Connect with us

Agribisnis

Harga Wortel di Ambon Capai Rp46.600/kg

Published

on

Harga wortel di pasar tradisional Kota Ambon naik tajam dari Rp30.000 mejadi Rp46.000 per kilogram.

Zonaekonomi.com, Ambon  – Harga wortel di pasar tradisional Kota Ambon naik tajam dari Rp30.000 mejadi Rp46.000 per kilogram, sementara harga-harga sayuran lain masih relatif normal.

Kenaikan harga wortel disebabkan pasokan dari Surabaya dan Jakarta macet sehingga stok di pasaran berkurang, kata Dede Banjar, petugas pemantau dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku yang ditemui di Pasar Mardika Kota Ambon, Kamis (5/7/2018).

Di Pasar Mardika dan Batu Merah, harga sayur lahan kering pasokan dari Surabaya dan Jakarta masih stabil. Harga kol tetap Rp15.000/kg, buncis Rp12.000/kg, kentang Rp16.300/kg.

Menurut Dede, pada hari ini tercatat, harga daging ayam kampung yang biasanya Rp75.000/kg?turun menjadi Rp72.000kKg, karena kurang laku, sedangkan stok cukup banyak.

Sedangkan harga sayuran lokal hingga kini masih tetap normal dan stok cukup banyak.

Dede mengatakan, harga kacang panjang Rp5.000/ikat, bayam Rp6.000/ikat, kangkung Rp5.000/ikat, sawi Rp5.000/ikat, daun melinjo, daun paku, dan daun singkong rata-rata Rp5.000/ikat.

Ketimun Rp5.000/empat buah, terong Rp5.000/lima buah, labu siam Rp4.000/buah, tomat sayur Rp16.000/Kg.

Jubaida, pedagang sayur lokal mengatakan, sekarang ini harga sayur masih normal terutama produksi lokal, sedangkan sayur yang didatangkan dari Pulau Jawa seperti wortel kini bergerak naik cukup tajam hingga mencapai Rp46.600/kg.

“Kalau sayur jenis daun-daun produksi lokal kami tidak bisa menaikkan harga, khawatir tidak laku dan sayur akan membusuk sebab di Ambon dan sekitarnya sekarang ini musim hujan yang berkepanjangan,” ujarnya. (sha)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Agribisnis

INDEF : Pemerintah Harus Pastikan Target Produksi Beras Tercapai

Published

on

Pemerintah harus memastikan target produksi beras pada November dan Desember 2018 tercapai agar tidak terjadi gejolak harga pangan.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Pemerintah harus memastikan target produksi beras pada November dan Desember 2018 tercapai agar tidak terjadi gejolak harga pangan yang kemudian mengerek inflasi menjadi lebih tinggi, kata peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rusli Abdullah.

“Pemerintah harus memastikan produksi beras November-Desember sesuai target. Pemerintah perlu memerhatikan daerah-daerah yang akan panen pada bulan tersebut guna memastikan panen berhasil dengan cara pengendalian hama dan mitigasi banjir,” ujar Rusli saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (15/11/2019).

Pada November dan Desember 2018, produksi beras ditargetkan masing-masing mencapai 1,5 juta ton. Potensi surplus beras 2,85 juta ton di 2018 sebagaimana yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pun dapat terpenuhi apabila target produksi beras tidak meleset.

Kendati demikian, Rusli menilai target produksi beras tersebut cukup berat untuk dicapai karena di akhir tahun adalah musim tanam raya, bukan panen raya.

“Selain itu, ancaman banjir akibat musim hujan menjadi salah satu faktor penyumbang gagal panen,” kata Rusli.

Ia menambahkan, surplus beras sendiri tidak menjamin harga beras akan stabil. Meski diprediksi surplus, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Yang pertama yaitu aksesibilitas. Pasokan beras ada, namun tidak tersedia di pasaran. Tren harga tinggi di akhir tahun menjadi kesempatan bagi oknum-oknum tidak bertanggungjawab untuk mencari rente dengan penimbunan.

“Ketegasan Satgas Pangan diperlukan untuk antisipasi ‘moral hazard’ yang bisa muncul,” ujar Rusli.

Selain itu, kendati pasokan ada, Badan Urusan Logistik (Bulog) terkendala melakukan penyerapan gabah atau beras di masyarakat. Bulog memiliki ketentuan dalam menyerap beras seperti kadar air dan harga. “Tidak semua beras yang ada di masyarakat bisa diserap Bulog,” katanya.

Untuk inflasi sendiri, BPS mencatat laju inflasi pada Oktober 2018 sebesar 0,28 persen, sehingga tingkat inflasi pada tahun kalender Januari-Oktober 2018 tercatat sebesar 2,22 persen dan inflasi dari tahun ke tahun (yoy) sebesar 3,16 persen. Inflasi ini berpotensi meningkat signifikan di akhir tahun apabila terjadi gejolak harga pangan. (cit)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Agribisnis

Waspada Ancaman Lonjakan Harga Pangan Akhir Tahun

Published

on

Inflasi di Desember untuk bahan makanan selalu lebih tinggi dari inflasi umum.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai ancaman inflasi akibat melonjaknya harga pangan di akhir tahun.

Peneliti INDEF Riza Annisa Pujarama mengatakan, dalam delapan tahun terakhir, inflasi di Desember untuk bahan makanan selalu lebih tinggi dari inflasi umum. Harga pangan biasanya mulai merangkak naik di November sebelum mencapai puncaknya di Desember.

“Berdasarkan pola pergerakan data inflasi 2014 sampai 2017, memasuki November, inflasi barang bergejolak akan meningkat dan kembali menurun di Januari. Hal ini berpotensi besar terulang kembali di akhir tahun 2018 sehingga perlu dilakukan antisipasi agar lonjakannya tidak terlalu tinggi,” ujar Riza saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Pada 2018, inflasi dipicu oleh mulai naiknya inflasi inti dan inflasi barang bergejolak. Depresiasi nilai tukar rupiah mendorong tingkat inflasi inti. Ketika rata-rata nilai tukar rupiah melonjak di Juli di angka Rp14.400-an per dolar AS saat itu, inflasi inti ikut melonjak hingga 0,41 persen, angka tertinggi sepanjang Januari hingga Oktober 2018. Sedangkan inflasi barang bergejolak terutama terjadi karena lonjakan beberapa komoditas.

Sementara itu, inflasi harga yang diatur pemerintah bergerak stabil di 2018. Hingga Oktober 2018, inflasi harga yang diatur pemerintah bergerak relatif rendah dan stabil. Hal itu disebabkan pemerintah tidak menaikkan harga BBM bersubsidi dan Tarif Dasar Listrik (TDL) di 2018 sehingga inflasi harga yang diatur pemerintah bergerak lebih stabil dan lebih rendah dibandingkan dengan 2017.

Bahan makanan dan makanan jadi seperti beras, daging, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bumbu dapur, menjadi pemicu langganan inflasi untuk barang bergejolak. Tak terkecuali di 2018, harga komoditas harga bahan-bahan pangan tersebut acapkali melambung dan mendorong inflasi umum.

Pada 2018 beras menjadi polemik tersendiri karena data pangan yang tidak akurat. Harga telur dan daging ayam ras juta terus mengalami peningkatan sejak Mei 2018 hingga puncaknya terjadi di Juli 2018 disebabkan kurangnya pasokan telur dan daging ayam ras. Sementara itu harga daging pada tahun ini relatif lebih stabil pergerakannya meski mengalami sedikit peningkatan.

Wakil Direktur INDEF Eko Listyanto menambahkan penyebab utama inflasi pangan di akhir tahun umumnya adalah momentum hari raya keagamaan dan libur akhir tahun. Namun, apapun penyebabnya, yang diperlukan masyarakat adalah kepastian akan stabilnya harga-harga.

“Oleh karena itu, pengambil kebijakan tidak dapat terus berlindung dengan alasan kedua momen tersebut secara terus menerus. Harus ada keseriusan dari pemerintah untuk memutus siklus dan mencari solusi agar harga pangan di akhir tahun lebih terkendali,” ujar Eko. (cit)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Agribisnis

Kementan Targetkan Swasembada Kentang Industri pada 2020

Published

on

Kementerian Pertanian tengah menggalakkan peningkatan produksi kentang, khususnya untuk memenuhi kebutuhan industri, guna mewujudkan swasembada pada 2020.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Kementerian Pertanian tengah menggalakkan peningkatan produksi kentang, khususnya untuk memenuhi kebutuhan industri, guna mewujudkan swasembada pada 2020.

“Kita sudah swasembada kentang granula untuk konsumsi sejak 2018, sedangkan kentang atlantik untuk kebutuhan bahan baku industri, swasembadanya target paling lambat 2020,” kata Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Suwandi melalui keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (14/11/2018).

Suwandi mengaku optimistis target tersebut dapat tercapai. Kementan pun telah menggelar rapat dengan para pelaku usaha untuk berkoordinasi memacu pencapaian swasembada.

Ia menjelaskan kentang untuk bahan baku industri dibutuhkan jenis khusus yaitu atlantik yang selama ini pasokannya masih mengandalkan impor.

Dengan berkembangnya teknologi perbenihan dan pemuliaan benih kentang, telah ditemukan berbagai varietas seperti varietas Median, Bliss, Omabeli sebagai substitusi jenis kentang atlantik sehingga nantinya tidak lagi mengandalkan impor.

“Benih kentang lokal ini punya keunggulan bisa diproses secara tertentu sehingga hasil produknya akan bermanfaat bagi kesehatan, berdampak langsung bagi stamina tubuh,” kata dia.

Suwandi menyebutkan swasembada kentang industri sebelumnya ditargetkan pada 2019. Akan tetapi, setelah mencermati kesiapan industri, kemampuan produksi, umur panen tiga bulan, proses panen menjadi benih 3-4 bulan, sehingga paling lambat swasembada pada 2020.

Bisnis kentang industri saat ini dikelola dua industri besar dan beberapa industri menengah dan kecil.

Salah satu industri besar sudah mampu memproduksi sendiri dan swasembada pada Juli 2019 dan industri lainnya tengah dilakukan percepatan paling lambat pada akhir 2020.

Dilansir data BPS, impor kentang industri pada tahun 2017 sebesar 51.849 ton yang nilainya mencapai Rp275 miliar. Namun, pada Januari-September 2018 impor hanya 29.649 ton, atau senilai Rp117 miliar, sehingga ini menandakkan impor kentang industri turun signifikan.

“Sejak 2018 tidak ada impor kentang konsumsi, sudah swasembada. Bahkan saat ini kami juga mendorong ekspor kentang segar. Januari-September 2018 sudah ekspor 2.781 ton,” kata Suwandi.

Pada kesempatan yang sama, Direksi PT Indofood Fritolay Makmur Suaimi Suriady mengatakan perusahaannya memproduksi berbagai produk berbahan baku dari kentang.

Oleh karena itu, sejak 2016 Direktorat Hortikultura Kementan dan Kementerian Perdagangan mengajak perusahaan untuk menyiapkan peta jalan mencapai swasembada bahan baku kentang industri.

“Sebagian besar bahan baku kentang kami bersumber dari mitra petani yang ditanam menggunakan benih yang tersedia. Kami akan selalu mendukung program dan mengikuti regulasi Kementan untuk mencapai swasembada,” katanya.

Direktur Wingsfood Stefanus menyatakan Wingsfood sebagai perusahaan olahan kentang yang baru berumur dua tahun perlu waktu untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dari produksi kentang dalam negeri.

Untuk menuju pemenuhan bahan bakunya dari produksi dalam negeri, Wingsfood sedang melakukan penanaman di daerah Pemalang, Majalengka, dan Magelang.

Wingsfood juga bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor dan Japan International Cooperation Program (JICA).

Untuk memenuhi kebutuhan benihnya, Wingsfood akan bekerja sama dengan penangkar benih dan importir benih untuk proses produksi. (mdg)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending