Connect with us

Trade

Pengusaha Belgia Bakal Investasi Vanili di Flores

Published

on

Vanili adalah tanaman penghasil bubuk vanili yang biasa dijadikan pengharum makanan.

Zonaekonomi.com, Kupang – Perusahaan Belgia bakal investasi pengembangan tanaman vanili di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan diharapkan mampu mendongkrak perekonomian masyarakat di sekitarnya.

“Ada perusahaan dari Belgia yang sementara ini kami fasilitasi proses investasinya untuk mengembangkan vanili di daerah kami,” kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kabupaten Flores Timur, Yohanes Kopong ketika dihubungi Antaranews dari Kupang, NTT, Selasa (25/9/2018).

Ia mengatakan, investasi pengembangan tanaman vanili itu akan difokuskan di wilayah Pulau Adonara melalui usaha budi daya hingga pembangunan pabrik pengolahannya.

Dijelaskannya, saat ini perusahaan sedang bergerak untuk pengembangan budi daya melalui pendampingan kelompok-kelompok petani.

Dari sisi pengumpulan hasil vanili, lanjutnya, sementara dikerjakan dengan para petani yang menyebar di sejumlah kecamatan seperti Adonara Barat, Adonara Tengah, Adonara Timur, dan sekitarnya.

Ia mengatakan, pihaknya juga sementara memfasilitasi proses perizinan pembangunan pabrik yang sedang diurus perusahaan tersebut agar secepatnya bisa dibangun.

“Rencana teknis perusahaan ini akan membangun pabrik pengolahannya di Desa Wurung, Kecamatan Adonara Barat,” katanya.

Lebih lanjut, Yohanes mengatakan terkait nilai investasi pengembangan vanili itu belum tercatat pasti karena belum dicantumkan dalam proposal proyek tersebut, namun menurutnya bisa menghabiskan paling sedikit puluhan miliar. (alo)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Trade

PTPN Usung Merek Walini Masuk Pasar Ritel

Published

on

Executive Vice Presiden PT Perkebunan Nusantara III, Aris Toharisman.

Zonaekonomi.com, Jakarta – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Holding siap mengusung merek Walini untuk empat komoditas yang akan masuk pasar ritel tahun depan.

“Walini ini brand kami untuk merek gula, minyak goreng, teh dan kopi,” kata Executive Vice Presiden PTPN III Aris Toharisman di Jakarta, Kamis (6/12/2018).

Rencananya, PTPN akan meluncurkan merek Walini untuk pasar ritel pada 5 Januari 2019 untuk memperkenalkannya kepada pasar, di mana sebelumnya merek tersebut dijual dalam jumlah besar.

BUMN perkebunan ini juga berencana menggandeng PT Pelayanan Nasional Indonesia (Pelni) untuk mendistribusikannya ke seluruh daerah di Indonesia, termasuk Indonesia Timur.

“Jalurnya itu Indonesia Timur, Bitung, Makasar, Natuna. Kami ingin branding merek ini dulu agar lebih dikenal secara ritel,” ungkap Aris.

Walini dipersiapkan untuk merambah pasar dari kalangan bawah, sementara PTPN tetap mempertahankan merek premium untuk komoditas kopi dan teh yakni teh Sila dan kopi Rolas.

Dalam pemasarannya, PTPN akan memanfaatkan PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara sebagai distributor ritel, yang saat ini sedang dimaksimalkan fungsinya. (spg)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trade

Menkeu : Indonesia Butuh Negosiator Handal untuk Hadapi Era Perang Dagang

Published

on

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan Indonesia harus menyiapkan materi dan posisi yang jelas serta negosiator yang unggul dalam menghadapi era perang dagang bilateral dan melemahnya mekanisme solusi multilateral yang makin kompleks.

Dalam laman media sosial resmi Kementerian Keuangan yang dipantau di Jakarta, Minggu (2/12/2018), Sri Mulyani menjelaskan hal tersebut patut dilakukan karena pemulihan ekonomi yang masih belum merata serta kebijakan ekonomi antara negara yang makin tidak sinkron dan tidak searah diperparah oleh kebijakan konfrontasi perdagangan.

“Perang dagang telah melahirkan keinginan G20 untuk melakukan reformasi multilateral dalam World Trade Organization (WTO),” ujarnya.

Untuk itu, Sri Mulyani mengharapkan Pertemuan Tahunan G20 tingkat pimpinan negara yang berlangsung di Buenos Aires, Argentina, benar-benar bisa menghasilkan keputusan yang menentukan arah ekonomi dan tata kelola global.

Dalam kesempatan ini, Sri Mulyani mengingatkan ancaman dan peluang digital ekonomi terhadap kesempatan dan jenis kerja di masa depan terus menjadi perhatian G20, karena berpengaruh terhadap kebijakan ketenagakerjaan, jaring pengaman sosial, dan perpajakan.

“Dunia akan semakin kompleks dan globalisasi serta kemajuan teknologi akan memberikan banyak kesempatan untuk maju dan mengejar ketertinggalan, namun juga menyajikan kerumitan dalam mengelola perekonomian dan sosial suatu negara. Indonesia harus makin keras dan cerdas dalam membangun perekonomian kita,” katanya.

Sri Mulyani menyakini fokus Presiden Jokowi untuk membangun kualitas sumber daya manusia dan infrastruktur sudah merupakan hal yang benar, karena bermanfaat untuk pemerataan dan peningkatan produktivitas serta daya kompetisi negara.

“Indonesia tetap perlu membangun kapasitas anak-anak bangsa dalam memahami dan menghadapi globalisasi ekonomi, perubahan teknologi dan dinamika geo-politik yang makin rumit dan menantang. Ini tantangan yang harus dihadapi dan dijawab oleh generasi milenial kita,” ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde menyampaikan tekanan dari ancaman terjadinya perang dagang mulai berdampak ke negara berkembang, sehingga dibutuhkan kebijakan yang tepat untuk mengatasi problem ini.

IMF memperkirakan kebijakan kenaikan tarif bea masuk tersebut bisa mengancam perdagangan internasional dan menurunkan tiga perempat persen pertumbuhan global pada 2020, sehingga butuh upaya untuk menurunkan tensi perdagangan, mengurangi kenaikan tarif dan mendorong kerja sama multilateral.

Risiko lain yang tidak kalah penting dan menjadi perhatian IMF dalam forum G20 adalah meningkatnya tingkat utang global hingga mencapai 182 triliun dolar AS di berbagai negara berkembang dan negara dengan penghasilan menengah kebawah.

Untuk itu, IMF menyarankan adanya bantalan maupun kebijakan fiskal serta tindakan guna meningkatkan transparansi terhadap utang, terutama terkait nilai dan jangka waktu pinjaman, sebagai upaya untuk menjaga kesinambungan pengelolaan utang.

Secara keseluruhan, Lagarde menyampaikan rekomendasi kebijakan bagi G20 untuk mengatasi berbagai tantangan global tersebut yaitu adanya perbaikan kinerja perdagangan untuk peningkatan pertumbuhan dan penyediaan lapangan kerja.

Kemudian, normalisasi kebijakan moneter yang dilakukan berdasarkan komunikasi yang baik, gradual dan berbasis data sebagai antisipasi dari dampak lanjutan serta membuat kebijakan mikro dan makroprudensial untuk mengatasi risiko krisis serta problem pembiayaan berbasis kredit.

Rekomendasi lainnya adalah adanya fleksibilitas dalam kurs mata uang sebagai upaya mitigasi tekanan eksternal, mengurangi tarif bea masuk dan berbagai kebijakan lainnya yang bisa memperlemah kepercayaan pelaku pasar keuangan.

“Terakhir, menghilangkan hambatan agar partisipasi perempuan dalam bidang ekonomi makin besar. Ini merupakan kunci untuk mengatasi persoalan kesenjangan yang persisten dan tinggi, dan bisa menjadi sumber pertumbuhan potensial bagi negara G20,” kata Lagarde. (sat)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trade

Diganggu Uni Eropa, Pemerintah Fokus Kembangkan Pasar Baru Ekspor Sawit

Published

on

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Arlinda saat memberi sambutan pada forum bisnis di Jeddah, Arab Saudi.

Zonaekonomi.com, Jeddah – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) fokus mengembangkan beberapa pasar ekspor baru untuk produk sawit dan turunannya, mengingat sentimen negatif dari salah satu pasar utama, yakni Uni Eropa, masih berlanjut.

“Khusus untuk sawit, karena kita diganggu-ganggu di pasar Uni Eropa, kita mencoba untuk melirik negara lain di luar pasar utama tadi,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Arlinda di Jeddah, Kamis (29/11/2018).

Menurutnya, produk minyak dari tumbuh-tumbuhan tersebut dapat dialihkan ke negara-negara non-tradisional di belahan dunia lainnya.

Arlinda membagi negara-negara nontradisional bidikannya dalam beberapa kawasan, di mana wilayah yang dipilih merupakan negara yang belum tersentuh perdagangan dengan Indonesia.

“Jadi kalau pasar nontradisional ini kita mungkin bisa fokus di negara-negara di perbatasan Teluk Persia yaitu Arab Saudi, Oman, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Qatar,” ujarnya.

Arlinda menambahkan persoalan Qatar dengan negara Arab lainnya dapat menjadi peluang Indonesia untuk masuk dan memenuhi kebutuhan produk dari negara tersebut.

Selain itu, negara-negara di Asia Selatan, di antaranya India, Pakistan, Sri Lanka, dan Bangladesh.

Kemendag juga melakukan penjajakan dengan Chili, yang berdekatan dengan Amerika Latin, kemudian Kazakstan, dan Uzbekistan.

“Kemudian di Eropa Timur ada Rusia, Kazakstan, Uzbekistan, bahkan ada negara-negara pecahan Rusia yang juga menjadi target kita,” ungkap Arlinda.

Di Afrika, Kemendag berupaya melakukan negosiasi dengan Mozambik, Tunisia yang dekat dengan Italia, Maroko yang dekat dengan Spanyol dan Aljazair yang memiliki kesepatan perdagangan bebas dengan Eropa.

Terkait kampanye negatif sawit, Arlinda menyampaikan, Indonesia berusaha menenangkan diri dan membuktikan bahwa tuduhan-tuduhan yang dilayangkan adalah tidak benar. (spg)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending