Connect with us

Agribisnis

Ikan Melimpah, Pemkab Sikka Ingin Gaet Investor Jepang

Published

on

Pemerintah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, berniat menjalin kerja sama bidang perikanan dengan investor Jepang.

Zonaekonomi.com, Kupang – Pemerintah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, berniat menjalin kerja sama bidang perikanan dengan investor Jepang.

“Perairan Sikka menyimpan banyak kekayaan laut khususnya ikan. Ada dua jenis ikan yakni pelagis dan demersal. Oleh karena itu, kami berniat dan berupaya agar bisa menjalin kerja sama dengan Jepang,” kata Bupati Sikka terpilih Fransiskus Roberto Diogo di sela persiapan pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Sikka oleh Gubernur NTT Viktor B Laiskodat di Aula Sasando, Kantor Gubernur NTT, Kamis (20/9/2018).

Ia menjelaskan pelagis (pelagic fish) adalah ikan yang hidup di permukaan laut sampai kolom atau dasar perairan laut.

Sementara perikanan demersal adalah jenis ikan yang habitatnya berada di bagian dasar perairan dengan alat tangkap ikan demersal antara lain jaring insang dasar (bottom gillnet), rawai dasar (bottom long line), dan bubu.

Namun, lanjut Fransiskus, sebelum menjalin kerja sama itu, dirinya memastikan Bandara Frans Seda di Maumere bisa diperluas dalam waktu dekat.

“Hal ini perlu, mengingat jika terealisasi, maka pengangkutan ikan harus menggunakan pesawat yang penerbangannya langsung menuju ke Tokyo, Jepang, dengan membutuhkan waktu delapan setengah jam,” tuturnya.

Saat ini, kata dia, sudah ada maskapai, yang sudah berniat membuka rute Sikka-Jepang. Namun karena masih menunggu perpanjangan bandara, maka masih dalam pembicaraan.

Selain itu, menurut Fransiskus, perluasan bandara nantinya juga akan mengangkat sektor pariwisata di Kabupaten Sikka, khususnya Teluk Maumere.

“Ada keterkaitan antara sektor perikanan dan pariwisata. Kalau memang sudah terhubung, maka saya yakin pariwisata Maumere akan kembali bangkit,” tambahnya. (kai)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Agribisnis

Ikan Cakalang Mendominasi Hasil Tangkapan Nelayan

Published

on

Ikan cakalang mendominasi hasil tangkapan nelayan di Kota Lhokseumawe.

Zonaekonomi.com, Lhokseumawe – Ikan cakalang mendominasi hasil tangkapan nelayan di Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, pada bulan November dibandingkan ikan jenis lainnya.

“Hingga akhir bulan November, dari data yang kami himpun jumlah tangkapan nelayan yang didaratkan melalui PPI Pusong untuk jenis ikan cakalang adalah sebanyak 259.600 Kilogram. Jumlah tersebut melebihi dari jenis tangkapan ikan lainnya,” ungkap Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pelabuhan pendaratan Ikan (PPI) Pusong, Asmadi, Lhokseumawe, Aceh, Selasa (11/12/2018).

Ikan cakalang tersebut, kata dia, selain untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan sejumlah pasar lainnya di wilayah sekitar Lhokseumawe, juga dipasok ke luar daerah.

Untuk di dalam daerah sendiri, selain dikonsumsi dalam bentuk ikan segar, jenis ikan cakalang ini juga diolah menjadi ikan kering agar lebih tahan lama.

Sementara itu untuk jenis ikan lainnya, kata Asmadi, yang menduduki peringkat kedua hasil tangkapan nelayan Lhokseumawe adalah jenis ikan layang yang mencapai 235.280 kilogram.

Kemudian disusul oleh jenis ikan tongkol sebanyak 146. 750 Kilogram, ikan teri sebanyak 94.750 kilogram, dan ikan campuran lainnya sebanyak 112.358 kilogram.

“Dari semua jenis hasil tangkapan nelayan, cakalang paling tinggi. Jumlah tersebut jauh berbeda dengan bulan sebelumnya. Pada bulan November juga, ikan teri mulai banyak padahal sebelumnya tidak sebanyak itu,” ujar Asmadi.

Kepala UPT PPI Pusong Lhokseumawe itu mengatakan wilayah pencarian ikan oleh nelayan Lhokseumawe dilakukan di WPP 571, yakni di wilayah perairan Selat Malaka.

Sementara jumlah kapal penangkap ikan yang beroperasi adalah sebanyak 88 unit mulai dari ukuran mesin 5 GT hingga 104 GT. (muk)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Agribisnis

Hasil Tangkapan Nelayan Agam Berkurang, Ini Penyebabnya

Published

on

Hasil tangkapan nelayan Tiku Sumatera Barat, berkurang sekitar 30 persen akibat gelombag besar.

Zonaekonomi.com, Lubukbasung – Hasil tangkapan nelayan Tiku, Kecamatan Tanjungmutiara, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, berkurang sekitar 30 persen akibat gelombag besar yang melanda perairan semenjak September 2018.

Salah seorang nelayan Tiku Adang (48) di Lubukbasung, Minggu (9/12/2018), mengatakan, biasanya hasil tangkapan ikan setiap melaut sekitar 60-70 kilogram, namun beberapa bulan terakhir hanya sekitar 40-50 kilogram.

“Hasil tangkapan ikan berkurang sekitar 30 persen setiap melaut,” katanya.

Ia mengatakan, kondisi ini terjadi semenjak awal September 2018, karena gelombang cukup besar akibat angin kencang melanda daerah itu.

Dengan gelombang besar, tambah bapak empat anak ini, alat tangkap jenis jaringan insang yang diturunkan itu tidak begitu sempurna kembangnya di perairan.

Selain itu, pihaknya hanya menangkap ikan di sekitar Pulau Tengah dan Pulau Ujung.

“Ini saya lakukan agar bisa berlindung dari gelombang besar melanda daerah itu,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Agam Ermanto, menyampaikan berkurangnya hasil tangkapan nelayan, tidak mempengaruhi harga di pasar.

Ini disebabkan karena ikan dari daerah lain seperti, Air Bangis Pasaman Barat, Sibolg, Sumatera Utara dan daerah lain masuk ke pasar tradisional di daerah itu.

“Ikan dari daerah lain masuk ke pasar tradisional dengan harga Rp40 ribu per kilogram dengan jenis tongkol, tuna Rp70 ribu per kilogram dan lainnya,” tambahnya.

Dengan masuknya ikan dari daerah lain, Ermanto mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan agar tidak membeli ikan yang mengandung formalin dan zat berbahaya lainnya.

Ciri-ciri ikan mengandung formalin apabila warna lebih cerah, daging ikan mudah hancur, tekstur ikan lebih keras, Insang ikan yang berwarna merah kegelapan dan lainnya.

“Teliti ikan yang akan dibeli mulai dari kondisi ikan, insang dan lainnya,” tambahnya. (yus)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Agribisnis

Pengamat Sarankan Pengawasan Program Cetak Sawah

Published

on

Pengamat ekonomi dan Direktur Centre For Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Pengamat ekonomi dan Direktur Centre For Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi menyarankan program cetak sawah baiknya mendapat pengawasan terhadap potensi pelanggaran.

Uchok menegaskan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) bisa saja melakukan investigasi jika memang ada dugaan pelanggaran, menurutnya dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Kamis (6/12/2018).

“Program cetak sawah ini ada potensi penyimpangan jika berimbas tidak berhasil,” kata Uchok.

Sinergitas antarlembaga penegak hukum dengan BPK menurut Uchok merupakan kunci dalam menelusuri jika ada dugaan penyimpangan dalam penggunaan anggaran. Untuk itu, aparat hukum harus kreatif menelusuri cetak sawah ini.

Senada, Anggota Komisi IV DPR Oo Sutisna mengatakan, alih fungsi lahan pertanian yang sangat masif di Jawa seharusnya menjadi dasar alasan kuat bagi Kementan melakukan evaluasi program cetak sawah dan melaporkannya ke publik.

“Kita harus segera lihat pencetakan sawah itu sudah berjalan lancar atau belum? Selama ini kan terlihat cetak sawah tergesa-gesa. Harusnya bukan hanya dilihat luasan cetak sawahnya, dipikirkan juga airnya dari mana, tingkat kesuburan tanahnya, dan kemampuan masyarakat di situ yang mau menjadi petani,” tuturnya.

Politisi Gerindra ini mengatakan, Bupati, Walikota atau Gubernur di daerah yang menjadi sasaran program cetak sawah bisa melaporkan perkembangan cetak sawah. “Apakah berjalan atau tidak, kendalanya apa, ini harus dilaporkan dong. Jangan malu kalau tidak jalan, masalahnya di mana?” tuturnya.

Ia mengatakan, DPR mendukung program cetak sawah, asal dilakukan tepat sasaran dan efektif. Karenanya, ia mendukung untuk adanya audit.

Kondisi riil sawah di Tanah Air diungkapkan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Kementerian ini mengungkapkan, tiap tahun area persawahan diprediksikan terus berkurang.

BPN juga menegaskan, untuk mencegah pengurangan lahan memang tidak bisa dilawan dengan program cetak sawah semata. Bahkan, diperkirakan tahun depan lahan sawah di Indonesia bisa berkurang lagi sampai 1,4 juta hektare.

“Ini saja yang dari hasil terbaru 2018 itu kan 7,1 juta hektare ya dari citra satelit. Tapi ke depannya diprediksi bisa berkurang lagi sampai 20 persen,” ungkap Kasubdit Pemantauan dan Evaluasi Tanah Pertanian Kementerian ATR/BPN, Vevin S Ardiwijaya. (asn)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending