Connect with us

Energi

Memberikan Kepastian Hukum yang Menunjang Iklim Usaha, Langkah BPK Sesuai Peraturan

Published

on

Zonaekonomi.com, Jakarta – Langkah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK RI) yang memberikan  rekomendasi pencabutan sanksi hitam terhadap PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL), dinilai dapat memberikan kepastian hukum yang menunjang iklim usaha di Indonesia.

“Ini langkah yang tepat dan baik, di saat situasi ekonomi yang dinilai kurang baik. Lagi pula BPK tentunya sudah memperhitungkan banyak aspek ketika memgambil keputusan yang memberi kepastian hukum ini,” kata pengamat ekonomi Ahmad Haniefi, di Jakarta, Rabu (4/7/2018).

BPK merekomendasikan untuk mencabut sanksi hitam sesuai dengan Pedoman Pengadaan Barang/Jasa di Pertamina Nomor A-001/K20300/2015-S9 Revisi Ketiga Poin c yang menyatakan bahwa “Apabila ditemukan bukti-bukti / data-data baru yang menyatakan bahwa jenis penghargaan / sanksi yang telah diberikan tidak benar, maka dapat dilakukan koreksi poin maupun status.” 

Menurut Haniefi, yang dilakukan BPK adalah updating terhadap dampak suatu peristiwa kebijakan, yang bisa dikoreksi sepanjang ada upaya-upaya perbaikan dan bukti-bukti dan data-data baru.

“Saya kira hal yang wajar saja. Sepanjang BULL kemudian bisa memperbaiki kinerjanya dan memberikan dokumen-dokumen baru yang mendukung. Inilah mengapa saya bilang BPK turut memberikan kontribusi yang baik dalam kepastian hukum bisnis dan investasi,” katanya.

“Dilihat dari alur kejadian jelas BPK dan Pertamina sudah memenuhi semua prosedur mereka dengan baik. BPK memberi rekomendasi sanksi hitam, Pertamina melaksanakan rekomendasi tersebut. Dengan adanya bukti-bukti baru, tentunya Pertamina meminta arahan BPK, yang sekarang telah diterbitkan.”

Sebagai diketahui, arahan BPK kepada PT Pertamina (persero) adalah pemulihan pengenaan sanksi hitam kepada BULL dan melepasnya dari daftar hitam sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku.

Soal Sanksi Hitam untuk BULL

Sebelumnya,  BPK merekomendasikan Pertamina untuk memberi sanksi hitam kepada BULL melalui suratnya Nomor 32/S/IX-XX.1/02/2018 tertanggal Feb 14, 2018. 

Pertamina pun  pada  12 Maret 2018, menindaklanjuti rekomendasi BPK dan menerapkan sanksi hitam kepada BULL dengan surat Nomor 046/i20300/2018-SO dimana BULL dinyatakan telah melakukan tindakan fraud lantaran belum memenuhi kewajiban kepabeanan atas tiga kapal miliknya: MT Bull Sulawesi, MT Flores, dan MT Bull Papua di tahun 2016.

Berkenaan sanksi ini, BULL kemudian menyampaikan tanggapan dan bukti-bukti dan data-data baru yang terakhir sesuai surat direksi PT Buana Lintas Lautan Tbk pada 9 Mei 2018 perihal Tanggapan II atas Pemberian Sanksi Kategori Hitam dan Bukti Pendukung.

PT Buana Lintas Lautan juga memberikan bukti baru bahwa perusahaan telah mengajukan permohonan-permohonan yang diperlukan kepada instansi-instansi terkait untuk menyelesaikan kewajiban importasi kapal MT Bull Papua, MT Bull Sulawesi dan MT Bull Flores, jauh sebelum kapal-kapal tersebut disewakan kepada PT Pertamina (Persero).

Namun karena perubahan peraturan-peraturan yang terkait dan perlunya rangkaian proses administrasi pada masing-masing instansi pemerintah yang saling berkaitan dan berurutan, maka penyelesaian tersebut terlambat yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya.

Bukti-bukti pendukung baru termasuk telah diterbitkannya dokumen penyelesaian impor berupa Pemberitahuan Impor Barang (PIB) atas semua kapal tersebut di tahun 2016, maka dengan demikian kewajiban importasi atas ketiga kapal tersebut juga telah selesai. 

Ditambah lagi kapal-kapal milik PT Buana Lintas Lautan Tbk yang disewakan kepada PT Pertamina (Persero) sebelum dan setelah ketiga kapal tersebut, selalu memperoleh dokumen penyelesaian kewajiban importasi secara tepat waktu.

Dengan adanya bukti dan data baru tersebut, Pertamina meminta arahan kepada BPK karena instansi tersebut yang memberi rekomendasi awal mengenai sanksi hitam. Setelah menimbang semua bukti dan data pendukung baru tersebut akhirnya BPK memberi arahan kepada Pertamina untuk memulihkan status BULL. 

BPK juga menimbang posisi PT Buana Lintas Lautan Tbk yang merupakan mitra kerja PT Pertamina (persero) yang saat ini memiliki beberapa kapal yang sedang disewa Pertamina. Pengenaan sanksi hitam secara berkelanjutan dapat berdampak pada operasi distribusi migas nasional. (bny)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Energi

PGN Luncurkan 32 Truk Gaslink Berbahan Bakar Gas

Published

on

Peluncuran truk Gaslink di kantor PGN Pusat, Jakarta, Jumat (16/11/2018).

Zonaekonomi.com, Jakarta – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), melalui anak perusahaannya PT Gagas Energi Indonesia, meluncurkan 32 unit truk Gaslink yang sepenuhnya menggunakan bahan bakar gas bumi.

“Kami berharap manfaat gas bumi sebagai sumber energi yang ramah lingkungan dan efisien semakin banyak diketahui oleh masyarakat lewat peluncuran 32 unit truk Gaslink berbahan bakar gas bumi ini,” kata Direktur Komersial PGN Danny Praditya dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Jumat (16/11/2018).

Ia mengatakan peluncuran 32 unit truk Gaslink berbahan bakar gas bumi ini untuk melayani pelanggan-pelanggan di luar jaringan pipa gas bumi.

Menurut Danny, truk ini juga merupakan upaya perusahaan untuk memperluas jaringan penyebaran penjualan Gaslink.

Gaslink adalah produk gas terkompresi compressed natural gas (CNG) dengan menggunakan teknologi gas transportation module (GTM), yang dikembangkan PT Gagas Energi Indonesia.

Gaslink merupakan solusi penyediaan gas bumi untuk lokasi tanpa jaringan pipa distribusi gas bumi.

Sebanyak 32 unit truk Gaslink ini nantinya akan digunakan untuk memaksimalkan penjualan Gaslink yang akan disebar di tiga wilayah operasional Gagas Energi.

Adapun wilayah-wilayah penjualan Gaslink tersebut yakni di Regional I (Jakarta, Bekasi, Bogor, Sukabumi, Purwakarta, Bandung, Serang, Cilegon Lampung), Regional II (Jawa Timur, Semarang, Yogya), dan Regional III (Pekanbaru dan Batam).

Menurut Danny, truk Gaslink berbahan bakar gas bumi ini dapat menciptakan efisiensi penggunaan solar kurang lebih 140.000 liter per tahun atau setara dengan penghematan sebesar 50 persen.

“Ini merupakan salah satu usaha kami untuk mengoptimalkan energi baik PGN sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan,” kata Danny.

Hingga saat ini, PGN melalui Gagas Energi telah memasarkan Gaslink ke lebih dari 70 pelanggan yang tersebar di sejumlah kota/kabupaten di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Lampung, Batam, Bandung, Yogyakarta, dan Pati.

Gaslink hadir sebagai solusi energi yang lebih ekonomis dan mudah bagi masyarakat Indonesia, mulai dari kebutuhan komersial sampai dengan industri dan pembangkit listrik.

Selain Gaslink, Gagas Energi juga menyediakan produk Gasku, yang merupakan bahan bakar gas untuk transportasi baik kendaraan pribadi, kendaraan kedinasan, maupun transportasi umum.

Di sektor transportasi, hingga kini Gagas Energi telah mengelola 12 SPBG dan 4 MRU yang tersebar di beberapa kota.

Sementara untuk penyediaan kelistrikan, dikelola oleh PT Widar Mandripa Nusantara, anak usaha Gagas Energi. (asn)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Energi

Napak Tilas Kejayaan Tambang Batu Bara Sawahlunto

Published

on

Napak Tilas Kejayaan Tambang Batu Bara Sawahlunto.

Zonaekonomi.com, Sawahlunto – Taman Segitiga yang berada di tengah-tengah Kota Sawahlunto, di Sumatera Barat tampak penuh manusia pada saat dilakukan pelepasan peserta balap sepeda Tour de Singkarak 2018 Senin (5/11/2018) pagi.

Kota kecil yang masih memperlihatkan kelestarian bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda itu tidak pernah absen menjadi ikon dan tuan rumah etape balap TDS, yang tahun ini menginjak tahun ke-sepuluh.

Setelah para pebalap meninggalkan titik awal keberangkatan, kehidupan di tempat tersebut kembali normal bagi sebagian warga kota yang berada di ceruk Bukit Barisan Itu.

Sawahlunto, dikenal sebagai salah satu kota tua yang cantik dan menyimpan banyak cerita di celah-celah kota, pada gedung-gedung kuno dan peninggalan bersejatah.

“Kota kita di tengah-tengah jadi orang sengaja datang ke mari…. Yang menarik di sini adalah wisata tambang, tapi orang belum terlalu tahu,” kata Afdhal, warga Sawahlunto.

Di kompleks Taman Segitiga berdiri megah Gedung PT Bukit Asam, berupa bangunan dengan gaya arsitektur khas peninggalan Belanda yang berlantai dua dan memiliki menara tinggi di tengahnya. Gedung itu pun menjadi tugu selamat datang bagi para pengunjung kota Sawahlunto.

Di depan gedung peninggalan perusahaan tambang batu bara terbesar kala itu, terdapat tugu yang menggambarkan dua pekerja tambang yang mengenakan helm, salah satu darinya digambarkan memegang sekop dan satunya mengangkat belencong, dengan latar belakang tiga silo menjulang tinggi yang digunakan untuk mengolah batu bara pada masa lalu.

Di zaman pendudukan Belanda, Sawahlunto, sekitar 90 km dari Kota Padang, menjadi pusat perhatian pemerintah Hindia Belanda setelah ditemukannya cadangan batubara oleh geolog Belanda Ir. W.H.De Greve pada 1867.

Sawahlunto yang dulunya hanyalah sebuah desa kecil dan terpencil, dengan penduduk sekitar 500 orang di tengah hutan belantara itu lalu berkembang menjadi pusat pertambangan batu bara di masanya.

Di belakang Gedung PT Bukit Asam itu terdapat saksi bisu yang kini sedang dikembangkan menjadi primadona wisata tambang di Sawahlunto.

Lubang Mbah Soero namanya, adalah sebuah bekas terowongan tambang batu bara yang dibangun pada zaman kolonial Belanda.

Tak ada yang tahu pasti berapa panjang dan dalamnya lubang galian tambang batu bara yang kini dijadikan museum itu. Pada 1930 terowongan itu ditutup karena tergenang air, hingga pada 2007 pemerintah setempat kembali membukanya untuk umum.

Di depan pintu masuk terowongan dibangun suatu monumen yang menggambarkan kondisi para pekerja tambang waktu itu.

“Ini dinamakan monumen orang rantai. Kenapa orang rantai? Karena dulu para pekerja dirantai kaki dan tangannya ketika bekerja di tambang,” kata Sudarsono, penjaga dan pemandu di Museum Lubang Tambang Mbah Soero.

Para penambang adalah orang-orang yang dicap sebagai pembangkang dan ditahan oleh pemerintah Belanda untuk dijadikan para pekerja paksa. Mbah Soero sendiri konon dulu adalah salah satu penambang yang disegani oleh para penambang lainnya.

Memasuki Lubang Mbah Soero, pengunjung diwajibkan memakai sepatu boots dan helm untuk alasan keamanan.

Pintu masuk terowongan memiliki diameter sekitar dua meter. Rembesan air mengucur lumayan deras di dinding terowongan dan membuat lantai dan dinding terowongan cukup lembap.

Walaupun nampaknya menyeramkan, Lubang Tambang Mbah Soero cukup diminati wisatawan. Kurang lebih 1.500 wisatawan domesik maupun mancanegara datang setiap bulannya ke Lubang Mbah Soero.

“Pernah ada wisatawan dari Belanda yang datang ke sini membawa foto leluhurnya yang dulu pernah berkerja di tambang ini. Mereka seolah napak tilas leluhur mereka,” kata Sudarsono.

Lubang Mbah Soero yang dibuka untuk umum hanya dalam 30 meter dan panjang 186 meter. Jaringan pipa pun dipasang di sepanjang terowongan untuk mengalirkan udara dari permukaan.

Di suatu sudut di dalam lubang tambang itu, sebagian terowongan ditutup rapat dengan bata dan semen agar aliran oksigen tidak mengalir terlalu jauh ke bagian terowongan yang lebih dalam.

“Lihat dinding terowongan. Ini adalah batu bara,” kata Sudarsono sembari menyinari dinding terowongan dengan senter.

Dinding terowongan yang masih asli itu berkilau hitam kebiru-biruan terkena cahaya senter. Ada juga sebagian dinding terowongan yang sudah dibeton untuk alasan keamanan.

Sudarsono mengatakan bahwa lubang tambang di sana bisa memiliki kedalaman empat level, setiap levelnya sedalam 30 meter. “Kita berada di level pertama,” kata dia.

Situs Lubang Mbah Soero itu dulunya adalah lokasi “stockpile” atau, tempat penyimpanan atau penumpukan hasil tambang batu bara. Batu bara yang ditambang dari Sawahlunto kala itu diangkut ke Padang menggunakan kereta api uap dari Stasiun Sawahlunto.

Stasiun kereta api batu bara itu kini dilestarikan sebagai Museum Kereta Api Sawahlunto yang menjadi rumah dari lokomotif uap legendaris yang dijuluki Mak Itam. Selain untuk mengangkut hasil tambang batu bara, Mak Itam juga dipergunakan untuk angkutan orang pada masa itu.

Sejumlah gerbong untuk mengangkut batu bara, gerbong barang dan satu gerbong penumpang parkir di depan museum kereta yang sebenarnya bisa dipercantik lagi itu. Setelah pensiun dari pertambangan, lokomotif uap bernomor E1060 itu kini menjadi kereta wisata menyusuri jalur rel dari Sawahlunto ke Muarokalaban.

Di wilayah administrasi Sawahlunto terdapat pula Danau Biru, bekas galian tambang yang kini viral menjadi tujuan wisata.

“Sebenarnya masih banyak lagi bekas tambang lainnya yang bisa digarap menjadi destinasi,” kata Afdhal.

Catatan pemerintah daerah Sawahlunto, usaha penambangan di Sawahlunto mengalami puncak kejayaannya pada tahun 1920-1921. Pada waktu itu jumlah pekerja mencapai ribuan orang, selain itu ada hampir seratus orang Belanda atau Indo yang menjadi pimpinan perusahaan, ahli dan staf kunci lainnya.

Setelah satu abad lebih ditambang, sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui itu kian menipis dan kota Sawahlunto terancam menjadi kota mati jika tidak ada alternatif sektor kerja lain.

Pamor Sawahlunto sebagai kota pertambangan batubara pun mulai memudar tapi Sawahlunto menolak untuk menjadi sekedar kota kenangan.

Dengan adanya berbagai gedung tua dan situs penambangan peninggalan Belanda, pemerintah setempat pun memiliki visi baru menjadikan Sawahlunto sebagai kota wisata tambang dan wisata sejarah kota lama pada 2020. (eko)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Energi

Inalum Sudah Dapatkan Dana untuk Transaksi Freeport 4 Miliar Dolar

Published

on

Holding BUMN Pertambangan Inalum sudah mendapatkan dana sebesar 4 miliar dolar AS atau sekitar Rp54,8 triliun (kurs sekitar Rp14.600).

Zonaekonomi.com, Jakarta – Holding BUMN Pertambangan Inalum sudah mendapatkan dana sebesar 4 miliar dolar AS atau sekitar Rp54,8 triliun (kurs sekitar Rp14.600) dari hasil penerbitan global bond untuk transaksi pembelian 51 persen saham PT Freeport Indonesia.

“Dana obligasi global sudah diperoleh Kamis (15/11/2018). Dengan begitu kami sudah siap melakukan transaksi dengan Freeport,” kata Head of Corporate Communication and Goverment Relation PT Inalum, Rendy Witoelar di Jakarta, Jumat (16/11/2018).

Lebih lanjut, Rendy menjelaskan dana hasil obligasi tersebut akan digunakan untuk membiayai transaksi pembelian saham mayoritas Freeport dan sisanya untuk refinancing.

Hingga kini, langkah selanjutnya adalah menunggu selesainya dokumen di kementerian terkait lainnya, meliputi IUPK di Kementerian ESDM dan terkait perpajakan dan jaminan investasi di Kementerian Keuangan.

Global bond yang diterbitkan Inalum merupakan yang pertama. Ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap Inalum dan kondisi ekonomi nasional.

Dalam penerbitan global bond tersebut, Inalum menjelaskan, tidak ada yang digadaikan, dan tidak ada aset yang dijaminkan.

Berdasarkan data yang diterima Antara,, obligasi tersebut memiliki empat tenor, yakni tiga tahun dengan nilai emisi 1 miliar dolar dengan kupon 5,5 persen, tenor lima tahun senilai 1,25 miliar dolar dengan kupon 6 persen, tenor 10 tahun senilai 1 miliar dolar dengan kupon 6,875 persen, dan tenor 30 tahun senilai 750 juta dolar As dengan tingkat kupon 7,375 persen.

Pada saat penawaran obligasi global mengalami oversubscribe (kelebihan permintaan). Untuk obligasi dengan tenor tiga tahun, kelebihan permintaannya mencapai 4,1 miliar dolar, untuk tenor lima tahun oversubscribe mencapai 5,5 miliar dolar, untuk tenor 10 tahun, mengalami oversubcribe mencapai 7,1 miliar dolar, dan untuk tenor 30 tahun kelebihan permintaan mencapai 3,7 miliar dolar As.

Bank Joint Global Coordinators (JGC) dalam obligasi ini adalah BNP Paribas, Citi, dan MUFG, sedangkan perbankan yang bertindak sebagai Joint Book Runner (JBR) adalah BNP Paribas, CIMB, Citi, Maybank, MUFG, SMBC Nikko, dan Standard Chartered.

Selain itu, obligasi ini sudah mendapatkan rating Baa2 dari lembaga pemeringkat Moody’s dan BBB dari lembaga Fitch Ratings. (asn)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending