Connect with us

Finansial

“Fintech” Diyakini Ampuh Perdalam Inklusi Keuangan Asia

Published

on

The Bali Fintech Agenda akan membahas berbagai peluang dan tantangan yang bisa diperoleh dari teknologi yang berpotensi mengubah lansekap ekonomi dan keuangan, Kamis (11/10/2018).

Zonaekonomi.com, Nusa Dua – Para pimpinan lembaga multilateral perekonomian dan bank sentral mengakui besarnya potensi layanan finansial berbasis teknologi (fintech) untuk meningkatkan pertumbuhan inklusi keuangan di Asia.

Namun para eksekutif tersebut juga menyadari risiko yang ditimbulkan oleh “Fintech” dan harus segera dimitigasi oleh otoritas ataupun bank sentral di Asia.

BACA JUGA : Korea Tawarkan Perluasan Akses Pembiayaan UMKM Indonesia

Direktur Kantor Riset Makroekonomi ASEAN+3 (ASEAN+3 Macroeconomic Research Office – AMRO) Junhong Chang dalam sebuah diskusi di Nusa Dua, Bali, Kamis 11/10/2018), mengatakan teknologi memang menjadi amunisi bagi pemangku kepentingan untuk menyebarkan manfaat perekonomian, tetapi juga teknologi bisa menimbulkan risiko yang bahkan melintasi batas negara.

“Para pembuat kebijakan perlu memahami dan mengelola dampak teknologi di dalam sistem keuangan kita demi mempertahankan stabilitas keuangan,” ujar Chang dalam Dialog Kebijakan Tingkat Tinggi Mengenai Kerja Sama Kawasan untuk Mendukung Inovasi, Inklusi, dan Stabilitas di Asia yang Bank Indonesia dan beberapa mitra.

Forum diskusi itu juga menjadi acara sela di Pembukaan Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018, Nusa Dua, Bali.

Adapun contoh teknologi di bidang keuangan adalah “mobile banking”, “big data”, dan jaringan transfer “peer-to-peer”. Teknologi itu memang berhasil memperluas jangkauan layanan keuangan kepada orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki rekening bank atau tidak terjangkau bank sehingga meningkatkan pendapatan dan standar hidup.

Namun ada risiko teknologi yakni penipuan siber, keamanan data, dan pembobolan privasi. Intermediasi terpisah layanan “FinTech” atau konsentrasi layanan di antara beberapa penyedia juga dapat menimbulkan risiko terhadap stabilitas keuangan.

Presiden ADB Takehiko Nakao mengatakan teknologi keuangan baru yang menyebar dengan begitu cepat adalah teknologi yang sangat menjanjikan untuk inklusi keuangan.

“Kita harus mendorong lingkungan yang memungkinkan teknologinya berkembang serta memperkuat kerja sama kawasan guna membangun standar peraturan dan sistem pengawasan yang harmonis demi mencegah pencucian uang internasional, pendanaan teroris, dan kejahatan siber,” kata Nakao.

Pasar Potensial

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan Asia, termasuk Indonesia, merupakan tempat ideal bagi “fintech” untuk berkembang.

Hal itu karena Indonesia memiliki lebih dari seperempat juta masyarakat yang tersebar di ribuan pulau, menunggu untuk terintegrasi dengan teknologi baru. Kemudian, Indonesia juga memiliki struktur demografi muda, dengan semangat untuk memasuki dunia digital masa depan;.

“Ada juga masyarakat baru yang didorong oleh kelompok kelas menengah yang dinamis dan demokratis, yang memandang ekonomi digital sebagai sesuatu yang tak terhindarkan, seperti layaknya evolusi,” kata Mirza.

Forum ini juga menyoroti kondisi Asia yang mengalami pertumbuhan perekonomian tinggi dalam beberapa tahun terakhir, tetapi sektor keuangan masih tertinggal di sejumlah negara.

Kurang dari 27 persen orang dewasa di kawasan Asia yang sedang berkembang sudah memiliki rekening bank, jauh di bawah median global sebesar 38 persen.

Sementara itu, hanya 84 persen dari perusahaan di kawasan ini sudah memiliki rekening giro atau tabungan, setara dengan Afrika tetapi ketinggalan dari Amerika Latin yang mencapai 89 persen dan 92 persen di kawasan Eropa Tengah dan Timur.

Oleh sebab itu, BI memandang inklusi keuangan dapat ditingkatkan melalui kebijakan yang mendorong inovasi keuangan, dengan meningkatkan literasi keuangan, serta dengan memperluas dan meningkatkan infrastruktur dan jaringan digital.

Namun, hal itu membutuhkan peraturan untuk mencegah kegiatan ilegal, meningkatkan keamanan siber, dan melindungi hak dan privasi konsumen, juga akan membangun keyakinan terhadap teknologi keuangan yang baru.

Panel dialog terdiri dari Deputi Gubernur National Bank of Cambodia Neav Chanthana; Deputi Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas Diwa Guinigundo, Presiden dan CEO Women’s World Banking Mary Ellen Iskenderian, Direktur Pengelola Monetary Authority of Singapore Ravi Menon, Presiden ADB Takehiko Nakao, Deputi Gubernur Bank Negara Malaysia Abdul Rasheed dan Gubernur Bank of Thailand Veerathai Santiprabhob. (iap)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Finansial

Tutup Tahun, Bank Banten Perluas Jaringan Kantor di Banten

Published

on

Bank Banten sebagai bank milik Pemerintah Provinsi Banten terus meningkatkan layanan perbankan bagi para nasabah dengan meningkatkan jumlah dan kualitas jaringan kantor.

Zonaekonomi.com, Serang – PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk sebagai bank milik Pemerintah Provinsi Banten terus meningkatkan layanan perbankan bagi para nasabah dengan meningkatkan jumlah dan kualitas jaringan kantor.

Dalam menjalankan komitmennya, serta guna mempermudah akses terhadap layanan perbankan, di akhir penghujung tahun 2018 Bank Banten resmi kembali membuka beberapa Kantor Cabang Pembantu (KCP) di wilayah Banten diantaranya adalah KCP Maja dan KCP Labuan.

“Bank Banten terus melakukan peningkatan kinerja guna kepuasan nasabah dan memberikan pelayanan yang terbaik untuk segenap masyarakat Banten dengan dibukanya Kantor Cabang Pembantu yang berlokasi di Maja dan Labuan. Selain itu lokasi KCP yang strategis dan representatif juga diharapkan dapat semakin memperkuat perekonomian masyarakat di daerah terkait,” kata Direktur Utama Bank Banten Fahmi Bagus Mahesa di Serang, Selasa (11/12/2018).

KCP Maja berlokasi di Kampung Gubugan Kabupaten Lebak dan resmi beroperasi pada 3 Desember 2018. Sedangkan KCP Labuan bertempat di Jalan Sudirman No. 79 Desa Labuan, Kabupaten Pandeglang, yang resmi beroperasi pada 10 Desember 2018.

“KCP Maja menginduk kepada Kantor Cabang Rangkasbitung sementara KCP Labuan menginduk kepada Kantor Cabang Pandeglang. Dengan adanya perluasan ke daerah barat dan selatan, kami harapkan masyarakat dapat menjangkau layanan
Bank Banten lebih mudah dan komitmen kami untuk lebih dekat dengan masyarakat Banten dapat terlaksana.” ujar Fahmi.

KCP Maja dan KCP Labuan melayani antara lain transaksi keuangan seperti setoran, penarikan dan transfer dana, juga pembukaan rekening giro, tabungan dan deposito, serta pengajuan dan pencairan Kredit Konsumer, termasuk kredit kepada ASN dan juga pengajuan Kredit Komersial.

“Kami berharap keberadaan KCP Maja dan KCP Labuan ini dapat membantu dan melayani kebutuhan transaksi, produk, dan layanan keuangan perbankan, sehingga dapat memberikan kemudahan dan kenyamanan untuk para nasabah Bank Banten,” kata Fahmi.

Hingga November 2018, Bank Banten telah memiliki 26 Kantor Cabang (KC) yang 7 diantaranya berlokasi di Banten, 10 Kantor Cabang Pembantu (KCP), termasuk 7 KCP di Wilayah Banten, 4 Kantor Kas, 11 payment point, 5 mobil kas keliling atau Smartvan, dan 119 unit ATM yang berada di Banten dari total 144 unit ATM se-Indonesia. (rid)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Finansial

OJK Soroti “Ayda” BPR di Bali Meningkat

Published

on

Kepala OJK Regional Bali dan Nusa Tenggara, Hizbullah.

Zonaekonomi.com, Denpasar – Otoritas Jasa Keuangan menyoroti jumlah agunan yang diambilalih atau “ayda” BPR di Bali melonjak hingga September 2018 mendekati Rp250 miliar atau meningkat 20 persen jika dibandingkan periode sama tahun lalu.

“Kami minta BPR mencermati ayda yang terus meningkat karena itu berpotensi menurunkan modal bank,” kata Kepala OJK Regional Bali dan Nusa Tenggara Hizbullah di Denpasar, Minggu (9/12/2018).

Ia menjelaskan peningkatan ayda yang tidak terselesaikan dalam jangka waktu satu tahun itu disebabkan oleh penanganan kredit bermasalah atau NPL yang belum optimal.

Selain itu sulitnya penjualan agunan juga membuat ayda semakin menumpuk dan belum dapat memberikan hasil untuk menutup modal.

Untuk itu Hizbullah mendorong pengurus BPR menyusun rencana aksi yang terukur dan menerapkan mitigasi risiko yang memadai.

Ia juga mendorong pemegang saham perlu memperkuat permodalan tidak hanya untuk memenuhi ketentuan tetapi juga meningkatkan kapasitaa bank dalam menyerap risiko.

“Caranya dengan menambah modal disetor, merger dan atau mencari mitra strategis,” ucapnya.

Terkait dengan permodalan, Hizbullah memberi catatan bagi BPR dengan ayda tinggi agar tidak melakukan distribusi laba atau pembayaran deviden kepada pemegang saham, pembagian bonus kepada pengurus dan insentif yang sifatnya nonoperasional.

Catatan itu juga diberikan bagi BPR yang juga modal intinya kurang dari Rp6 miliar, sesuai dengan ketentuan yang harus dipenuhi akhir tahun 2019.

OJK mencatat dari 136 BPR di Bali, 38 persen di antaranya atau sekitar 51 BPR memiliki modal inti terbatas di bawah Rp6 miliar.

“Itu memberi dampak krusial bagi BPR seperti pengelolaan SDM yang tidak optimal dan lemahnya keunggulan bersaing dengan lembaga jasa keuangan lain,” ucapnya. (dew)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Finansial

Indonesia Miliki Perusahaan Reasuransi Khusus Bencana

Published

on

Indonesia sudah memiliki perusahaan reasuransi yang spesialis yang fokus dalam bencana khususnya gempa dan tsunami.

Zonaekonomi.com, Sukabumi – Indonesia sudah memiliki perusahaan reasuransi yang spesialis yang fokus dalam bencana khususnya gempa dan tsunami yang dikarenakan negara ini merupakan daerah rawan terjadi bencana tersebut.

“Kami mendirikan perusahaan reasuransi khusus bencana ini karena dari data statistik gempa memang jarang terjadi, tetapi jika terjadi selalu menimbulkan dampak yang luar biasa seperti belum lama ini terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Palu, Sulawesi Tengah,” kata Direktur Utama Maskapai Asuransi dan Perusahaan Asurasi Risiko Khusus (MAIPARK) Ahmad Fauzie Darwis di Sukabumi, Minggu (9/12/2018).

Menurutnya, pihaknya saat ini tengah fokus mengembangkan ke bencana lainnya seperti angin puting beliung, longsor dan lain-lain. Sehingga tidak hanya fokus terhadap gempa bumi dan tsunami saja.

Bahkan, karyawannya pun setiap tahunnya mendapatkan pelatihan tentang kebencanaan yang tujuannya untuk meningkatkan kesadaran akan risiko bencana khususnya dalam penilaian dan pengelolaan risiko bencana.

Lanjut dia, dipilihnya kawasan Geopak Cileuteuh Palabuhanratu sebagai lokasi pelatihan karyawan dan beberapa pekerja dari perusahaan asuransi lainnya karena daerah ini merupakan salah satu wilayah rawan terjadi gempa bumi dan tsunami. Sehingga mereka yang mendapatkan pelatihan ini memiliki kemampuan dalam menangani risiko bencana.

“Kami pun menggandeng Badan Penanggulangan Daerah (BPBD) setempat, ahli tsunami dan ahli geologi dari Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung (ITB),” tambahnya.

Sementara, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsigaan BPBD Kabupaten Sukabumi Dudung Abdulah mengatakan Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu daerah rawan bencana seperti gempa bumi dan tsunami. Dengan adanya seminar dan pelatihan seperti ini kepada karyawan asuransi dan reasiuransi bisa memberikan pengetahuan khusus terkait bencana.

Selain itu, keterlibatan berbagai pihak terkait pengetahuan tentang kebencanaan diperlukan, apalagi warga yang tinggal di daerah rawan gempa dan tsunami agar bisa mengikuti program asuransi agar jika terjadi bencana dan merusak harta bencana bisa mendapatkan penggantian klaim asuransi.

“Gempa dan tsunami tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi, tetapi harus tetap diwaspadai apalagi Kabupaten Sukabumi memiliki garis pantai sepanjang 117 km dan berada di tiga lempeng bumi seperti Lempeng Australia, Eurasia dan Cimandiri,” katanya. (aar)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending