Connect with us

Internasional

Minyak Turun Setelah Persediaan AS Secara Tak Terduga Meningkat

Published

on

Harga minyak mentah turun pada akhir perdagangan Kamis (5/7/2018) (Jumat pagi WIB).

Zonaekonomi.com, New York – Harga minyak mentah turun pada akhir perdagangan Kamis (5/7/2018) (Jumat pagi WIB), setelah data pemerintah Amerika Serikat menunjukkan stok minyak mentahnya secara tak terduga meningkat.

Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman Agustus turun 1,20 dolar AS menjadi menetap di 72,94 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, mundur dari tertinggi tiga setengah tahun di atas 75 dolar AS.

Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman September, turun 0,85 dolar AS menjadi ditutup pada 77,39 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Persediaan minyak mentah AS naik 1,3 juta barel pekan lalu, menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA). Padahal para analis memperkirakan penarikan (penurunan) 3,5 juta barel.

“Karena musim mengemudi, Anda memperkirakan banyak minyak mentah melewati kilang-kilang saat ini — jadi itulah mengapa kami memperkirakan terjadi penarikan,” kata Gene McGillian, wakil presiden riset pasar di Tradition Energy di Stamford, Connecticut.

Pada Kamis (5/7), The Wall Street Journal melaporkan bahwa persiapan pencatatan saham publik Saudi Aramco yang dikelola negara telah terhenti. Itu dapat mengurangi tekanan pada Arab Saudi untuk menjaga harga minyak tetap tinggi, kata John Kilduff, mitra di hedge fund energi Again Capital LLC di New York.

Arab Saudi ingin menjual saham Aramco untuk mendatangkan investasi asing guna mendiversifikasi ekonominya, tetapi kekhawatiran hukum tentang pencatatan (listing) di tempat-tempat seperti London atau New York telah menghadirkan komplikasi.

Persediaan minyak mentah di Cushing, Oklahoma, titik pengiriman untuk minyak mentah berjangka AS, turun ke level terendah sejak Desember 2014.

Aliran minyak ke Cushing turun setelah penutupan di fasilitas Syncrude 360.000 barel per hari di Alberta, yang diperkirakan akan berlangsung hingga Juli.

“Dengan penarikan terus-menerus di Cushing, kami mendekati situasi di mana Anda bisa segera mulai mempertimbangkan kami mendekati kekurangan (pasokan),” kata Kilduff.

Laporan persediaan juga menunjukkan peningkatan impor, yang “memberikan sedikit bantuan … dan menunjukkan bahwa sekalipun dengan situasi Syncrude, semua tidak hilang,” kata Kilduff.

Harga minyak telah diguncang oleh komentar terbaru dari Presiden Donald Trump. Pada Rabu (4/7/2018), ia menuduh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menaikkan harga bahan bakar.

OPEC, bersama dengan sekelompok produsen non-OPEC yang dipimpin oleh Rusia, mengurangi produksi pada 2017 untuk menopang pasar. Bulan lalu, kelompok sepakat untuk meningkatkan produksi sekitar satu juta barel per hari untuk mengimbangi kekurangan dari Venezuela dan Iran.

Harga minyak telah meningkat sebagai akibat dari rencana Washington untuk menerapkan kembali sanksi terhadap Iran, produsen terbesar ketika OPEC, kata para analis.

Pada Rabu (4/7/2018), seorang komandan Pengawal Revolusi Iran mengatakan Tehran mungkin memblokir pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Sebuah blokade selat, di mana sekitar 30 persen dari semua perjalanan minyak lewat laut, akan memiliki “konsekuensi dramatis untuk pasokan minyak global dan berdampak pada harga yang hampir tidak mungkin untuk dimasukkan ke dalam angka-angka,” kata Commerzbank dalam sebuah catatan.

Angkatan Laut AS siap untuk memastikan kebebasan navigasi dan arus bebas perdagangan, kata juru bicara Komando Pusat militer AS. (ant)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Internasional

Indonesia-Rusia Bahas Kerja Sama Ekonomi

Published

on

Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Suntec Convention Center, Singapura pada Rabu (14/11/2018).

Zonaekonomi.com, Singapura – Pemerintah Indonesia dan Rusia melakukan pertemuan bilateral di Pusat Konvensi Suntec, Singapura disela-sela rangkaian KTT Asean dengan sejumlah negara mitra membahas sejumlah isu antara lain hubungan kerja sama ekonomi.

Presiden Joko Widodo menerima Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu sekitar pukul 16.00 Waktu Singapura.

“Saya menyambut baik kenaikan hubungan perdagangan kita. Di data kami, perdagangan bilateral meningkat 14,34% di tahun 2017 atau senilai USD2,52 miliar. Saya berharap target perdagangan USD5 miliar akan dapat tercapai di tahun 2020,” kata Presiden.

Indonesia membahas tentang potensi peningkatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Rusia dalam bidang perdagangan, yakni mengenai dukungan positif bagi ekspor minyak sawit mentah Indonesia.

“Kami memohon dukungan untuk promosi dan kampanye positif bagi CPO Indonesia,” kata Presiden.

Kepala Negara juga mendorong pemerintah Rusia untuk meningkatkan volume impor bagi sejumlah produk perikanan Indonesia.

Selain itu, Indonesia juga akan mendorong peningkatan ekspor buah tropis.

Dalam pertemuan itu, Presiden juga menyampaikan tentang perdagangan Indonesia dengan kerja sama ekonomi kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah (EAEU).

Presiden mengatakan Indonesia berniat untuk meningkatkan perdagangan dengan EAEU.

“Saya harap Rusia sebagai Ketua EAEU dapat membantu mempercepat keputusan kolektif bagi dimulainya perundingan FTA (persetujuan perdagangan bebas) antara Indonesia dengan EAEU utamanya untuk menanggapi prosedur pengajuan yang telah kami sampaikan sejak 2017,” tuturnya.

Nilai perdagangan bilateral kedua negara pada tahun 2017 tercatat meningkat 14,34 persen atau senilai USD2,5 miliar.

Dalam pertemuan itu, Presiden Jokowi didampingi oleh Menko Bidang Polhukam Wiranto, Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Duta Besar RI untuk Singapura Ngurah Swajaya. (bay)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Internasional

Presiden Iran : Sanksi “Kejam” AS Tak akan Hentikan Ekspor Minyak Iran

Published

on

Presiden Iran, Hassan Rouhani.

Zonaekonomi.com, Teheran – Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan Amerika Serikat (AS) tidak akan dapat menghentikan ekspor minyak Iran.

Ia mengatakan Iran akan terus menjual minyak mentahnya di pasar internasional meski ada sanksi-sanksi AS yang “kejam”.

Iran akan melanggar sanksi-sanksi yang dijatuhkan oleh Washington atas Teheran dengan cara yang “tepat”, Rouhani mengatakan tidak lama setelah putaran baru sanksi-sanksi anti-Iran diberlakukan oleh AS pada Senin waktu setempat.

“Dengan bantuan rakyat, dan persatuan yang ada di masyarakat kami, kami harus membuat Amerika mengerti bahwa mereka tidak boleh menggunakan bahasa kekuatan, tekanan, atau ancaman, untuk berbicara dengan bangsa Iran yang besar. Mereka harus dihukum secepatnya dan selamanya,” ujar Rouhani seperti dikutip oleh Press TV.

Para pejabat AS telah memahami bahwa mereka tidak dapat mengganti minyak Iran di pasar, katanya, menambahkan bahwa sekalipun jika mereka tidak memberikan keringanan ke beberapa negara untuk tetap memperdagangkan minyak dengan Iran. “Kami masih akan dapat menjual minyak kami dan kami memiliki kemampuan yang memadai untuk melakukan itu.”

Semua sanksi-sanksi AS terhadap Iran yang telah dihapus berdasarkan kesepakatan nuklir Iran 2015 dipulihkan kembali oleh Amerika Serikat pada Jumat (2/11) dan mulai berlaku pada Senin (5/11).

Embargo AS menargetkan banyak “sektor penting” negara itu seperti energi, perkapalan, pembuatan kapal, dan keuangan.

Washington menuduh Iran mengguncang ketidakstabilan regional dan mengekspor kekerasan, yang telah dibantah oleh Teheran.

Presiden AS Donald Trump, yang mengakhiri perjanjian nuklir Iran yang menang dengan susah payah pada 8 Mei, mengatakan bahwa itu adalah “salah satu kesepakatan terburuk dan paling berat yang pernah dilakukan Amerika Serikat.”

Pada Senin (5/11), Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif di akun twitter resminya mengecam penolakan AS terhadap konvensi-konvensi internasional.

“AS menentang pengadilan tinggi PBB dan Dewan Keamanan dengan menerapkan kembali sanksi-sanksi terhadap Iran yang menargetkan orang biasa,” kata Zarif.

“Tapi bullying AS adalah bumerang, bukan hanya karena JCPOA (kesepakatan nuklir) penting, tetapi karena dunia tidak dapat mengizinkan Trump untuk menghancurkan tatanan global. AS, bukan Iran, terisolasi,” Zarif menambahkan.

Sebelumnya Zarif mengatakan bahwa putaran baru sanksi AS terhadap Iran telah gagal memangkas ekspor minyak Teheran ke nol.

Penarikan AS dari JCPOA multilateral pada Mei adalah “skandal” untuk Washington, katanya.

“Kita bisa melihat … JCPOA sangat mendukung kepentingan Iran bahwa Amerika menarik diri dari skandal itu,” kata Zarif kepada parlemen Iran.

Selain itu, diplomat utama Iran itu menyentuh tentang kemungkinan negosiasi antara AS dan Republik Islam dalam kondisi tertentu.

Zarif mengatakan bahwa pembicaraan dengan AS mengenai perjanjian nuklir baru tetap terbuka jika Washington mengubah pendekatannya pada kesepakatan nuklir internasional 2015, Press TV melaporkan.

Iran akan mempertimbangkan diplomasi baru jika ada “dasar untuk dialog yang bermanfaat” tentang kesepakatan nuklir Iran, kata Zarif.

Namun, pemerintah AS saat ini “tidak percaya pada diplomasi. AS percaya pada tekanan,” tambahnya.

“Ini rasa saling menghormati, bukan rasa saling percaya yang merupakan persyaratan untuk memulai negosiasi,” kata Zarif. Demikian laporan yang dikutip dari Xinhua. (pep)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Internasional

Indonesia-Australia Sepakati Penguatan Komitmen Perekonomian

Published

on

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Australian Treasurer Josh Frydenberg MP saat menandatangani Nota Kesepahaman Program Kemitraan Indonesia Australia untuk Perekonomian.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Pemerintah Indonesia dengan Australia menyepakati penguatan komitmen dalam bidang perekonomian dan fiskal untuk meningkatkan kerja sama antar kedua negara yang telah terjalin sebelumnya.

Keterangan pers Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan di Jakarta, Senin (5/11/2018), menyatakan kerja sama ini perlu pembaruan informasi kebijakan dan berbagi pengalaman masing-masing.

Nota Kesepahaman Program Kemitraan Indonesia Australia untuk Perekonomian (Prospera) ini ditandatangani oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Australian Treasurer Josh Frydenberg MP di Canberra, Australia.

Beberapa hal yang menjadi cakupan kerja sama antara lain melalui kunjungan bilateral, konferensi atau lokakarya, penelitian bersama, pertukaran informasi, magang atau pertukaran pegawai, dan jadwal kerja sama tahunan.

Kedua pihak juga akan memfasilitasi pertukaran dan pembagian informasi mengenai praktik kebijakan yang terbaik dan berbagi pengalaman teknis melalui Prospera.

Dengan komitmen ini, maka sejumlah staf senior Austalian Treasury ditempatkan di kantor Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyambut baik komitmen ini serta keinginan pemerintah Australia untuk berbagi pengalaman dalam pengelolaan fiskal dan reformasi perpajakan.

Kerja sama ini memperbaharui nota kesepahaman antar kedua negara sebelumnya yang ditandatangani pada tahun 2013.

Sebelumnya, Australian Treasury dan BKF telah mengadakan dialog kebijakan ekonomi bilateral (Bilateral Economic Policy Dialogue).

Setiap tahun, kedua otoritas fiskal mendiskusikan dan menentukan prioritas bersama atas keterlibatan serta kerja sama terkait kebijakan di tahun mendatang dan diadakan di lokasi yang bergantian.
Berbagai topik yang telah dibahas dalam BEPD antara lain topik internasional, regional, maupun bilateral yang menjadi kepentingan bersama. (sat)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending