Connect with us

Internasional

Harga Minyak Menguat Didukung Laporan Proyeksi Energi EIA

Published

on

Harga minyak menetap lebih tinggi pada penutupan perdagangan Selasa (10/7/2018).

Zonaekonomi.com, New York – Harga minyak menetap lebih tinggi pada penutupan perdagangan Selasa (10/7/2018) (Rabu pagi WIB), karena para pedagang mencerna laporan prospek energi jangka pendek dari Badan Informasi Energi AS (EIA).

Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus, naik 0,26 dolar AS menjadi menetap di 74,11 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, patokan internasional, minyak mentah Brent untuk pengiriman September, bertambah 0,79 dolar AS menjadi 78,86 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

EIA memperkirakan dalam sebuah laporan bahwa harga minyak mentah Brent akan mencapai rata-rata 73 dolar AS per barel pada paruh kedua tahun 2018 dan akan mencapai rata-rata 69 dolar per barel pada 2019.

Lembaga tersebut juga memproyeksikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) akan mencapai rata-rata enam dolar AS per barel lebih rendah dari harga Brent pada paruh kedua 2018 dan tujuh dolar AS per barel lebih rendah pada 2019.

Sementara itu, EIA memperkirakan produksi minyak mentah AS mencapai rata-rata 10,8 juta barel per hari pada 2018, naik dari 9,4 juta barel per hari pada 2017, dan menjadi rata-rata 11,8 juta barel per hari pada 2019.

Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa kenaikan harga minyak juga dipicu oleh penarikan stok minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan dan kekhawatiran pasokan di Norwegia dan Libya, meskipun kenaikan itu dihambat oleh indikasi bhawa Amerika Serikat akan mempertimbangkan permintaan keringanan dari sanksi minyak Iran.

Persediaan minyak mentah AS turun minggu lalu sebesar 6,8 juta barel, menurut data dari kelompok industri American Petroleum Institute (API). Penurunan itu lebih besar dari yang diperkirakan, menyebabkan harga minyak mentah berjangka naik dalam perdagangan pasca-penyelesaian.

Para analis yang disurvei oleh Reuters meramalkan bahwa persediaan minyak mentah turun rata-rata 4,5 juta barel, di depan data pemerintah yang akan dirilis pada pada Rabu pukul 10.30 pagi waktu setempat (14.30 GMT). Demikian dilansir Xinhua, Reuters. (ape)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Internasional

Presiden Iran : Sanksi “Kejam” AS Tak akan Hentikan Ekspor Minyak Iran

Published

on

Presiden Iran, Hassan Rouhani.

Zonaekonomi.com, Teheran – Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan Amerika Serikat (AS) tidak akan dapat menghentikan ekspor minyak Iran.

Ia mengatakan Iran akan terus menjual minyak mentahnya di pasar internasional meski ada sanksi-sanksi AS yang “kejam”.

Iran akan melanggar sanksi-sanksi yang dijatuhkan oleh Washington atas Teheran dengan cara yang “tepat”, Rouhani mengatakan tidak lama setelah putaran baru sanksi-sanksi anti-Iran diberlakukan oleh AS pada Senin waktu setempat.

“Dengan bantuan rakyat, dan persatuan yang ada di masyarakat kami, kami harus membuat Amerika mengerti bahwa mereka tidak boleh menggunakan bahasa kekuatan, tekanan, atau ancaman, untuk berbicara dengan bangsa Iran yang besar. Mereka harus dihukum secepatnya dan selamanya,” ujar Rouhani seperti dikutip oleh Press TV.

Para pejabat AS telah memahami bahwa mereka tidak dapat mengganti minyak Iran di pasar, katanya, menambahkan bahwa sekalipun jika mereka tidak memberikan keringanan ke beberapa negara untuk tetap memperdagangkan minyak dengan Iran. “Kami masih akan dapat menjual minyak kami dan kami memiliki kemampuan yang memadai untuk melakukan itu.”

Semua sanksi-sanksi AS terhadap Iran yang telah dihapus berdasarkan kesepakatan nuklir Iran 2015 dipulihkan kembali oleh Amerika Serikat pada Jumat (2/11) dan mulai berlaku pada Senin (5/11).

Embargo AS menargetkan banyak “sektor penting” negara itu seperti energi, perkapalan, pembuatan kapal, dan keuangan.

Washington menuduh Iran mengguncang ketidakstabilan regional dan mengekspor kekerasan, yang telah dibantah oleh Teheran.

Presiden AS Donald Trump, yang mengakhiri perjanjian nuklir Iran yang menang dengan susah payah pada 8 Mei, mengatakan bahwa itu adalah “salah satu kesepakatan terburuk dan paling berat yang pernah dilakukan Amerika Serikat.”

Pada Senin (5/11), Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif di akun twitter resminya mengecam penolakan AS terhadap konvensi-konvensi internasional.

“AS menentang pengadilan tinggi PBB dan Dewan Keamanan dengan menerapkan kembali sanksi-sanksi terhadap Iran yang menargetkan orang biasa,” kata Zarif.

“Tapi bullying AS adalah bumerang, bukan hanya karena JCPOA (kesepakatan nuklir) penting, tetapi karena dunia tidak dapat mengizinkan Trump untuk menghancurkan tatanan global. AS, bukan Iran, terisolasi,” Zarif menambahkan.

Sebelumnya Zarif mengatakan bahwa putaran baru sanksi AS terhadap Iran telah gagal memangkas ekspor minyak Teheran ke nol.

Penarikan AS dari JCPOA multilateral pada Mei adalah “skandal” untuk Washington, katanya.

“Kita bisa melihat … JCPOA sangat mendukung kepentingan Iran bahwa Amerika menarik diri dari skandal itu,” kata Zarif kepada parlemen Iran.

Selain itu, diplomat utama Iran itu menyentuh tentang kemungkinan negosiasi antara AS dan Republik Islam dalam kondisi tertentu.

Zarif mengatakan bahwa pembicaraan dengan AS mengenai perjanjian nuklir baru tetap terbuka jika Washington mengubah pendekatannya pada kesepakatan nuklir internasional 2015, Press TV melaporkan.

Iran akan mempertimbangkan diplomasi baru jika ada “dasar untuk dialog yang bermanfaat” tentang kesepakatan nuklir Iran, kata Zarif.

Namun, pemerintah AS saat ini “tidak percaya pada diplomasi. AS percaya pada tekanan,” tambahnya.

“Ini rasa saling menghormati, bukan rasa saling percaya yang merupakan persyaratan untuk memulai negosiasi,” kata Zarif. Demikian laporan yang dikutip dari Xinhua. (pep)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Internasional

Indonesia-Australia Sepakati Penguatan Komitmen Perekonomian

Published

on

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Australian Treasurer Josh Frydenberg MP saat menandatangani Nota Kesepahaman Program Kemitraan Indonesia Australia untuk Perekonomian.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Pemerintah Indonesia dengan Australia menyepakati penguatan komitmen dalam bidang perekonomian dan fiskal untuk meningkatkan kerja sama antar kedua negara yang telah terjalin sebelumnya.

Keterangan pers Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan di Jakarta, Senin (5/11/2018), menyatakan kerja sama ini perlu pembaruan informasi kebijakan dan berbagi pengalaman masing-masing.

Nota Kesepahaman Program Kemitraan Indonesia Australia untuk Perekonomian (Prospera) ini ditandatangani oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Australian Treasurer Josh Frydenberg MP di Canberra, Australia.

Beberapa hal yang menjadi cakupan kerja sama antara lain melalui kunjungan bilateral, konferensi atau lokakarya, penelitian bersama, pertukaran informasi, magang atau pertukaran pegawai, dan jadwal kerja sama tahunan.

Kedua pihak juga akan memfasilitasi pertukaran dan pembagian informasi mengenai praktik kebijakan yang terbaik dan berbagi pengalaman teknis melalui Prospera.

Dengan komitmen ini, maka sejumlah staf senior Austalian Treasury ditempatkan di kantor Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyambut baik komitmen ini serta keinginan pemerintah Australia untuk berbagi pengalaman dalam pengelolaan fiskal dan reformasi perpajakan.

Kerja sama ini memperbaharui nota kesepahaman antar kedua negara sebelumnya yang ditandatangani pada tahun 2013.

Sebelumnya, Australian Treasury dan BKF telah mengadakan dialog kebijakan ekonomi bilateral (Bilateral Economic Policy Dialogue).

Setiap tahun, kedua otoritas fiskal mendiskusikan dan menentukan prioritas bersama atas keterlibatan serta kerja sama terkait kebijakan di tahun mendatang dan diadakan di lokasi yang bergantian.
Berbagai topik yang telah dibahas dalam BEPD antara lain topik internasional, regional, maupun bilateral yang menjadi kepentingan bersama. (sat)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Internasional

Perang Dagang Amerika Serikat-China Memanas

Published

on

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

Zonaekonomi.com, Beijing – Amerika Serikat dan China meningkatkan perang dagang mereka, yang sengit, pada Kamis (23/8/2018),dengan menerapkan tarif 25 persen atas komoditi satu sama lain senilai 16 miliar dolar AS (sekitar Rp234 triliun).

Perang itu memanas bahkan pada saat pejabat tingkat menengah dari kedua negara memulai kembali pembicaraan di Washington.

Dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu saling balas mengeluarkan tarif pada produk, yang jika digabungkan bernilai 100 miliar dolar (Rp1,4 biliun), sejak awal Juli.

Kementerian Perdagangan China mengatakan Washington “masih keras kepala” dengan menerapkan tarif terbaru.

Tarif itu akan diberlakukan kedua pihak terhitung mulai pukul 12.01 di Beijing (19.01 WIB). kata Reuters.

“China dengan tegas menentang (penerapan tarif) ini, dan akan terus mengambil langkah-langkah pembalasan,” kata kementerian dalam pernyataan singkat.

“Pada saat sama, untuk melindungi sistem perdagangan bebas dan multilateral serta membela kepentingan-kepentingannya yang sah, China akan mengajukan tuntutan menyangkut penerapan tarif-tarif ini melalui mekanisme penyelesaian sengketa WTO,” kata kementerian itu merujuk pada Badan Perdagangan Dunia.

Presiden Donald Trump sudah mengancam akan memberlakukan tarif pada hampir seluruh impor barang dari China, yang bernilai lebih dari 500 miliar dolar (Rp7,3 biliun), setiap tahunnya kecuali jika Beijing setuju untuk membersihkan dan mengubah praktik hak cipta, program subsidi industri, struktuf tarif serta lebih banyak membeli produk-produk AS.

Nilai itu akan lebih besar dibandingkan impor China dari Amerika Serikat. Kemungkinan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa Beijing akan mempertimbangkan mengeluarkan bentuk-bentuk pembalasan lainnya, seperti membuat keberadaan perusahaan-perusahaan Amerika di China lebih sulit atau mengizinkan mata uangnya, yuan, melemah supaya dapat mendorong para perusahaan ekspor negaranya.

Gedung Putih tampaknya meyakini bahwa AS sedang menang dalam perang dagang dengan China karena perekonomian China melambat dan pasar modalnya jatuh.

“Mereka tidak akan menyerah begitu saja. Tentunya mereka akan sedikit melakukan pembalasan,” kata Menteri Perdagangan Amerika Serikat, Wilbur Ross, di NBC pada Rabu.

“Tapi pada akhirnya, kita punya lebih banyak amunisi dibandingkan mereka. Mereka tahu itu. Kita punya perekonomian yang jauh lebih kuat dibandingkan mereka, mereka juga tahu soal itu,” kata Ross.

Pakar ekonomi memperhitungkan bahwa setiap impor senilai 100 miliar dolar, yang terkena tarif, akan menurunkan perdagangan dunia sekitar 0,5 persen. (ant)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending