dengan mengkaji ulang proyek infrastruktur pemerintah yang selama ini menggunakan bahan baku maupun bahan penolong impor.

Upaya lain yang akan dilakukan adalah dengan mengurangi impor 500 jenis komoditas di sektor perdagangan maupun perindustrian, yang bisa diproduksi di dalam negeri. (sat)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending