Connect with us

Digital

SDM Masih Jadi Kendala Perusahaan Teknologi

Published

on

President Director OVO, Adrian Suherman.

Zonaekonomi.com, Jakarta – Visionet Internasional, yang terkenal dengan produk dompet digital OVO, masih melihat salah satu tantangan mereka terletak pada sumber daya manusia.

Dikatakan Presiden Direktur OVO, Adrian Suherman, saat sesi wawancara dengan Antara, dari segi keterampilan, bakat-bakat Indonesia di bidang teknologi sudah baik, namun, dalam beberapa kasus, mereka belum terlatih untuk menangani hal teknis dalam skala besar.

BACA JUGA : Susah Dapat Grab saat Pakai OVO? Ini Jawaban Bos OVO

“Di Indonesia, skill sudah oke, tapi, mungkin belum pernah menangani yang sebesar ini,” kata Adrian.

Kendala talenta dalam bidang teknologi, berdasarkan pengalaman mereka, menurut Adrian salah satunya dipicu teknologi di bidang pembayaran seperti yang mereka kembangkan tergolong hal yang baru di Indonesia sehingga tidak banyak yang benar-benar memahami.

OVO menampik bahwa mereka banyak mempekerjakan tenaga asing untuk mengembangkan pembayaran mobile mereka, namun dalam beberapa bidang mereka memang merekrut tenaga dari luar karena memiliki pengalaman dalam bidang sistem pembayaran elektronik.

Adrian tidak menyebutkan berapa besar proporsi talenta lokal dalam bidang teknologi yang ada di kantor mereka saat ini, namun, menyatakan dari 500 orang yang dipekerjakan OVO, lebih banyak yang berasal dari Indonesia.

OVO sejak beroperasi tahun lalu cukup agresif mengembangkan diri mereka melalui kemitraan, salah satunya yang paling terkenal dengan layanan transportasi online Grab.

Saat ini mereka sudah mencakup lebih dari 200 kota di Indonesia, termasuk kota-kota sekunder, dan mencakup lebih dari 400 mal di Tanah Air.

Mereka kini sudah bekerja sama dengan 70 ribuan merchant di Indonesia, menargetkan jumlahnya akan bertambah ke angka 100 ribu hingga 150 ribu hingga akhir tahun ini. (nat)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Digital

Nielsen Rebut Indonesia Masih Berada di Industri 3.0

Published

on

Managing Director Nielsen Indonesia, Agus Nurudin.

Zonaekonomi.com, Bandung – Dalam dunia industri teknologi saat ini pertumbuhan begitu cepat dan selalu berganti sehingga begitu banyak tantangan yang harus kita hadapi untuk industri 4.0 dan diharapkan masyarakat juga bisa mengikuti perkembnagan industri, demikian menurut Nielsen Indonesia.

“Tantangan begitu banyak, multi challenge ini masyarakat harus mengerti bahwa industri akan berjalan dengan sangat efisien dengan teknologi. Pada saat terjadi efisiensi masyarakat harus bisa mencari peluang baru untuk bekerja,” kata Managing Director Nielsen Indonesia, Agus Nurudin, Sabtu (13/10/2018).

Oleh sebab itu, kata dia, masyarakat perlu mempersiapan diri untuk menyambut industri 4.0 yang akan banyak mengubah kerja dan kehidupan masyarakat.

“Dalam persiapan ini, mohon maaf yah, apa Indonesia sudah siap, para pekerja sudah siap? Karena pabrik-pabrik nantinya hanya akan dikontrol dengan cloud yang bisa dikontrol dari jarak jauh dan di pabrik misalnya, nanti hanya ada lima orang, saya jujur, menurut saya itu penting untuk diikuti tapi kita harus tahu tahapan yang paling tepat di Indonesia itu tahapan yang berapa itu yang perlu kita pertimbangkan,” katanya.

Agus Nurudin menambahkan. “Indonesia sekarang masih berada di tahapan industri 2.0 dan 3.0, antara itu.”

Dalam bincang-bincangnya dengan awak media di Sabuga Bandung, Agus Nurudin mengatakan bahwa hanya baru ada beberapa kategori perusahaan saja yang sudah siap untuk mengikuti konsep industri 4.0.

“Untuk industri 4.0 itu hanya beberapa kategori tertentu saja yang sudah siap, dengan perusahaan yang berbasis teknologi misalnya Gojek, perusahaan itu mempunyai potensi kesana dalam waktu yang cepat tapi sekarang masih di 3.0 dan juga perusahaan Google yang ada di Indonesia,” paparnya.

Ia juga memberikan saran agar masyarakat bisa tetap eksis di dalam dunia pekerjaan serta mengikuti perkembangan industri.

“Yang dibutuhkan dalam industri 4.0 adalah talent-talent yang jago dibidangnya. Jika ada yang hanya mempunyai kemampuan biasa-biasa saja, nah ini yang harus mencari tempat baru untuk mendapatkan pekerjaan lain,” tutupnya. (cha)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Digital

Pendidikan Dinilai Penting, Jack Ma Ingin Habiskan Sisa Hidup dengan Mengajar

Published

on

Pendiri Alibaba Group, Jack Ma.

Zonaekonomi.com, Nusa Dua – Pendiri Alibaba Group Jack Ma mengatakan ingin menggunakan sisa hidupnya untuk mengajar, setelah mengumumkan pengunduran diri dari posisi chairman executive perusahaan e-commerce tersebut.

Sebelum memulai Alibaba pada 1999, Ma pernah bekerja sebagai guru bahasa Inggris di China selama beberapa tahun.

“(Pendidikan) adalah sesuatu yang bagus saya lakukan untuk sisa hidup saya,” kata Ma dalam sebuah sesi diskusi di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua, Jumat (12/10/2018).

Ma, yang menolak disebut pensiun tetapi hanya rotasi pekerjaan, menilai pendidikan lebih penting daripada teknologi yang menjadi inti dari bisnis Alibaba yang telah digawanginya selama 19 tahun.

Dalam 30 tahun ke depan, manusia akan berhadapan dengan dampak buruk teknologi dan automasi yang mengancam hilangnya lapangan kerja.

Mesin, kata Ma, mampu menggantikan pekerjaan manusia dengan sama baiknya bahkan lebih cepat.

Menurut dia, anak-anak perlu diajari untuk jeli melihat peluang dan melakukan inovasi-inovasi yang tidak dapat dilakukan mesin.

Untuk itu, Ma akan lebih fokus pada pendidikan untuk kewirausahaan yang dinilainya adalah motor pertumbuhan ekonomi.

Agustus lalu, pria yang memiliki nama asli Ma Yun itu meluncurkan Netpreneur Prize untuk mendukung pemberdayaan wirausaha Afrika.

Hadiah senilai 10 juta dolar AS akan diberikan kepada 100 pengusaha Afrika selama 10 tahun ke depan, yang berfokus pada inovasi, pemberdayaan ekonomi perempuan, serta usaha kecil.

Setahun sebelumnya, Alibaba Business School bekerjasama dengan Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) juga mengumumkan eFounders Fellowship Initiative, sebuah program untuk melatih 1.000 pengusaha dari negara berkembang, 200 orang diantaranya berasal dari Afrika.

Program tersebut memfasilitasi para pengusaha untuk mempelajari bisnis dan inovasi di kantor pusat Alibaba di Hangzhou, China.

Kedua inisiatif ini diharapkan dapat membangun ekonomi yang lebih inklusif di Afrika, juga membentuk prospek masa depan masyarakat benua tersebut.

Menurut Ma, orang-orang muda Afrika memiliki semangat potensi kewirausahaan yang besar untuk bisa dikembangkan.

“Saya tidak pernah mengajari seseorang menjadi sukses, tetapi akan berbagi tentang kesalahan-kesalahan yang saya buat. Dari kesalahan itu, kita bisa mengambil pelajaran dan membuat kemajuan,” kata pebisnis berusia 54 tahun itu. (ydp)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Digital

Pos Indonesia Luncurkan Aplikasi M-Agenpos

Published

on

PT Pos Indonesia (Persero) meluncurkan aplikasi mobile berbasis android native bernama M-Agenpos.

Zonaekonomi.com, Jakarta – PT Pos Indonesia (Persero) meluncurkan aplikasi mobile berbasis android native bernama M-Agenpos, yang salah satu kemudahannya dapat melakukan pembayaran daring (online payment).

Direktur Komersial PT Pos Indonesia (Persero) Charles Sitorus dalam peluncuran inovasi layanan terbaru di Kantor Pos Jakarta Pusat, Kamis (11/20/2018), menjelaskan persaingan bisnis pos di era digital ini, membuat BUMN di sektor logistik ini melakukan sejumlah inovasi yang memudahkan masyarakat dalam menggunakan jasa Pos Indonesia.

“Kami melihat apa yang paling dibutuhkan pelanggan kekinian sekarang. Akhirnya kita coba meluncurkan produk M-Agenpos, karena sekarang konsumen tidak dibatasi oleh waktu dan tempat, misalnya minta dikirim malam ini juga atau jam berapa pun,” kata Charles.

Ada pun aplikasi M-Agenpos dikembangkan salah satunya untuk layanan online payment, seperti pembayaran berbagai angsuran, antara lain PLN, Telekomunikasi, PDAM, dan pembayaran lainnya seperti tiket pesawat, kereta api, hingga premi asuransi.

Selain itu, M-Agenpos juga mencakup layanan wesel instan bayar, yakni pembayaran wesel instan kepada penerima weselpos, serta yang tidak ketinggalan adalah inti bisnis dari perseroan, yaitu layanan kurir pengiriman surat dan paket
pos oleh agenpos.

Dengan aplikasi ini, masyarakat pengguna layanan Pos tidak harus datang ke gerai kantor pos, namun sebaliknya, Pos Indonesia melalui layanan M-Agenpos akan memberikan pelayanan di lokasi pelanggan berada.

Menurut Charles, pesatnya perkembangan persaingan bisnis pos, menuntut pengelolaan bisnis secara professional yang berorientasi pada kemampuan menciptakan nilai tambah.

Oleh karenanya, diperlukan adanya strategi penjualan bisnis pos untuk memenangkan kompetisi bisnis dengan pesaing. PT Pos Indonesia pun melakukan sejumlah inovasi layanan yang dapat mempermudah masyarakat dalam menggunakan jasa Pos Indonesia.

Adapun inovasi layanan tersebut adalah Contact Center Oranger, M-Agenpos, Agenpos B2B Layanan Kurir, Agenpos B2B Jasa Keuangan, Layanan Kargo Ritel Udara di Agenpos dan Top Up e-Money di Kantorpos. (mdg)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending