Connect with us

Trade

Harga Telur Ayam Melonjak di Solo

Published

on

Harga telur ayam di Kota Solo melonjak setelah Lebaran dari di kisaran Rp23.000/kg menjadi Rp25.000/kg.

Zonaekonomi.com, Solo – Harga telur ayam di Kota Solo melonjak setelah Lebaran dari di kisaran Rp23.000/kg menjadi Rp25.000/kg, tanpa para pedagang tahu apa penyebabnya.

“Biasanya memang setelah Lebaran ada kenaikan harga, saya juga tidak tahu penyebabnya apa,” kata salah satu pedagang Devi Luvitasari di Pasar Gede Surakarta, Rabu (4/7/2018).

Bahkan, sebelum di harga Rp23.000/kg komoditas tersebut di kisaran harga Rp21.000/kg. Menurut dia, kenaikannya bertahap hingga setelah lebaran ini.

Ia mengatakan meski harganya naik sejauh ini tidak ada penurunan pembelian dari masyarakat. Menurut dia, dalam satu hari penjualannya bisa antara 2-3 kotak.

“Kalau musim orang punya hajat dalam satu hari bisa laku sampai 3 kotak, kalau hari normal paling 2 kotak. Untuk satu kotak isinya 15 kg,” katanya.

Pedagang lain Tutik mengatakan saat ini telur yang dijualnya di harga Rp24.500/kg. Sebelum di harga tersebut, telur ayam di kisaran Rp21.000/kg.

“Biasa, pascalebaran pasti naik harganya. Padahal permintaan juga biasa saja, sehari antara 10-12 kotak yang isinya 15 kg/kotaknya,” katanya.

Sementara itu, untuk daging ayam saat ini di kisaran Rp35.000/kg. Harga tersebut mengalami penurunan dari sebelumnya Rp40.000-45.000/kg.

“Sudah mulai turun tetapi masih termasuk mahal, kalau biasanya kan di kisaran Rp30.000/kg,” katanya. (ari)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Trade

Akademisi : Indonesia Bisa Hasilkan Pakan Ternak Yang Sehat dan Berkelanjutan

Published

on

Indonesia Bisa Hasilkan Pakan Ternak Yang Sehat dan Berkelanjutan.

Zonaekonomi.com, Bogor – Akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam kuliah umum Kemin Industri yang membahas tentang industri pakan ternak menilai Indonesia sebenarnya bisa menghasilkan pakan yang sehat dan berkelanjutan, meskipun banyak tantangannya.

Dalam kuliah umum tersebut dipaparkan bahwa industri pakan ternak Indonesia terkendala bahan baku. bahan baku pakan ternak salah satunya jagung khusus ternak belum mencukupi untuk industri.

“Indonesia sebenarnya bisa menghasilkan industri pakan ternak yang sehat, aman dan berkelanjutan,” kata Wakil Dekan Fakultas Peternakan IPB, Dr Rudy Afnan, , di Kampus Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Rabu (19/9/2018).

Pada kuliah umum Kemin Industri bertemakan “Recent Issue in Feed Technology and Animal Nutrition for Healthy and Safe Animal Product” itu dibahas lebih dalam tentang tantangan dan peluang industri pakan dalam negeri.

Menurut Rudy, selama ini ketersediaan jagung untuk bahan baku pakan hanya terdapat di beberapa wilayah di Indonesia dan hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan wilayah tersebut saja.

Swasembada jagung untuk ternak hanya ada di Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Barat. Sementara sentra produksi pakan ternak ada di wilayah Sumatera Utara.

Kondisi ini menyebabkan biaya angkut bahan baku jagung untuk ternak dari beberapa wilayah tersebut ke sentra produksi di Sumatera Utara relatif sangat mahal jika dibanding biaya mengimpor bahan baku dari luar negeri.

“Jika biaya angkut mahal, biasanya 20 persen dari total biaya dibebankan pada konsumen,” katanya.

Sementara itu, lanjutnya, kebijakan larangan penggunaan antibiotics growth promoter (AGP) untuk pakan ternak ayam di Indonesia yang dikeluarkan pemerintah beberapa waktu lalu, memang harus didukung.

Hanya saja perlu dipikirkan, dicarikan penyediaan bahan pengganti AGP, yang selama ini belum bisa diproduksi dalam skala besar.

Ia mengatakan, bahan pengganti AGP sebenarnya bisa dengan single factor yakni herbal maupun probiotik. Namun, seperti yang dilakukan di IPB, baru mampu dibuat dalam skala laboratorium.

“Kemin Industry juga melakukan seperti yang dilakukan IPB hanya bedanya, Kemin sudah mampu memproduksi dalam skala industri,” kata Rudy.

Kuliah umum yang menghadirkan para pakar dari Kemin Industry diikuti pula oleh 200 peserta. Para peserta ini terdiri dari dosen, pranata laboratorium pendidikan, mahasiswa mulai dari jenjang pendidikan S1, S2, dan S3 di Fakultas Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan RI.

Menurut Rudy, banyak hal yang diperoleh dari kuliah umum tersebut, di mana pengaplikasian modernisasi mengacu pada prinsip revolusi industri 4.0 pada dunia peternakan begitu cepat responnya.

“Diharapkan informasi dari kuliah umum bisa membuat akademika dengan industri lebih dekat. Karena kuliah umum ini juga mempertemukan akademika dengan leading sector di industri pakan ternak,” kata Rudy. (lai)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trade

Dihadiri Banyak Pembeli Asing, Transaksi TEI 2018 Ditargetkan 1,5 Miliar Dolar

Published

on

Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Arlinda.

Zonaekonomi.com, Tangerang – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan nilai transaksi pameran ekspor terbesar Trade Expo Indonesia (TEI) 2018 mencapai 1,5 miliar dolar AS selama pelaksanaan pada 24-28 Oktober 2018.

“Kami melihat tahun lalu itu sukses dengan nilai transaksi 1,4 miliar dolar AS, lebih besar dari target 1,1 miliar dolar AS. Tahun ini kami targetkan 1,5 miliar dolar AS,” kata Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Arlinda, di Tangerang, Banten, Rabu (19/9/2018).

TEI ke-33 ini mengusung tema “Creating Products for Global Opportunities” yang digelar untuk meningkatkan citra dan bangga masyarakat Indonesia akan produk dan jasa dalam negeri.

Pameran yang akan digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang, ini menargetkan 1.100 peserta dengan 28.000 pengunjung dari dalam dan luar negeri.

“Sampai hari ini yang sudah konfirmasi kehadiran itu 2.245, yang melalui online 1.700 dan sisanya perwakilan dari 60 negara,” ujar Arlinda.

Adapun buyers yang sudah konfirmasi untuk hadir yakni berasal dari berbagai negara, di antaranya Afrika, Al-Jazair, Eni Emirat Arab, China, India , Jepang, Suriname dan Amerika Serikat.

Arlinda menambahkan, terdapat beberapa perbedaan antara TEI tahun ini dengan penyelenggaraan pada 2017, salah satunya adalah anjungan kuliner yang sebelumnya hanya ada di hall 1, maka tahun ini akan tersedia di hall 1 dan 10.

“Ini supaya pengunjung yang sudah berkeliling dari hall 1 ke hall 10 bisa langsung menikmati kuliner di hall 10 saja, jadi tidak perlu kembali lagi ke hall 1,” tutur Arlinda.

Selain itu, Arlinda menyampaikan bahwa pihak penyelenggara akan mengupayakan agar terdapat produk unggulan yang dapat disaksikan di setiap hall.

TEI 2018 juga akan menghadirkan serangkaian kegiatan seperti Trade Tourism and Investment (TTI) Forum, business matching, diskusi regional, Export Start-Up Competition, serta misi dagang lokal dan mancanegara.

Arlinda menambahkan, pameran tersebut rencananya akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo. (spg)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trade

Pupuk Kaltim Targetkan Pabrik Metanol Beroperasi 2023

Published

on

Menteri BUMN Rini Soemarno meninjauan persiapan ekspor urea PT Pupuk Kaltim (Kalimantan Timur) di Bontang.

Zonaekonomi.com, Bontang – PT Pupuk Kaltim, anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero) menargetkan pabrik metanol di Bontang, Kalimantan Timur, yang mulai dibangun pada 2019 akan beroperasi secara komersial pada tahun 2023.

“Mudah-mudahan akhir 2023 (pabrik metanol) bisa komersial atau paling lambat tahun 2024,” kata Direktur Pupuk Kaltim, Bakir Pasaman, di Bontang, Selasa (18/9/2018).

Menurut dia, hal sesuai arahan Menteri BUMN Rini Soemarno yang menginginkan Pupuk Kaltim ke depannya dapat dikembangkan tidak lagi hanya memproduksi pupuk tetapi juga sebagai pusat industri petrokimia penghasil metanol.

Dengan pengembangan industri metanol maka hasil produk turunannya bisa jauh lebih banyak dibanding amonia.

Bakir Pasaman menjelaskan bahwa pengembangan industri metanol di Indonesia sudah tertinggal dibandingkan dengan negara lainnya di dunia.

Pabrik penghasil metanol ini berbasis gas bumi, sehingga harus berkoordinasi intensif dengan SKK Migas untuk mendapatkan alokasi dan harga gas yang kompetitif.

Pihaknya juga sedang melakukan penjajakan dengan sejumlah mitra strategis dari beberapa negara seperti Jepang dan Korea.

Untuk itu Pupuk Kaltim sedang mempersiapkan lahan seluas sekitar 60 hektare yang harus terealisasi pada tahun 2019.

Bila penjajakan dengan mitra strategis telah menghasilkan kerja sama dalam bentuk “joint venture”, dan lahan sudah tersedia maka akan dilanjutkan dengan tender dokumen EPC (Engineering Pricurement Construction).

Setelah ada kontraktor, maka akan dilanjutkan dengan pembangunan pabrik dalam jangka waktu sekitar 36 bulan yang dijadwalkan selesai pada 2023. (mrr)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending