Connect with us

Finansial

HIPMI Minta Presiden Beri Solusi Depresiasi Rupiah

Published

on

Para analis perbankan memprediksi nilai tukar rupiah akan jatuh pada angka Rp14.600. Antisipasi kemungkinan terburuk pekan depan, yaitu tembus Rp15 ribu.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) meminta Presiden Joko Widodo segera memberikan solusi terhadap pelemahan nilai tukar (depresiasi) rupiah yang terus terjadi.

Ketua BPP Hipmi Bidang Ekonomi Muhammad Idrus di Jakarta, Kamis (5/7/2018) menyatakan khawatir bahwa pekan depan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menebus angka Rp15.000, setelah nilai tukar rupiah ditutup pada angka Rp14.394 pada Kamis (5/7/2018).

“Hari ini saja para analis perbankan memprediksi nilai tukar rupiah akan jatuh pada angka Rp14.600. Antisipasi kemungkinan terburuk pekan depan, yaitu tembus Rp15 ribu, kami mengimbau dengan segera Presiden bertindak,” katanya dalam siaran pers.

Idrus menyebutkan nilai tukar rupiah melemah bukan hanya karena persaingan dagang antara Amerika dengan China dan Uni Eropa, namun juga disebabkan faktor internal.

Karena itu, lanjut dia, Presiden perlu segera bertindak dengan mengeluarkan kebijakan penyelamatan rupiah.

Idrus mengatakan jika nilai tukar rupiah menembus Rp15.000, perekonomian Indonesia semakin terpuruk karena industri Indonesia dia, banyak tergantung bahan baku impor.

“Semoga hal ini tidak terjadi, nilai tukar bisa kembali menguat. Industri kita didominasi ‘foot loose industry’ yang mengandalkan bahan baku impor. Kalau nilai tukar terus melemah, industri kita akan kolaps,” katanya.

Idrus mengimbau masyarakat tidak memborong dolar dan memiliki kepedulian terhadap kondisi perekonomian Indonesia.

“Peran serta masyarakat khususnya kalangan elit diharapkan agar melakukan aksi nyata keprihatinan atas kondisi ekonomi kita. Dan jangan sampai sebaliknya, (yaitu) memborong dolar,” katanya. (ade)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Finansial

Rupiah Menguat ke Rp14.378 Terhadap Dolar AS

Published

on

Penguatan rupiah didorong neraca perdagangan Juni yang diperkirakan akan surplus.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat (13/7/2018) sore, ditutup menguat senilai12 poin menjadi Rp14.378 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.390 per dolar Amerika Serikat (AS).

Analis pasar uang Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto di Jakarta, mengatakan bahwa penguatan rupiah didorong neraca perdagangan Juni yang diperkirakan akan surplus.

BACA JUGA : Rupiah Jumat Pagi Menguat Menjadi RP14.357

“Sepertinya, ada antisipasi dari positifnya data trade balance. Harapannya bulan Juni akan surplus, sekitar 950 juta dolar AS,” ujar Rully.

Selain itu, menurut dia, belum ada sentimen domestik yang bisa membuat rupiah terapresiasi lebih jauh.

“Disetujuinya RAPBN 2019 sepertinya tidak ngangkat,” kata Rully.

Meski timbul kekhawatiran terhadap dampak dari terjadinya perang dagang AS-Tiongkok, laju Dolar AS cenderung mampu menguat seiring dengan penilaian mata uang tersebut mendapat keuntungan dari adanya perang dagang.

Selain itu, mata uang yen memberikan kesempatan pada dolar AS untuk kembali menguat. Tidak hanya itu, meningkatnya inflasi AS direspon positif sehingga berimbas pada meningkatnya laju dolar kemarin.

Dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Kamis (12/7) tercatat nilai tukar Rupiah bergerak menguat ke posisi Rp14.358 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.435 per dolar AS.

Senada dengan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia (IHSG BEI) pada Jumat sore ditutup menguat 36,2 poin atau 0,61 persen menjadi 5.944,07. Sedangkan, kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak naik 7,38 poin (0,79 persen) menjadi 937,72. (cit)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Finansial

BI Minta Perbankan Tahan Kenaikkan Bunga Kredit

Published

on

Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Bank Indonesia kembali menegaskan perbankan tidak memiliki alasan untuk menaikkan suku bunga kredit dan simpanan dalam waktu dekat, karena likuiditas masih longgar meskipun suku bunga acuan Bank Sentral sudah naik secara total 100 basis poin tahun ini

“Jika suku bunga acuan BI sudah naik 50 basis poin (akhir Juni 2018), tidak perlu diikuti dengan kenaikan suku bunga kredit dan deposito di dalam negeri, maka itu likuiditas sudah kita longgarkan dengan beberapa relaksasi,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Jumat (13/7/2018).

Suku bunga acuan “7-Day Reverse Repo Rate” naik 50 basis poin di Mei 2018 sebesar 50 bps, di akhir Juni 2018 juga naik 50 bps.

Perry mengatakan sudah terdapat tiga relaksasi kebijakan bagi perbankan. Pertama, mulai 16 Juli 2018 nanti, perhitungan rata-rata Giro Wajib Minimum Primer (GWM-P Averaging) sudah naik menjadi dua persen dari total komponen rasio GWM-P sebesar 6,5 persen dan akan membuat perbankan mengelola likuiditas. Sebelum 16 Juli 2017, rasio GWM-P Averaging sebesar 1,5 persen.

“Manajemen likuiditas bisa longgar. Bank juga tidak perlu hanya fokus dan terbatas pada Dana Pihak Ketiga, karena mereka bisa terbitkan obligasi, atau surat utang jangka menengah (MTN),” ujarnya.

Kemudian, relaksasi kedua yakni perhitungan pembiayaan bank yang kini melibatkan pembelian obligasi korporasi sebagai kredit. Dengan begitu, bank memiliki alternatif untuk menyalurkan pembiayaan dengan membeli obligasi korporasi, selain kredit jika risiko kredit masih membebani.

“Ini akan mendorong kegiatan ekonomi dari pembiayaan dari kredit perbankan dan dari pasar modal,” ujar dia.

Relaksasi ketiga adalah pembebasan aturan maksimum nilai kredit (Loan to Value/LTV) untuk kredit rumah pertama semua tipe yang berlaku pada 1 Agustus 2018. Dengan peraturan baru LTV, perbankan memiliki keleluasaan untuk memberikan syarat uang muka pembelian rumah pertama semua tipe.

“Coba, banyak sekali pengendoran yang sudah kita lakukan. Sehingga itu bisa menjadi `jamu manis` meskipun kita berikan `jamu pahit` kenaikan suku bunga acuan,” ujar Perry.

Namun, perbankan tampaknya sudah terlanjur menaikkan suku bunga simpanannya.

Misalnya, PT. Bank Central Asia Tbk (BCA) di awal Juli 2018 persen menaikkan suku bunga deposito menjadi 4,75 persen – 5,25 persen untuk rupiah, sedangkan deposito valas menjadi 0,95 persen. Oleh karena kenaikan bunga simpanan itu, BCA juga merencanakan kenaikan suku bunga kredit 25 hingga 50 basis poin (bps) pada Agustus 2018.

Kemudian, PT. Bank Tabungan Negara Persero Tbk untuk menaikkan suku bunga spesial deposito (special rate) untuk simpanan di bawah Rp2 miliar menjadi maksimal enam persen sesuai suku bunga penjaminan LPS, dan yang di atas Rp2 miliar mengikuti batas maksimum (capping) bunga yang diatur Otoritas Jasa Keuangan, sesuai tenornya.

“Bunga konter simpanan belum disesuaikan, yang disesuaikan bunga spesial deposito dengan maksimum sebesar LPS Rate untuk yang di bawah Rp2 miliar,” ujar Direktur Keuangan dan Treasuri BTN Iman Nugroho Soeko beberapa waktu lalu. (iap)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Finansial

Jumat Pagi Rupiah Menguat Menjadi RP14.357

Published

on

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat (13/7/2018) pagi bergerak menguat 33 poin menjadi Rp14.357.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat (13/7/2018) pagi bergerak menguat 33 poin menjadi Rp14.357 dibanding posisi sebelumnya Rp14.390 per dolar AS.

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada di Jakarta, mengatakan, meski terjadi penguatan rupiah namun tidak sepenuhnya didukung oleh sentimen yang ada di mana pergerakan Dolar AS terapresiasi dengan memanfaatkan sentimen rilis data ekonominya dan melemahnya yen.

“Masih rentannya rupiah dapat menghalangi potensi kenaikan lanjutan sehingga perlu dicermati berbagai sentimen, terutama pergerakan sejumlah mata uang global terhadap dolar AS,” ujar Reza.

Reza menuturkan, meski timbul kekhawatiran terhadap dampak dari terjadinya perang dagang AS-Tiongkok namun, laju dolar AS cenderung mampu menguat seiring dengan penilaian mata uang tersebut mendapat keuntungan dari adanya perang dagang.

Di sisi lain, lanjut Reza, turunnya mata uang yen memberikan kesempatan pada Dolar untuk kembali menguat.

Tidak hanya itu, meningkatnya inflasi AS direspon positif sehingga berimbas pada meningkatnya laju dolar.

“Sementara itu, meski laju dolar AS terlihat menguat namun, laju Rupiah mampu terapresiasi seiring masih ada imbas disetujuinya RAPBN 2019,” ujar Reza.

Senada dengan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat dibuka menguat sebesar 0,61 poin atau 0,01 persen ke posisi 5.908,48.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak naik 0,15 poin (0,02 persen) menjadi 930,5. (cit)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending