Connect with us

Properti

REI Apresiasi Langkah BI relaksasi Ketentuan LTV

Published

on

Ketua DPP REI, Soelaman Soemawinata.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) mengapresiasi langkah Bank Indonesia melakukan relaksasi terhadap ketentuan mengenai loan to value (LTV) atau besaran maksimum nilai kredit untuk sektor properti.

Ketua DPP REI Soelaman Soemawinata dalam rilis yang diterima di Jakarta, Rabu (1/8/2018), menyatakan bahwa relaksasi LTV diprediksi berpotensi mendorong pertumbuhan penjualan sedikitnya 10 persen y-o-y khususnya untuk rumah hunian dengan kisaran harga Rp200 juta hingga Rp500 juta.

Untuk itu, ujar dia, diharapkan pula terobosan LTV tersebut juga dibarengi dengan kebijakan lainnya seperti Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 20 persen untuk rumah tapak mewah seharga Rp20 miliar yang disarankan untuk dimasukkan ke dalam tax holiday atau bahkan dihilangkan.

Hal tersebut, lanjutnya, karena penerapan pajak tersebut dinilai bakal menghambat secara psikologis para pengembang yang ingin membangun hunian.

Selain itu, Ketum DPP REI juga menyoroti maraknya isu penerapan pajak final nonfinal dan penerapan pajak progresif untuk tanah terlantar beberapa waktu lalu yang cukup mengganggu psikologis pengembang sehingga mengakibatkan munculnya perilaku wait and see.

Ia mengingatkan bahwa sektor properti terkait erat dengan 174 industri pendukung serta dapat membuka banyak lapangan kerja, seperti satu mal atau pusat perbelanjaan yang dapat menciptakan sekitar 2.000 lapangan kerja.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Maryono mengatakan bahwa relaksasi besaran maksimum nilai kredit (LTV) akan bisa mendorong percepatan permintaan di sektor properti.

“Dengan pelonggaran LTV, saya kira ini bisa mendorong permintaan di sektor properti karena uang mukanya akan menjadi lebih kecil,” kata Maryono ketika ditemui usai halalbihalal Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), Jakarta, Jumat (29/6) malam.

Maryono mengatakan pelonggaran LTV dapat mendorong masyarakat yang akan berinvestasi di sektor perumahan karena pelonggaran jumlah fasilitas kredit atau pembiayaan melalui mekanisme inden.

Sebelumnya, Bank Indonesia melonggarkan syarat uang muka kredit pemilikan rumah (KPR) dengan membebaskan perbankan untuk memberikan besaran maksimum LTV untuk pembelian rumah pertama.

Dengan demikian, perbankan tidak terikat aturan pemberian besaran uang muka oleh nasabah. Perbankan bisa mensyaratkan pembayaran uang muka, termasuk kemungkinan uang muka nol persen, tergantung hasil penilaian manajemen risiko bank.

Sebelum revisi peraturan LTV ini, BI mengatur besaran LTV atau kredit pembelian rumah tahap pertama yang luasnya di atas 70 meter persegi, adalah 85 persen dari total harga rumah. (mrr)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Properti

Intiland Bukukan Laba Bersih Rp142 Miliar

Published

on

Pengembang properti PT Intiland DevelopmenTbk membukukan laba bersih Rp142 miliar pada semester pertama 2018 atau menurun 39,2 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp234 miliar.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Pengembang properti PT Intiland Development Tbk membukukan laba bersih Rp142 miliar pada semester pertama 2018 atau menurun 39,2 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp234 miliar.

“Penurunan kinerja laba terutama karena adanya peningkatan biaya operasional dan beban bunga,” kata Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (14/8/2018).

Namun demikan, lanjut dia, perseroan tetap optimitis dapat mempertahankan kinerja pertumbuhan hingga akhir tahun ini.

“Dari sisi pendapatan usaha, beberapa proyek pengembangan mixed-use and high rise akan selesai tahun ini sehingga hasil penjualannya dapat dibukukan sebagai pendapatan usaha,” paparnya.

Sementara itu, pendapatan usaha perseroan pada semester pertama 2018 sebesar Rp1,8 triliun atau naik 34,9 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp1,3 triliun.

Archied Noto Pradono mengemukakan pendapatan usaha itu ditopang dari meningkatnya pengakuan pendapatan dari segmen pengembangan kawasan perumahan dan penjualan lahan noninti.

“Tantangan di industri properti masih cukup berat. Meskipun pemerintah telah menerbitkan sejumlah stimulus pertumbuhan sektoral, namun pasar dan konsumen masih cenderung mengambil sikap wait and see mengantisipasi perkembangan dan dampak pesta demokrasi yang akan dilaksanakan hingga tahun
depan,” katanya.

Namun, lanjut dia, perseroan tetap optimistis akan ada perbaikan kondisi pasar properti di semester kedua tahun ini, meskipun tingkat pertumbuhannya mungkin tidak terlalu tinggi.

“Perseroan optimis kondisi pasar properti nasional akan bergerak membaik ke depan. Perseroan berkeyakinan tingkat kebutuhan masyarakat terhadap produk properti masih tinggi sehingga menjadi salah satu indikantor prospek industri properti di masa depan,” katanya. (zub)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Properti

Penerima Manfaat KPR FLPP Didominasi Pegawai Swasta

Published

on

Sekretaris Ditjen Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Irma Yanti.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Sebagian besar penerima manfaat kredit perumahan KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) adalah pegawai swasta yang mendominasi penyaluran fasilitas tersebut sebesar 73,72 persen.

Berdasarkan data Kementerian PUPR, hingga semester I tahun 2018, capaian rumah subsidi yang telah didanai melalui KPR FLPP sebanyak 12.455 unit rumah atau senilai Rp1,43 Triliun.

Kelompok penerima manfaat KPR FLPP dari 2010 terbagi atas 73,72 persen pegawai swasta, 12,85 persen PNS, 7,72 persen wiraswasta, dan 3,98 persen TNI/Polri.

Realisasi penyaluran dana FLPP tahun 2010 hingga 31 Juli 2018, telah mencapai Rp32,36 triliun untuk 532.283 unit rumah.

“Tahun ini ditargetkan sebanyak 312 unit dengan anggaran Rp10 miliar. Tahun 2019, kami usulkan anggaran bantuan pembiayaan perumahan berbasis tabungan lebih besar yakni Rp448 miliar untuk 14 ribu unit,” kata Sekretaris Ditjen Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Irma Yanti dalam rilis, Kamis (9/8/2018).

Ia mengatakan bantuan pembiayaan perumahan berbasis tabungan bakal mempermudah para pekerja informal untuk dapat memiliki rumah pertamanya. (mrr)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Properti

Ini Area Terbagus Sewa Apartemen di Jakarta

Published

on

Pengembang Capital Group, yang membangun apartemen Capitol Suites, menyatakan bahwa area yang terbagus untuk mendapatkan apartemen yang berpotensi laris disewakan adalah di Jakarta Pusat.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Pengembang Capital Group, yang membangun apartemen Capitol Suites, menyatakan bahwa area yang terbagus untuk mendapatkan apartemen yang berpotensi laris disewakan adalah di Jakarta Pusat.

“Area yang paling digemari untuk disewakan khususnya baik oleh ekspat maupun pengusaha dari luar kota adalah Jakarta Pusat,” kata Marketing Manager Capitol Suites Fitri Hardigaluh dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (7/8/2018).

Menurut Fitri Hardigaluh, mengapa kawasan Jakarta Pusat menjadi area terbagus untuk mencari apartemen sewa adalah karena keamanannya terjamin, berdekatan dengan sekolah-sekolah internasional, mall-mall ternama juga akses transportasi yang sangat mudah.

Fitri juga memaparkan, Capitol Suites yang terdiri atas satu apartemen dengan 279 unit yang terletak di Jalan Prajurit KKP Usman dan Harun, Jakarta Pusat, merupakan pasokan apartemen kelas menengah atas yang dinilai masih terbatas di sekitar kawasan tersebut.

“Para pembeli apartemen tidak hanya mengejar `capital gain` tapi yang paling menggiurkan adalah `yield` dari hasil sewanya,” ucapnya.

Sebelumnya, Senior Associate Director Colliers International (konsultan properti) Ferry Salanto menyatakan bahwa pasar apartemen Jakarta pada saat ini relatif masih belum berubah dibandingkan dengan kondisi pada akhir 2017 yang diwarnai dengan stagnasi.

Menurut Ferry Salanto, pihaknya meyakini bahwa ke depannya pasar properti Indonesia akan mulai pulih kembali secara perlahan-lahan dan kembali meningkat dengan stabil.

Colliers International juga mencatat bahwa akan terdapat pasokan apartemen dalam jumlah besar di wilayah DKI Jakarta dalam jangka waktu tiga tahun mendatang, dengan total 59.968 unit.

“Fakta bahwa Jakarta adalah propinsi yang paling padat dengan jumlah lahan yang sangat terbatas akan mendorong pengembang baru untuk bergabunng dan mengembangkan aset tanah mereka,” paparnya.

Ia juga menyoroti bahwa pengembang akan mengatur ulang strateginya untuk menargetkan pasar yang merefleksikan daya beli kelas menengah yang sedang berkembang, yaitu untuk unit apartemen dengan harga sekitar Rp500 juta – Rp1,5 miliar. (mrr)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending