Connect with us

Trade

Peneliti Katakan Waktu Impor Beras Harus Tepat

Published

on

waktu untuk melakukan impor beras harus tepat agar dapat melindungi harga beras hasil petani yang ditanam di berbagai daerah.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan waktu untuk melakukan impor beras harus tepat agar dapat melindungi harga beras hasil petani yang ditanam di berbagai daerah.

Peneliti CIPS Assyifa Szami Ilman di Jakarta, Kamis (13/9/2018), mengingatkan bahwa pengalaman impor di awal tahun 2018 di mana beras impor tiba dua minggu menjelang panen membuat harga beras petani turun.

“Mengingat beras itu komoditas esensial, pemerintah patut menjaga stok beras nasional untuk mencegah terjadinya kelangkaan dan kenaikan harga,” kata Assyifa Szami Ilman.

Menurut dia, berkaca pada impor Januari 2018 lalu, Bulog patut untuk melakukan impor dengan waktu yang tepat agar impor tidak meredam harga beras terlalu rendah dan merugikan petani yang dapat terjadi apabila dilakukan saat masa panen.

Assyifa berpendapat bahwa impor masih menjadi instrumen penting dalam mengendalikan harga beras di Tanah Air. Berdasarkan data BPS, terdapat kenaikan harga gabah kering panen (GKP) dan gabah kering giling (GKG) sebesar 3,05 persen dan 1,64 persen pada Agustus 2018.

Pada saat yang sama, lanjutnya, harga beras tidak mengalami kenaikan, malah justru turun sebesar 0,28 persen. Kedepannya, dengan adanya musim kemarau yang melanda dan disertai dengan semakin berkurangnya luasan lahan panen, tidak dapat dipungkiri adanya peluang harga beras akan naik dan memengaruhi inflasi secara keseluruhan.

Pengamat Pertanian Khudori mengatakan selama ini tidak ada data pembanding dari instansi terkait mengenai produksi beras, karena yang memproduksi data hanya Kementerian Pertanian.

Padahal, menurut dia, metode perolehan data tersebut diragukan, karena tidak ada penghitungan secara riil untuk jumlah luasan lahan. Sedangkan, luas lahan dapat menentukan seberapa besar produksi beras.

“Pengumpulan datanya memang bukan survei lapangan. Itu tadi perkiraan-perkiraan,” kata Khudori.

Meski demikian, persoalan impor tidak hanya mengacu pada produksi beras, karena ada masalah lain yaitu tidak optimalnya penyerapan Bulog karena masih rendahnya Harga Pokok Pembelian yang ditetapkan pemerintah.

“Problem utama terkait impor beras adalah kemampuan Bulog menyerap beras atau gabah hasil produksi dalam negeri,” tambahnya.Budi Suyanto. (mrr)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Trade

Lebih Efisien, Pelaku Industri Dukung Penggunaan Anjungan Minyak Goreng Higienis

Published

on

Direktur Eksekutif GIMNI, Sahat Sinaga.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mendukung penggunaan mesin Anjungan Minyak Goreng Higienis Otomatis (AMH-O), yang diproduksi PT Pindad untuk mendistribusikan minyak curah dengan kemasan sederhana.

“Kami mendukung mesin itu untuk diterapkan, karena banyak membantu efisiensi dari produsen penghasil minyak goreng,” kata Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, efisiensi bisa dimaksimalkan karena kemasan pillow pack untuk minyak 1/2 liter dan 1/4 liter akan berisiko jika diproduksi di dalam pabrik, mengingat mesin yang digunakan memproduksi 800 kemasan per jam.

“Kalau dikemas pakai mesin itu akan bocor. Selain itu, setelah dikemas harus dimasukkan ke dalam boks. Nah, dengan boks itu, kontainaer yang seharusnya bisa mengirim 10 ton minyak, Jadi, hanya bisa 6 ton misalnya, karena ruangnya terpakai oleh boks. Jadi, mahal,” papar Sahat.

Sehingga, dengan mesin AMH-O, pengemasan minyak secara sederhana bisa dilakukan di tingkat pengecer, di mana produsen minyak akan memfasilitasi agar pengecer memiliki mesin tersebut berikut plastik kemasannya.

Nantinya, mesin tersebut akan dilengkapi dengan nama produsen minyak dan sistem pemosisi global yang akan mengukur jumlah minyak yang keluar dari mesin itu sendiri.

“Dengan sistem pengukuran itu akan lebih mudah mengetahui berapa minyak yang terjual dari keseluruhan minyak yang didistribusikan ke pengecer. Jadi kontrolnya lebih mudah,” ujarnya.

Kelebihan lainnya, lanjut Sahat, bagi konsumen yang membawa wadah sendiri saat membeli minyak goreng, maka akan mendapatkan uang pengembalian sebesar Rp700 per liter dari harga minyak Rp11.000 per liter.

“Karena harga Rp11.000 per liter itu sudah termasuk kemasan. Makanya, kalau bawa wadah sendiri dikembalikan Rp700 per liter atau Rp300 per 1/2 liter,” jelas Sahat.

Keuntungan bagi konsumen, Sahat menambahkan, tingkat higienitas dari minyak goreng tersebut akan lebih terjamin, sehingga kesehatan masyarakat pun diharapkan menjadi lebih baik.

AMH-O merupakan solusi atas terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 9/MDAG/PER/2/2016 yang mewajibkan peredaran minyak goreng curah menggunakan kantong kemasan sederhana untuk mengganti peredaran minyak curah saat ini. (spg)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trade

Akademisi : Indonesia Bisa Hasilkan Pakan Ternak Yang Sehat dan Berkelanjutan

Published

on

Indonesia Bisa Hasilkan Pakan Ternak Yang Sehat dan Berkelanjutan.

Zonaekonomi.com, Bogor – Akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam kuliah umum Kemin Industri yang membahas tentang industri pakan ternak menilai Indonesia sebenarnya bisa menghasilkan pakan yang sehat dan berkelanjutan, meskipun banyak tantangannya.

Dalam kuliah umum tersebut dipaparkan bahwa industri pakan ternak Indonesia terkendala bahan baku. bahan baku pakan ternak salah satunya jagung khusus ternak belum mencukupi untuk industri.

“Indonesia sebenarnya bisa menghasilkan industri pakan ternak yang sehat, aman dan berkelanjutan,” kata Wakil Dekan Fakultas Peternakan IPB, Dr Rudy Afnan, , di Kampus Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Rabu (19/9/2018).

Pada kuliah umum Kemin Industri bertemakan “Recent Issue in Feed Technology and Animal Nutrition for Healthy and Safe Animal Product” itu dibahas lebih dalam tentang tantangan dan peluang industri pakan dalam negeri.

Menurut Rudy, selama ini ketersediaan jagung untuk bahan baku pakan hanya terdapat di beberapa wilayah di Indonesia dan hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan wilayah tersebut saja.

Swasembada jagung untuk ternak hanya ada di Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Barat. Sementara sentra produksi pakan ternak ada di wilayah Sumatera Utara.

Kondisi ini menyebabkan biaya angkut bahan baku jagung untuk ternak dari beberapa wilayah tersebut ke sentra produksi di Sumatera Utara relatif sangat mahal jika dibanding biaya mengimpor bahan baku dari luar negeri.

“Jika biaya angkut mahal, biasanya 20 persen dari total biaya dibebankan pada konsumen,” katanya.

Sementara itu, lanjutnya, kebijakan larangan penggunaan antibiotics growth promoter (AGP) untuk pakan ternak ayam di Indonesia yang dikeluarkan pemerintah beberapa waktu lalu, memang harus didukung.

Hanya saja perlu dipikirkan, dicarikan penyediaan bahan pengganti AGP, yang selama ini belum bisa diproduksi dalam skala besar.

Ia mengatakan, bahan pengganti AGP sebenarnya bisa dengan single factor yakni herbal maupun probiotik. Namun, seperti yang dilakukan di IPB, baru mampu dibuat dalam skala laboratorium.

“Kemin Industry juga melakukan seperti yang dilakukan IPB hanya bedanya, Kemin sudah mampu memproduksi dalam skala industri,” kata Rudy.

Kuliah umum yang menghadirkan para pakar dari Kemin Industry diikuti pula oleh 200 peserta. Para peserta ini terdiri dari dosen, pranata laboratorium pendidikan, mahasiswa mulai dari jenjang pendidikan S1, S2, dan S3 di Fakultas Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan RI.

Menurut Rudy, banyak hal yang diperoleh dari kuliah umum tersebut, di mana pengaplikasian modernisasi mengacu pada prinsip revolusi industri 4.0 pada dunia peternakan begitu cepat responnya.

“Diharapkan informasi dari kuliah umum bisa membuat akademika dengan industri lebih dekat. Karena kuliah umum ini juga mempertemukan akademika dengan leading sector di industri pakan ternak,” kata Rudy. (lai)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trade

Dihadiri Banyak Pembeli Asing, Transaksi TEI 2018 Ditargetkan 1,5 Miliar Dolar

Published

on

Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Arlinda.

Zonaekonomi.com, Tangerang – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan nilai transaksi pameran ekspor terbesar Trade Expo Indonesia (TEI) 2018 mencapai 1,5 miliar dolar AS selama pelaksanaan pada 24-28 Oktober 2018.

“Kami melihat tahun lalu itu sukses dengan nilai transaksi 1,4 miliar dolar AS, lebih besar dari target 1,1 miliar dolar AS. Tahun ini kami targetkan 1,5 miliar dolar AS,” kata Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Arlinda, di Tangerang, Banten, Rabu (19/9/2018).

TEI ke-33 ini mengusung tema “Creating Products for Global Opportunities” yang digelar untuk meningkatkan citra dan bangga masyarakat Indonesia akan produk dan jasa dalam negeri.

Pameran yang akan digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang, ini menargetkan 1.100 peserta dengan 28.000 pengunjung dari dalam dan luar negeri.

“Sampai hari ini yang sudah konfirmasi kehadiran itu 2.245, yang melalui online 1.700 dan sisanya perwakilan dari 60 negara,” ujar Arlinda.

Adapun buyers yang sudah konfirmasi untuk hadir yakni berasal dari berbagai negara, di antaranya Afrika, Al-Jazair, Eni Emirat Arab, China, India , Jepang, Suriname dan Amerika Serikat.

Arlinda menambahkan, terdapat beberapa perbedaan antara TEI tahun ini dengan penyelenggaraan pada 2017, salah satunya adalah anjungan kuliner yang sebelumnya hanya ada di hall 1, maka tahun ini akan tersedia di hall 1 dan 10.

“Ini supaya pengunjung yang sudah berkeliling dari hall 1 ke hall 10 bisa langsung menikmati kuliner di hall 10 saja, jadi tidak perlu kembali lagi ke hall 1,” tutur Arlinda.

Selain itu, Arlinda menyampaikan bahwa pihak penyelenggara akan mengupayakan agar terdapat produk unggulan yang dapat disaksikan di setiap hall.

TEI 2018 juga akan menghadirkan serangkaian kegiatan seperti Trade Tourism and Investment (TTI) Forum, business matching, diskusi regional, Export Start-Up Competition, serta misi dagang lokal dan mancanegara.

Arlinda menambahkan, pameran tersebut rencananya akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo. (spg)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending