Connect with us

Industri

Industri Perikanan Diajak Memanfaatkan Hasil Riset KKP

Published

on

Kepala Badan Riset dan SDM Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Sjarief Widjaja.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Kalangan industri perikanan nasional diajak meningkatkan kerja sama serta memanfaatkan hasil penelitian dan pengembangan paten yang telah dihasilkan oleh berbagai pusat riset Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Kami harapkan hasil-hasil paten kami ke depannya bisa lebih dikerjasamakan dengan pihak industri,” kata Kepala Badan Riset dan SDM Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sjarief Widjaja dalam acara bertajuk Kebangkitan Riset Kelautan dan Perikanan Indonesia di Gedung Mina Bahari Kantor KKP Jakarta, Selasa (9/10/2018).

Menurut dia, pihak KKP mendorong “research center” atau pusat riset menjadi lembaga independen yang berorientasi untuk menyelesaikan permasalahan di tengah masyarakat melalui pengelolaan sumber daya alam di Nusantara.

Sjarief memaparkan saat ini terdapat 47 pusat riset yang rata-rata memiliki luas lahan masing-masing sekitar 10-120 hektare, serta potensi yang luar biasa untuk dapat dimanfaatkan guna pengembangan penelitian perikanan.

“Kami mengundang teman-teman industri untuk memanfaatkan lahan seperti untuk technopark dan kerja sama produk riset,” tuturnya.

Dengan demikian, maka hasil produk riset setelah dikembangkan di dalam pusat riset setelah beberapa lama, maka selanjutnya bisa dikomersilkan ke depannya.

Ia juga mengemukakan bahwa KKP telah mendorong semacam kluster perikanan yang bermanfaat bagi perekonomian nasional, seperti di Ciseeng, Bogor, Jabar, ada kluster untuk produksi ikan gabus yang hasil ekstraknya bisa menjadi albumin untuk industri farmasi dan obat-obatan dalam negeri.

Sebelumnya, Sjarief Widjaja mengingatkan pelaku usaha perikanan nasional bahwa peluang untuk mengisi pasar domestik sangatlah besar dan saat ini belum digarap optimal.

“Kalau kita mampu berkonsentrasi kepada pasar domestik, sebenarnya pasar perikanan kita sudah rampung,” kata Sjarief Widjaja di Jakarta, Senin (24/9).

Menurut dia, sebenarnya pasar terbesar yang bisa digarap adalah di dalam negeri dan bukannya ekspor ke luar negeri.

Sjarief mengingatkan bahwa populasi Indonesia sekitar 263 juta jiwa dengan konsumsi ikan hingga 32 kg per kapita per tahun. (mrr)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Industri

Bersaing dengan EBT, Menteri Jonan Minta Industri Gas Makin Kompetitif

Published

on

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan meminta para pemangku kepentingan industri gas untuk bersinergi mendorong industri gas nasional menjadi lebih kompetitif.

Jonan di Jakarta, Selasa (19/2/2019), menyebutkan. saat ini, bisnis gas sedang dalam situasi harus membuat keputusan.

“Ini waktunya untuk membuat pilihan dan keputusan, karena di pasar global mulai masuk energi baru dan terbarukan (EBT),” katanya.

Jonan menekankan perlunya kontribusi signifikan dari industri gas dalam mengimbangi cepatnya laju pengembangan EBT di dunia.

Menurut dia, saat ini, ia melihat di banyak negara maju, porsi pemanfaatan dan pengembangan EBT berjalan dengan sangat cepat.

“Jika dilihat di banyak negara, khususnya negara maju, pengembangan EBT didorong sangat cepat. Tiga bulan lalu saat berkunjung ke Italia, saya melihat pembangkit yang 100 persen menggunakan CPO (crude palm oil atau minyak sawit mentah), tanpa proses lain,” ungkap Jonan.

Hal itu, menurut dia, merupakan sebuah tantangan besar bagi industri gas. Nantinya, CPO atau sumber EBT lainnya dapat menggantikan energi fosil sebagai bahan bakar.

“Bukan tidak mungkin nantinya CPO atau EBT lainnya bisa dikonversi ke bahan bakar diesel atau gasoil, ini akan jadi tantangan besar industri gas,” ucap Jonan.

Sehingga, lanjutnya, tantangan terberat bagi industri gas saat ini adalah untuk mendorong iklim bisnis gas menjadi lebih kompetitif.

“Saran saya, bagi pelaku bisnis gas di Indonesia adalah agar jadi lebih kompetitif. Era biaya operasional yang tinggi saya pikir harus segera dihentikan,” tegas Jonan.

Produsen gas alam harus mulai memikirkan secara serius bagaimana cara bertahan di situasi saat ini dan ke depannya.

Menurut dia, salah satu cara yang dapat dipertimbangkan adalah dengan masuk ke industri petrokimia.

“Industri petrokimia yang berasal dari bahan bakar fosil memang tidak mudah untuk digantikan. Tapi, jika kita dapat berkompetisi dan tetap mendorong penggunaan gas untuk bahan bakar, listrik, dan transportasi, mungkin situasinya bisa dilewati dengan baik,” jelas Jonan. (asn)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Industri

Kemenperin Pacu Ekspor Lima Sktor Industri

Published

on

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Kementerian Perindustrian memacu ekspor lima sektor industri industri yang pertumbuhannya di atas lima persen dan memiliki catatan kinerja ekspor gemilang di tahun 2018.

“Kami sedang fokus memacu kinerja ekspor di lima sektor industri yang mendapat prioritas pengembangan berdasarkan Making Indonesia 4.0,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto lewat keterangannya di Jakarta, Minggu (17/2/2019).

Adapun kelima industri tersebut yakni industri makanan dan minuman yang nilai ekspornya mencapai 29,91 miliar dolar AS, disusul industri tekstil dan pakaian jadi sebesar 13,27 miliar dolar AS, serta industri logam dasar 15,46 miliar dolar AS.

Lima sektor itu adalah industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronika, dan kimia. Apalagi, lima kelompok manufaktur tersebut mampu memberikan kontribusi sebesar 65 persen terhadap total nilai ekspor nasional.

Sepanjang tahun 2018, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, menorehkan nilai ekspornya sebesar 13,93 miliar dolar AS, kemudian ekspor kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer, dan alat angkutan lainnya menembus angka 8,59 miliar dolar AS, serta pengapalan barang komputer, barang elekronik dan optik mencapai 6,29 miliar dolar AS.

“Memang ada beberapa sektor lain yang juga punya potensi besar dalam menopang perekonomian nasional melalui kinerja ekspornya. Misalnya, industri perhiasan, permesinan, furnitur, pengolahan ikan, dan hortikultura,” sebutnya.

Pada 2019, pemerintah menargetkan ekspor nonmigas tumbuh 7,5 persen. Proyeksi tersebut mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,7 persen.

Adapun tiga pasar ekspor utama, yakni Amerika Serikat, Jepang, dan China. Penetrasi pasar ekspor ke negara-negara nontradisional juga dilakukan, seperti ke Bangladesh, Turki, Selandia Baru, Myanmar dan Kanada.

“Meski demikian, diharapkan ada perbaikan ekonomi global, sehingga bisa mendorong ekspor nonmigas lebih tinggi lagi di tahun 2019,” tutur Airlangga.

Pemerintah juga menargetkan segera merampungkan sebanyak 12 perjanjian dagang baru pada tahun ini. (spg)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Industri

Menperin Senang Industri Otomotif Diberi Kemudahan Ekspor

Published

on

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto senang industri otomotif diberi kemudahan ekspor guna turut memperbaiki neraca perdagangan nasional, di mana langkah ini sesuai dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0.

“Di roadmap tersebut, salah satu sektor yang tengah diprioritaskan pengembangannya, yakni industri otomotif. Sasarannya, Indonesia diharapkan menjadi basis produksi kendaraan bermotor baik internal combustion engine (ICE) maupun electrified vehicle (EV) untuk pasar domestik maupun ekspor,” kata Airlangga lewat keterangannya di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) ekspor mobil utuh (completely built up/CBU) sepanjang 2018 tumbuh 14,44 persen menjadi 264.553 unit dibanding tahun sebelumnya. Capaian tersebut merupakan yang tertinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

Jumlah ekspor kendaraan roda empat CBU diperkirakan terus naik seiring penerapan kebijakan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 01 tahun 2019 tentang Tata Laksana Ekspor Kendaraan Bermotor dalam Bentuk Jadi (CBU) yang berlaku mulai 1 Februari 2019.

Dalam regulasi yang baru ditegaskan bahwa Pemberitahuan Eskpor Barang (PEB) dapat diajukan setelah barang ekspor masuk ke Kawasan Pabean. Kemudian, pemasukan ke Kawasan Pabean tidak memerlukan Nota Pelayanan Ekspor (NPE) serta pembetulan jumlah dan jenis barang paling lambat tiga hari sejak tanggal keberangkatan sarana pengangkut.

Penyederhanaan aturan itu, dinilai membawa manfaat, di antaranya akurasi data lebih terjamin karena proses bisnis dilakukan secara otomasi melalui integrasi data antara perusahaan, Tempat Penimbunan Sementara (TPS), serta Ditjen Bea dan Cukai.

Selanjutnya, menurunkan average stock level sebesar 36 persen, sehingga meningkatkan efisiensi penumpukan di Gudang Eksportir. Dapat memaksimalkan jangka waktu penumpukan di Gudang TPS selama tujuh hari karena proses grouping dan finalquality control sebelum pengajuan PEB dapat dilakukan di TPS.

Benefit lainnya, menurunkan biaya trucking karena kebutuhan truk untuk transportasi turun sebesar 19 persen per tahun sehingga logistics partner tidak perlu investasi truk dalam jumlah banyak.

Kemudian, menurunkan biaya logistik terkait storage dan handling menjadi sebesar Rp600 ribu per unit dan biaya trucking menjadi sebesar Rp150ribu per unit.

“Kami menyambut baik regulasi tersebut, karena ekspor otomotif diberikan kemudahan. Ini sangat berarti untuk industri kita yang sedang bersaing dengan negara lain. Selain itu, ini membuktikan bahwa ekspor kita tidak hanya komoditas,” tutur Menperin. (spg)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending